TEMPLAT TUGAS AKHIR S1

Download Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Hubungan Penggunaan. Lahan dengan Bentuklahan di Pesisir Kabu...

2 downloads 166 Views 5MB Size
HUBUNGAN PENGGUNAAN LAHAN DENGAN BENTUKLAHAN DI DAERAH PESISIR KABUPATEN CIANJUR

MIFTAHUL JANNAH

DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA* Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Hubungan Penggunaan Lahan dengan Bentuklahan di Pesisir Kabupaten Cianjur adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Maret 2015 Miftahul Jannah NIM A14100012

ABSTRAK MIFTAHUL JANNAH. Hubungan Penggunaan Lahan dengan Bentuklahan di Daerah Pesisir Kabupaten Cianjur. Dibimbing oleh KHURSATUL MUNIBAH dan BOEDI TJAHJONO. Pulau Jawa merupakan daerah yang paling dominan terdapat gunungapi di Indonesia. Banyaknya gunungapi dan sebaran bentuklahan yang berbeda menyebabkan penggunaan lahan yang ada di Pulau Jawa sangat beragam. Penelitian bertujuan untuk melakukan pemetaan penggunaan lahan dari citra IKONOS, pemetaan bentuklahan dari citra SRTM-30, serta hubungan antara bentuklahan dengan penggunaan lahan di daerah pesisir pantai selatan Kabupaten Cianjur. Pembuatan peta bentuklahan dilakukan dengan menggunakan citra SRTM 30 m berdasarkan pada pendekatan morfokronologi, morfografi, morfogenesis dan morfometri. Peta penutupan/penggunaan lahan dibuat dengan memperhatikan beberapa kunci interpretasi yang mendukung dalam melakukan deleniasi on screen. Bentuklahan yang dominan di Kabupaten Cianjur bagian selatan adalah pegunungan vulkanik denudasional tua (16.1 %) yang menyebar di sebelah timur. Dilihat dari berbagai aspek bentuklahan (morfografi, morfometri, dan morfogenesis), penggunaan lahan di Kabupaten Cianjur bagian selatan didominasi oleh hutan, kebun campuran, dan sawah. Hutan mendominasi pada bentuklahan pegunungan dengan lereng agak curam hingga sangat curam hasil proses vulkanik denudasional. Kebun campuran mendominasi pada bentuklahan perbukitan dan lembah, dengan landai hingga agak curam hasil proses denudasional vulkanik dan fluvial. Sawah mendominasi pada bentuklahan dataran dataran dengan lereng datar hingga landai hasil proses marin. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda antara penggunaan lahan sebagai variabel tak bebas dengan aspek bentuklahan (morfometri dan morfogenesis) sebagai variabel bebas, menunjukkan bahwa hubungan antara keduanya secara statistik berpengaruh nyata. Hubungan kedua variabel tersebut memiliki nilai R2 antara 78% sampai 92% yang dominan dipengaruhi oleh aspek morfometri. Kata kunci : bentuklahan, gunungapi, lereng, penggunaan lahan

ABSTRACT MIFTAHUL JANNAH. Relation between Land Uses and Land Forms in Coastal Area Cianjur Regency. Supervised by KHURSATUL MUNIBAH and BOEDI TJAHJONO. Java Island is the most dominant volcano area in Indonesia. Many volcano and different land form disseminate cause the variaty of land uses in Java Island. The aims of this research are to mapping land uses from IKONOS imagery, to mapping land forms from SRTM-30 Imagery, and also relation between land forms and land uses in south coastal Cianjur Regency. The mapping of land forms is done use SRTM 30 imagery based on approach of morphocronology, morphography, morphogenesys, and morphometryc. Land uses map is made with focus to some supporting interpretation keys in on screen deleniation. The most dominant land form in south coastal Cianjur Regency is old denudational volcanic mountain area (16.1%) that disseminate in east area. Seen by some land forms aspect (morphography, morphometryc, and morphogenesys), land uses in south coastal Cianjur Regency is dominated by forest, mix garden, and paddy field. Forest dominate at mountain area land form with rather steep slope until very steep slope from denudational volcanic process. Mix garden dominate at hill and valley area with slight until rather steep slope from vulcanic and fluvial denudational process. Paddy field dominate at plain land form with flat until slight slope from marine process. Based on double regretion analysis result between land uses as no release variabel and land forms aspect (morphometryc and morphogenesys) as release variabel, show that relation between both of them is significant influence according to statistics. The relation of both variabel have R 2 value between 78% until 92% that is dominated influneced by morphometry aspect. Keywords : landform, landuse, slope, volcano

HUBUNGAN PENGGUNAAN LAHAN DENGAN BENTUKLAHAN DI DAERAH PESISIR KABUPATEN CIANJUR

MIFTAHUL JANNAH

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015

Judul Skripsi: Hubungan Penggunaan Lahan dengan Bentuklahan di Daerah Pesisir Kabupaten Cianjur Nama : Miftahul Jannah NIM : A14100012

Disetujui oleh

Dr. Khursatul Munibah, MSc Pembimbing I

Dr. Boedi Tjahjono, MSc Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr. Ir. Baba Barus, MSc Ketua Departemen

Tanggal Lulus:

PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan April 2014 ini ialah bentuklahan dan penggunaan lahan, dengan judul Hubungan Penggunaan Lahan dengan Bentuklahan di Daerah Pesisir Kabupaten Cianjur. Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Dr. Khursatul Munibah, MSc selaku Pembimbing Skripsi Utama dan Dr. Boedi Tjahjono, MSc selaku Pembimbing Skripsi II yang telah memberikan dukungan, perhatian dan masukan bagi penulis dalam kegiatan penelitian dan penulisan skripsi ini. 2. Dr. Baba Barus, MSc selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan bagi penulis dalam penulisan skripsi ini. 3. Keluarga yang saya cintai, ayah, ibu, kakak dan adik yang selalu berada di samping penulis, senantiasa mencurahkan kasih sayangnya, perhatian, motivasi dan mendoakan penulis setiap waktu. 4. Kepada Rizky Septiana Nugraha, SP yang selalu setia menunggu dan membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini hingga selesai. 5. Seluruh sahabat MSL 47 Anam, Andi, Rizki, Rifki, Linda, yang telah memberikan sayang semangat 6. Terima kasih kepada temen-temen seperjuangan di Divisi Penginderaan Jauh dan Informasi Spasial antara lain Karjono, Ardiya, Irfan, Ria, Wahyuning, Rizal, Farik, Sudiarto, Lela, Masyitah, Safira, Ira, bang Dicki, kak Swesti, kak Wida, kak Ian, bang Roma, dan adik kelas terima kasih atas kebersamaan dan dukungan yang telah diberikan. 7. Semua pihak yang telah membantu kegiatan penelitian dan penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Maret 2015 Miftahul Jannah

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN PENDAHULUAN

ix ix ix 1

Latar Belakang

1

Tujuan Penelitian

2

Manfaat Penelitian

2

METODE

2

Waktu dan Tempat

2

Bahan

4

Alat

4

Prosedur Analisis Data

4

HASIL DAN PEMBAHASAN

12

Bentanglahan Kabupaten Cianjur Bagian Selatan

12

Bentuklahan Kabupaten Cianjur Bagian Selatan

12

Sebaran Bentuklahan pada Bentanglahan Pegunungan Selatan

14

Bentanglahan Pegunungan Selatan

14

Kelas Lereng Kabupaten Cianjur Bagian Selatan

17

Penutupan/Penggunaan Lahan Kabupaten Cianjur Bagian Selatan

18

Sebaran Penggunaan Lahan pada Bentuklahan

25

Analisis Hubungan antara Penggunaan Lahan dengan Bentuklahan Menggunakan Regresi Berganda

33

KESIMPULAN DAN SARAN

35

Kesimpulan

35

Saran

35

DAFTAR PUSTAKA

36

RIWAYAT HIDUP

41

DAFTAR TABEL 1

Jumlah dan Luas Kecamatan di Daerah Penelitian

3

2

Data Sekunder Penelitian

4

3

Umur Relatif Geologi

5

4

Sketsa Morfologi Bentanglahan

6

5

Sketsa Gambar Tingkat Torehan Bentuklahan

7

6

Variabel dalam Analisis Regresi Berganda

9

7

Bentuklahan di Kabupaten Cianjur Selatan

13

8

Bentuklahan Vulkanik Denudasional

14

9

Bentuklahan Proses Denudasional Vulkanik

15

10 Bentuklahan Fluvial dan Marine

16

11 Kelas Lereng Kabupaten Cianjur bagian selatan

18

12 Penggunaan Lahan Kabupaten Cianjur Selatan

19

13 Hasil Regresi Bentuklahan

Berganda

antara

Penggunaan

Lahan

dengan

33

DAFTAR GAMBAR 1

Peta Daerah Penelitian (Kabupaten Cianjur Bagian Selatan)

3

2

Diagram Alir Penelitian

3

Sebaran Titik Verifikasi Lapang (Kabupaten Cianjur Bagian Selatan)

1

4

Sketsa Peta Fisiografi Sebagian Jawa Barat (Modifikasi dari van Bemmelen 1949)

12

5

Peta Bentuklahan Kabupaten Cianjur Bagian Selatan

14

6

Peta Bentuklahan Vulkanik Denudasional

15

7

Peta Bentuklahan Denudasional Vulkanik

16

8

Peta Bentuklahan Fluvial dan Marin

17

9

Peta Lereng Kabupaten Cianjur Bagian Selatan

18

10

10 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Cianjur Bagian Selatan

20

11 Kenampakan Belukar di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b)

20

12 Kenampakan Hutan di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b)

21

13 Kenampakan Kebun Campuran di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b)

21

14 Kenampakan Lahan Terbuka di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b)

22

15 Kenampakan Pasir di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b)

22

16 Kenampakan Pemukiman di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b)

23

17 Kenampakan Perkebunan di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b)

23

18 Kenampakan Sawah di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b)

24

19 Kenampakan Tegalan di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b)

24

20 Kenampakan Padi Huma pada Daerah Penelitian

25

21 Sebaran Penggunaan Lahan pada Morfografi Dataran

26

22 Sebaran Penggunaan Lahan Morfografi Lembah

26

23 Sebaran Penggunaan Lahan pada Morfografi Perbukitan

27

24 Sebaran Penggunaan Lahan pada Morfografi Pegunungan

27

25 Sebaran Penggunaan Lahan pada Bentuklahan Denudasional Vulkanik

28

26 Sebaran Penggunaan Lahan pada Tingkat Torehan Bentuklahan Denudasional Vulkanik

29

27 Sebaran Penggunaan Denudasional

29

Lahan

pada

Bentuklahan

Vulkanik

28 Sebaran Penggunaan Lahan pada Tingkat Torehan Bentuklahan Vulkanik Denudasional

30

29 Sebaran Penggunaan Lahan pada Bentuklahan Fluvial

31

30 Sebaran Penggunaan Lahan pada Bentuklahan Marin

31

31 Sebaran Penggunaan Lahan menurut Morfometri Bentuklahan

32

DAFTAR LAMPIRAN 1

Tahapan Pembuatan Peta Kelas Lereng dengan Menggunakan Software ArcGIS 9.3

37

2

Tahapan Pembuatan Peta Kontur dengan Menggunakan Software Global Mapper 13

38

3

Hasil Analisis Regresi Berganda Menggunakan Statistica 7

39

4

Ilustrasi Perhitungan Lereng

41

PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis dengan curah hujan tinggi dan banyak memiliki gunungapi. Penyebaran gunungapi di Indonesia yang paling dominan terdapat di Pulau Jawa. Hal ini dikarenakan Pulau Jawa merupakan daerah di dekat terjadinya proses tumbukan dua lempeng tektonik, yaitu lempeng IndoAustralia dengan lempeng Eurasia. Di wilayah ini lempeng Indo-Australia menunjam di bawah lempeng Eurasia. Penunjaman ini masih berlangsung sehingga menyebabkan munculnya gunung-gunung api di Pulau Jawa. Dilihat dari sebaran bentanglahan (landscape) Pulau Jawa memiliki bentuklahan (landform) yang sangat bervariasi. Menurut Van Bemmelen (1949) Bagian utara Pulau Jawa didominasi oleh bentuklahan alluvial yang disebabkan oleh adanya proses fluvial dan marin melalui sungai maupun laut. Pegunungan vulkanik dan pegunungan struktural merupakan bentanglahan yang menyebar pada bagian tengah hingga selatan Pulau Jawa. Aktifitas geologi Jawa Barat menghasilkan beberapa zona fisiografi yang dapat dibedakan berdasarkan morfologi, petrologi dan struktur geologinya. Van Bemmelen (1949), membagi daerah Jawa Barat ke dalam 4 besar zona fisiografi, masing-masing dari utara ke selatan adalah Zona Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung, dan Zona Pegunungan Selatan. Daerah penelitian berada pada zona pegunungan selatan Banyaknya perbedaan bentuklahan dari berbagai morfologi dan morfogenesis menyebabkan penggunaan lahan yang ada di Pulau Jawa juga beragam. Di bagian utara Pulau Jawa umumnya memiliki topografi yang lebih datar sebagai konsekuensi hasil dari proses fluvial. Oleh sebab itu bentuk penggunaan lahan didominasi oleh sawah, sedangkan di bagian tengah umumnya memiliki topografi yang berbukit sebagai hasil proses lipatan maupun pengangkatan adapun penggunaan lahan lebih didominasi oleh hutan. Di bagian selatan Pulau Jawa didominasi oleh tanaman perkebunan, dan hanya sebagian kecil yang digunakan sebagai lahan pertanian, terutama sawah (Van Bemmelen 1949). Kabupaten Cianjur merupakan wilayah yang dekat dengan gunungapi aktif, yaitu Gunungapi Gede-Pangrango. Hal ini terlihat dengan adanya rangkaian bentuklahan vulkanik muda di bagian utara namun menjadi bervariasi menuju ke selatan. Keragaman bentuklahan di suatu daerah terjadi akibat keragaman proses geomorfik yang berlangsung di atas permukaan bumi. bahan induk wilayah, dan iklim. Karakteristik fisik bentuklahan akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan diatasnya, sehingga keragaman bentuklahan yang ada di suatu daerah juga akan memperkaya jenis penggunaan lahannya. Kabupaten Cianjur bagian selatan memiliki berbagai bentuklahan seperti pegunungan, perbukitan, dataran, dan lembah, yang dibentuk dari berbagai proses seperti proses vulkanik, denudasional vulkanik, fluvial, dan marin. Oleh karena itu mempelajari hubungan antara bentuklahan yang beraneka ragam dengan penggunaan lahan di atasnya akan menarik dari sisi kajian bentuklahan atau sumberdaya lahan serta dinamika kehidupan manusia disekitarnya.

2 Penginderaan jauh adalah teknologi yang kini terus berkembang dan banyak dimanfaatkan untuk kajian-kajian atau pemetaan-pemetaan objek di permukaan bumi, seperti bentuklahan (landform), penutupan lahan (land cover) hingga studi terhadap proses-proses yang terjadi di atas permukaan bumi, (Hughes, 2001; Tagore, 2012). Pemanfaatan data penginderaan jauh di Indonesia merupakan sesuatu hal yang penting, mengingat wilayah negara Indonesia sangat luas dan merupakan negara kepulauan. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk melakukan (1) pemetaan bentuklahan dengan menggunakan citra SRTM-30m, (2) pemetaan penggunaan lahan dengan menggunakan citra IKONOS, (2) serta (3) melakukan analisis hubungan antara penggunaan lahan dengan bentuklahan di Kabupaten Cianjur bagian selatan. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini diharapkan berguna untuk mengetahui karakteristik bentanglahan di Kabupaten Cianjur bagian selatan melalui penyebaran bentuklahan dan penggunaan lahan sehingga dapat membantu memperkaya informasi-informasi sumberdaya lahan Kabupaten Cianjur, terutama adanya keterkaitan antara kondisi penggunaan lahan dengan bentuklahan yang ada di daerah Kabupaten Cianjur bagian selatan.

METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga November 2014 yang berlokasi di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis Kabupaten Cianjur terletak di antara 6°21’ - 7°25’ LS dan 106°42’ - 107°25’ BT. Kabupaten Cianjur terdiri dari 32 kecamatan dengan luas total wilayah sebesar 361.944 ha. Menurut RT/RW wilayah Kabupaten Cianjur terbagi dalam 3 bagian, yaitu wilayah Cianjur bagian utara, wilayah Cianjur bagian tengah, dan wilayah Cianjur bagian selatan. Secara spasial Kabupaten Cianjur berbatasan dengan kabupatenkabupaten lain, yaitu: Sebelah Utara : Kabupaten Bogor, Purwakarta, dan Karawang Sebelah Barat : Kabupaten Sukabumi Sebelah Selatan : Laut Selatan Sebelah Timur : Kabupaten Bandung Secara klimatologi, Kabupaten Cianjur mempunyai iklim tropis dengan rata-rata curah hujan 1.800 mm/tahun dan jumlah hari hujan rata-rata 84 hari/tahun (Badan Pusat Statistik 2013). Lokasi penelitian yang dipilih berada di wilayah Kabupaten Cianjur bagian selatan yang mempunyai luas sebesar 152.529 ha (Gambar 1) yang terdiri dari 8 kecamatan (Tabel 1). Analisis data dilakukan di Divisi Penginderaan Jauh dan Informasi Spasial, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian di lapang dilakukan untuk

3 verifikasi hasil interpretasi data citra dan wawancara dengan masyarakat setempat untuk memperoleh informasi yang tidak dapat diperoleh dari citra. Secara geografis wilayah Cianjur Selatan merupakan suatu daerah yang memiliki dataran rendah dan bukit - bukit kecil yang diselingi oleh pegunungan pegunungan yang melebar kearah Samudra Hindia. Di antara bukit-bukit dan pegunungan tersebut banyak ditemukan penggunaan lahan persawahan dan ladang huma. Adapun dataran terendah di selatan Cianjur mempunyai ketinggian sekitar 0 m di atas permukaan laut (dpl), yaitu merupakan wilayah dataran pantai.

Gambar 1 Peta Daerah Penelitian (Kabupaten Cianjur Bagian Selatan) Tabel 1. Jumlah dan Luas Kecamatan di Daerah Penelitian No. 1 2 3 4 5 6 7 8

Kecamatan Agrabinta Sindangbarang Cidaun Naringgul Cibinong Cikadu Leles Cijati Jumlah

Luas (ha) 19.720 16.369 29.856 28.024 23.471 18.820 11.444 4.812 152.529

Persentase (%) 12.92 10.73 19.57 18.37 15.38 12.33 7.50 3.15 100.00

4 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Kementerian Pertanian berupa data lahan sawah, serta data lain yang terdiri dari peta dan citra seperti yang disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Data Sekunder Penelitian No 1. 2. 3. 4.

Nama Bahan

Spesifikasi Skala

Citra Ikonos 2010 Kabupaten Cianjur SRTM Resolusi 30 m Kabupaten Cianjur Peta Batas Administrasi Kabupaten Cianjur 2010 dari Peta RT/RW Kabupeten Cianjur Peta Geologi Kabupaten Cianjur dan Sekitarnya

1 : 25.000 1 : 100.000

Alat Alat yang digunakan meliputi seperangkat komputer dengan software yaitu ArcGIS 9.3, Global Mapper 13, Microsoft Office Words 2007, Microsoft Office Visio 2007 dan Microsoft Office Excel 2007. Adapun alat bantu yang digunakan untuk verifikasi lapang antara lain adalah GPS (Global Positioning System), klinometer, dan kamera digital. Prosedur Analisis Data Penelitian ini dilakukan melalui empat tahapan, yang diuraikan sebagai berikut. 1. Tahap Persiapan Tahap persiapan merupakan tahap pengumpulan literatur dan data sekunder, sedangkan jenis data yang diperlukan seperti disajikan dalam Tabel 2. 2. Tahap Pengolahan Data Tahap pengolahan meliputi interpretasi data dari citra SRTM-30 dan IKONOS. Pendekatan yang dilakukan untuk pembuatan peta bentuklahan adalah berdasarkan pada aspek-aspek morfologi, morfogenesis dan morfokronologi. Data yang digunakan adalah citra SRTM-30 dengan bantuan peta kontur dan peta geologi. Adapun pendekatan yang digunakan untuk interpretasi penutupan/ penggunaan lahan adalah melalui kunci interpretasi yang mendukung untuk melakukan deleniasi on screen yaitu, rona, warna, tekstur, pola, bentuk, ukuran, bayangan, situs, asosiasi (Sutanto 1986), Berikut ini rincian tahapan pengolahan data. a. Pembuatan Peta Bentuklahan Seperti disebutkan diatas pembuatan peta bentuklahan dilakukan dengan menggunakan citra SRTM 30 m dan bantuan peta kontur dan peta geologi, dimana garis-garis kontur yang digunakan mempunyai interval kontur (IC) = 12,5 m. Data kontur diturunkan dari data SRTM dengan

5 menggunakan software Global Mapper 13. Tahap-tahap yang dilakukan disajikan pada Lampiran 1. Citra SRTM 30 m dibuat DEM dengan warna grayscale menggunakan software yang sama. Kedua data tersebut (kontur dan DEM) dan peta geologi digunakan untuk interpretasi bentuklahan secara visual menggunakan software ArcGIS 9.3. Peta kontur membantu untuk melihat relief permukaan bumi dan menentukan tingkatan torehan yang terjadi pada daerah penelitian. Tingkat torehan ditentukan berdasarkan jarak torehan dan kemiringan lereng. Jarak dapat dihitung dari antar lembah satu ke lembah lain. Kemiringan lereng dapat dilihat dari tingkat kerapatan kontur, sedangkan peta geologi banyak membantu untuk mengetahui jenis batuan penyusun bentuklahan, menginterpretasi morfogenesis bentuklahan, dan mengetahui umur dari batuan tersebut. Penentuan umur batuan pada peta geologi berdasarkan skala waktu geologi relatif. Pembagian umur di daerah penelitian dibagi menjadi 3 (Tabel 3), dari yang paling muda hingga ke tua, yaitu (1) Holosen, (2) Plistosen, dan (3) Miosen. Tabel 3. Umur Relatif Geologi

6 Kenampakan morfologi pada daerah penelitian ini terbagi atas empat bentuk morfografi yaitu pegunungan, perbukitan, dataran, dan pelembahan. Kenampakan tersebut disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Sketsa Morfologi Bentanglahan Bentang lahan

Sketsa Morfologi

Sketsa Kontur

Pegunungan Perbedaan tinggi pada relief ≥ 500m

Perbukitan Perbedaan tinggi pada relief ≤ 500m

Lembah

Dataran

Kenampakan tingkat torehan pada bentuklahan di daerah penelitian terbagi menjadi 3 tingkat torehan, yaitu tertoreh ringan, tertoreh sedang, dan tertoreh berat. Sketsa kenampakan pada setiap torehan disajikan pada Tabel 5.

7 Tabel 5. Sketsa Gambar Tingkat Torehan Bentuklahan Tingkat Torehan

Sketsa Gambar

Tertoreh Ringan

Tertoreh Sedang

Tertoreh Berat

b. Pembuatan Peta Kelas Lereng Peta kelas lereng di peroleh melalui data SRTM 30 m. Pengkelasan lereng mengacu pada sistem klasifikasi PPT 1986 yang membagi 5 kelas kemiringan lereng, yaitu lereng 0-8%, 8-15%, 15-25%, 25-45% dan > 45%. Peta kelas lereng dibuat melalui software ArcGIS 9.3 dengan tahap-tahap seperti yang disajikan pada Lampiran 2 dan Ilustrasi perhitungan lereng disajikan pada Lampiran 4. c. Pembuatan Peta Penutupan/Penggunaan Lahan Peta penutupan/penggunaan lahan dibuat melalui analisis digital on screen Citra IKONOS dengan software ArcGIS 9.3. Penutupan/ penggunaan lahan dideliniasi secara visual berdasarkan 7 unsur interpretasi citra. Menurut Sutanto (1986), ketujuh unsur interpretasi tersebut adalah sebagai berikut. 1. Rona dan warna : Rona (tone/color tone/ grey tone) ialah tingkat kegelapan pada citra. Warna ialah wujud yang tampak oleh mata dengan menggunakan spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak. 2. Bentuk : Bentuk merupakan variabel kualitatif yang memeriksa konfigurasi atau kerangka suatu obyek. 3. Ukuran : Ukuran ialah atribut obyek yang antara lain berupa jarak, luas, tinggi,lereng, dan volume. 4. Tekstur : Tekstur ialah frekuensi perubahan rona pada citra (Lillesand dan Kiefer, 1979) atau pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara individual (Estes dan Simonett, 1975).

8 5. Pola : Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak obyek bentukan manusia dan bagi beberapa obyek alamiah. 6. Bayangan : Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau obyek yang berada di daerah gelap. 7. Asosiasi : Asosiasi dapat diartikan sebagai keterkaitan antar obyek yang satu dengan obyek yang lain. 3. Tahap Verifikasi Lapang Verifikasi lapang atau pengecekan lapang bertujuan untuk melakukan validasi hasil interpretasi visual citra dengan kondisi aktual yang ada di lapangan dan juga untuk menambah informasi lapang yang tidak dapat dideteksi dari citra. Informasi tersebut seperti tingkat produksi padi, indek pertanaman padi pertahun, kebiasaan masyarakat dalam penggunaan lahan, sehingga hasil interpretasi visual citra memiliki nilai yang lebih baik. Alat bantu yang digunakan untuk kerja lapang antara lain GPS, klinometer dan kamera digital. Kegiatan verifikasi lapang meliputi pengecekan penggunaan lahan dan bentuklahan, serta mengidentifikasi kemiringan lereng. Penentuan titik lapang dilakukan berdasarkan sebaran bentuklahan dan penggunaan lahan. Metode penentuan dan pengambilan sampel bersifat acak namun merata pada seluruh daerah penelitian. Sebaran titik verifikasi lapang disajikan pada Gambar 3. 4. Tahap Analisis Regresi Berganda Analisis regresi adalah teknik statistika yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (independent variable) dan variabel tidak bebas (dependent variable) (Ghani, dan Ahmad. 2010). Dalam penelitian ini digunakan analisis regresi berganda (Multiple Regression) untuk menganalisis hubungan antara variable tak bebas (Y) dengan beberapa variabel bebas (X). Metode ini dipilih untuk melihat keterkaitan antara bentuklahan dengan penggunaan lahan. Variabel bebas ditentukan berdasarkan pada tingkat kesesuaian dan tingkat hubungan yang paling erat dengan variabel tak bebas. Variabel tak bebas yang digunakan merupakan luasan penggunaan lahan pada setiap desa yang diperoleh dari hasil pivot pada Microsoft Office. Jenis variabel bebas dan variabel tak bebas yang digunakan disajikan pada Tabel 6. Secara matematis bentuk umum dari analisis regresi berganda adalah sebagai berikut (Hosmer, dan Lemeshow. 1989). Keterangan: Yi βo β1....... βp Xij...Xpi ε i p

𝑌𝑖 = 𝛽𝑜 + 𝛽𝑖 𝑋1𝑖 + 𝛽𝑖 𝑋2𝑖 + ⋯ 𝛽𝑝 𝑋𝑝𝑖 + εi : Peubah tidak bebas = luas setiap penggunaan lahan : Konstanta / Intercept : Koefisien arah garis regresi : Peubah bebas = luas kemiringan lereng (morfometri) pada setiap penggunaan lahan : Error/Galat/komponen stokastik :Penggunaan Lahan :Kemiringan lereng, Bentuklahan

9 Tabel 6. Variabel dalam Analisis Regresi Berganda Variabel Tak Bebas (Y) Penggunaan Lahan  Hutan

Variabel Bebas (X) Lereng Bentuklahan 15-25% Pegunungan 25-45% VD3 DV3  Kebun Campuran 8-15% Perbukitan DV2 25-45% DV3 VD2  Lahan Terbuka Pesisir >45% M1 DV2  Permukiman 0-8% Perbukitan 8-15% Dataran 15-25% M1  Perkebunan >45% Perbukitan 25-45% DV2 DV3 VD3  Sawah 0-8% Dataran 8-15% F0 15-25% VD3 M1  Tegalan 0-8% Perbukitan 15-25% DV1 DV3 Keterangan : Vulkanik Denudasional (VD), Denudasional Vulkanik (DV), Marin (M), Fluvial (F), Tidak Tertoreh (0), Tertoreh Ringan (1), Tertoreh Sedang (2), dan Tertoreh Berat (3)

Dari analisis regresi tersebut diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) dan nilai beta (β) dari setiap variabel bebas. Koefisien determinasi adalah proporsi keragaman atau variansi total nilai-nlai peubah Y yang dapat dijelaskan oleh nilai peubah X melalui hubungan linear (Draper, dan Smith 1992). Besarnya nilai koefisien determinasi (R2) dipengaruhi oleh nilai variabel bebas yang digunakan, sehingga dapat mempengaruhi variabel tak bebas, maka nilai koefisien determinasi (R2) besar atau mendekati 1. Adapun nilai beta (β) menunjukkan masing-masing variabel bebas yang paling mempengaruhi variabel tak bebas (Hosmer, dan Lemeshow. 1989). Tahapan yang dilakukan dalam penelitian secara diagramatis disajikan dalam bentuk diagram alir agar mudah dipahami (Gambar 2).

10 DIAGRAM ALIR Pengumpulan data dan eksplorasi perangkat lunak

Citra IKONOS

Peta Geologi DEM

Interpretasi Penggunaan Lahan

Morfologi Morfokronologi Morfogenesis

Interpretasi bentuklahan Peta Kontur

Verifikasi Lapang Pemetaan Penggunaan Lahan

Overlay

Pemetaan Bentuklahan

Hubungan Penggunaan Lahan dan Bentuklahan dengan pendekatan Regresi Berganda

Gambar 2 Diagram Alir Penelitian

SRTM

Gambar 3 Sebaran Titik Verifikasi Lapang (Kabupaten Cianjur Bagian Selatan)

11

HASIL DAN PEMBAHASAN Bentanglahan Kabupaten Cianjur Bagian Selatan Bentanglahan ialah bagian ruang permukaan bumi yang terdiri atas sistemsistem yang dibentuk oleh interaksi dan interdependensi antara bentuklahan, batuan, bahan pelapukan batuan, tanah, air, udara, tetumbuhan, hewan, laut tepi pantai, energi dan manusia dengan segala aktifitasnya, yang keseluruhan membentuk satu kesatuan (Surastopo 1982). Bentanglahan Kabupaten Cianjur bagian selatan berada pada pegunungan struktural yang memanjang dari timur ke barat Pulau Jawa. Bentanglahan ini memiliki topografi relatif terjal dikarenakan terdapat pegunungan vulkanik tua dan yang telah mengalami proses denudasi lanjut. Di daerah penelitian terdapat 8 formasi geologis, yaitu formasi-formasi Benteng, Beser, Bojonglopang, Cimandiri, Jampang, Jatiluhur, Koloberes, Nyalindung (Peta Geologi Kabupaten Cianjur).

Lokasi Penelitian

Gambar 4 Sketsa Peta Fisiografi Sebagian Jawa Barat (Modifikasi dari van Bemmelen 1949)

Bentuklahan Kabupaten Cianjur Bagian Selatan Dari hasil interpretasi citra dan pengecekan lapang didapatkan bahwa bentuklahan pada daerah penelitian dapat dipilahkan menjadi 19 jenis seperti yang disajikan pada Tabel 7, sedangkan persebaran spasialnya disajikan pada Gambar 5.

13 Tabel 7. Bentuklahan di Kabupaten Cianjur Selatan Kode DV1-d1-2 DV1-d2-1 DV1-d2-2 DV1-p2-2 DV1-p2-3 DV1-p3-2 DV3-p3-2 DV5-p2-2 F1-l3-0 F3-d1-0 F4-d1-0 F4-l1-0 F4-l3-0 F5-l3-0 M4-d1-1 VD1-p3-3 VD2-g3-2 VD6-g3-2 VD6-g3-3 Total

Nama Bentuklahan Dataran denudasional-vulkanik berbatuan intermediet piroklastik tertoreh sedang berumur holosen Dataran denudasional-vulkanik berbatuan intermediet piroklastik tertoreh ringan berumur plistosen Dataran denudasional-vulkanik berbatuan intermediet piroklastik tertoreh sedang berumur plistosen Perbukitan denudasional-vulkanik berbatuan intermediet piroklastik tertoreh sedang berumur plistosen Perbukitan denudasional-vulkanik berbatuan intermediet piroklastik tertoreh berat berumur plistosen Perbukitan denudasional-vulkanik berbatuan intermediet piroklastik tertoreh sedang berumur miosen Perbukitan denudasional-vulkanik berbatuan Sediment Clastic fine tertoreh sedang berumur miosen Perbukitan denudasional-vulkanik berbatuan Sediment: Clastic: medium: sands tertoreh sedang berumur Plistosen Lembah aluvial berbatuan Ekstruksi: menengah: Piroklastik berumur miosen Dataran aluvial berbatuan Sediment: Clastic: Fine berumur holosen Dataran aluvial berbatuan Sediment: Clastic: alluvium berumur holosen Lembah aluvial berbatuan Sediment: Clastic: alluvium berumur holosen Lembah aluvial berbatuan Sediment: Clastic: alluvium berumur miosen Lembah aluvial berbatuan Sediment: Clastic: medium: sands berumur miosen Dataran marin berbatuan Sediment: Clastic: alluvium tertoreh ringan berumur holosen Perbukitan vulkanik-denudasional berbatuan intermediet piroklastik tertoreh berat berumur miosen Pegunungan vulkanik-denudasional berbatuan Ekstruksi: intermediet: lava tertoreh sedang berumur miosen Pegunungan vulkanik-denudasional berbatuan tuff dan breksi tertoreh sedang berumur miosen Pegunungan vulkanik-denudasional berbatuan tuff dan breksi tertoreh berat berumur miosen

Luas (ha) Persentase (%) 1.801,6

1.2

5.551,8

3.6

12.367,9

8.1

5.667,4

3.7

4.014,8

2.6

10.109,2

6.6

11.819,4

7.7

823,9

0.5

5.671,5

3.7

632,2

0.4

8.212,0

5.4

12.667,2

8.3

502,7

0.3

3.309,2

2.2

8.785,8

5.8

22.988,4

15.1

4.975,7

3.3

8.081,6

5.3

24.546,8

16.1

152.529,01

100

Keterangan : Denudasional Vulkanik (DV), Vukanik Denudasional (VD), Marin (M), Fluvial (F), dataran (d), lembah (l), perbukitan (p), pegunungan (g), Holosen (1), Plistosen (2), Miosen (3), tidak tertoreh (0), tertoreh ringan (1), tertoreh sedang (2), tertoreh berat (3)

Berdasarkan Tabel 7 tampak bahwa daerah penelitian didominasi oleh bentuklahan asal proses vulkanik denudasional, yaitu seluas 60.592,8 ha (39.8%). Bentulahan tersebut terutama berasal dari Gunungapi Dadap yang saat ini berada pada fase dormant (tidur), sehingga hanya proses denudasi dan deposisi dari agen geomorfik air yang berlangsung di daerah tersebut. Pada citra SRTM-30 proses denudasi ditandai dengan tekstur relief yang kasar diakibatkan oleh torehantorehan (dissection) hasil proses erosi, sedangkan proses deposisi ditandai dengan tekstur relief yang halus seperti yang tersebar di daerah pesisir sebagai hasil dari proses fluvial dan marin.

14

Gambar 5 Peta Bentuklahan Kabupaten Cianjur Bagian Selatan Sebaran Bentuklahan pada Bentanglahan Pegunungan Selatan Bentanglahan Pegunungan Selatan memiliki banyak variasi bentuklahan antara lain adalah pegunungan, perbukitan, dataran, dan lembah yang dihasilkan oleh berbagai proses, seperti proses vulkanik denudasional, denudasional vulkanik, fluvial, dan marin. Sebaran bentuklahan-bentuklahan tersebut diuraikan sebagai berikut. Bentanglahan pegunungan selatan yang berasal dari proses vulkanik denudasional terdiri dari 4 bentuklahan dan berasal dari Gunungapi Dadap (Tabel 8). Gunungapi ini berada di sebelah timur laut daerah penelitian. Gunungapi Dadap adalah gunungapi tua yang telah lama tidak melakukan kegiatan vulkanik, namun morfologi dari gunungapi tersebut masih dapat terlihat dengan sangat jelas yang berbentuk kerucut. Tabel 8. Bentuklahan Vulkanik Denudasional Kode

VD2-g3-2 VD6-g3-2 VD6-g3-3 VD1-p3-3 Total Total Wilayah

Nama Bentuklahan

Pegunungan vulkanik-denudasional berbatuan ekstrusi: intermediet: lava tertoreh sedang berumur miosen Pegunungan vulkanik-denudasional berbatuan tuff dan breksi tertoreh sedang berumur miosen Pegunungan vulkanik-denudasional berbatuan tuff dan breksi tertoreh berat berumur miosen Perbukitan vulkanik-denudasional berbatuan intermediet piroklastik tertoreh berat berumur miosen

Luas (ha)

Persen (%)

4.976,0

8.2

8.083,5

13.3

24.546,8

40.5

22.988,4

37.9

60.594,5

100.0

152.429,0

39.7

15 Keempat bentuklahan tersebut memiliki lereng dominan curam hingga sangat curam. Bentanglahan didominasi oleh pegunungan vulkanik denudasional berbatuan tuff dan breksi tertoreh berat berumur miosen (VD6-g3-3) yaitu seluas 24.546,8 ha (40.5%). Adapun perbukitan vulkanik-denudasional berbatuan intermediet piroklastik tertoreh berat berumur miosen (VD1-P3-3) mempunyai luas 22.988,4 ha (37.9%) (Tabel 8). Dilihat dari citra SRTM 30 bentuklahanbentuklahan tersebut tampak terkikis sedang hingga berat (Gambar 6).

Gambar 6 Peta Bentuklahan Vulkanik Denudasional Bentanglahan pegunungan selatan yang berasal dari proses denudasional vulkanik dapat dibagi menjadi 8 jenis bentuklahan seperti disajikan pada Tabel 9. Tabel 9. Bentuklahan Proses Denudasional Vulkanik Kode DV1-d2-1 DV1-d2-2 DV1-d1-2 DV1-p2-2 DV1-p2-3 DV1-p3-2 DV3-p3-2 DV5-p2-2 Total Total Wilayah

Nama Bentuklahan Dataran denudasional-vulkanik berbatuan intermediet piroklastik tertoreh ringan berumur plistosen Dataran denudasional-vulkanik berbatuan intermediet piroklastik tertoreh sedang berumur plistosen Dataran denudasional-vulkanik berbatuan intermediet piroklastik tertoreh sedang berumur holosen Perbukitan denudasional-vulkanik berbatuan intermediet piroklastik tertoreh sedang berumur plistosen Perbukitan denudasional-vulkanik berbatuan intermediet piroklastik tertoreh berat berumur plistosen Perbukitan denudasional-vulkanik berbatuan intermediet piroklastik tertoreh sedang berumur miosen Perbukitan denudasional-vulkanik berbatuan sediment: clastic: fine: tertoreh sedang berumur miosen Perbukitan denudasional-vulkanik berbatuan sediment: clastic: medium: sands tertoreh sedang berumur plistosen

Luas (ha)

Persen (%)

5.551,7

10.6

12.367,8

23.7

1.801,5

3.4

5.667,7

10.8

4.014,8

7.6

10.109,5

19.3

11.819,2

22.6

823,8

01.5

52.156 152.529.01

100 34.1

16 Bentuklahan-bentuklahan denudasional vulkanik tersebut terdiri dari perbukitan-perbukitan kecil dan dataran dengan tingkat torehan ringan hingga berat dan mempunyai kemiringan lereng antara 8-15% hingga 15-25% (Tabel 9). Bentuklahan hasil proses denudasional vulkanik tampak didominasi oleh tiga bentuklahan yaitu DV1-d2-2 seluas 12.367,8 ha (23.7%), DV3-p3-2 seluas 11.819,2 ha (22.6%) dan DV1-p3-2 seluas 10.109,5 ha (19.3%). Persebaran spasial bentuklahan denudasinal vulkanik dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Peta Bentuklahan Denudasional Vulkanik Bentanglahan pegunungan selatan yang berasal dari proses fluvial dan marin memiliki banyak variasi berupa bentuklahan-bentuklahan dataran dan lembah. Bentuklahan yang berasal dari proses fluvial dan marin dapat dibedakan menjadi 7 bentuklahan dengan total luasan 39.781,9 ha. Masing-masing luasan bentuklahan-bentuklahan fluvial dan marin tersebut disajikan pada Tabel 10, adapun persebaran spasialnya disajikan pada Gambar 8. Tabel 10. Bentuklahan Fluvial dan Marine Kode F1-l3-0 F3-d1-0 F4-d1-0 F4-l1-0 F4-l3-0 F5-l3-0 M4-d1-1 Total Total Wilayah

Nama Bentuklahan Lembah aluvial berbatuan intermediet piroklastik berumur miosen Dataran aluvial berbatuan sediment: clastic: fine berumur holosen Dataran aluvial berbatuan sediment: clastic: alluvium berumur holosen Lembah aluvial berbatuan sediment: clastic: alluvium berumur holosen Lembah aluvial berbatuan sediment: clastic: alluvium berumur miosen Lembah aluvial berbatuan sediment: clastic: medium: sands berumur miosen Dataran marin berbatuan sediment: clastic: alluvium tertoreh ringan berumur holosen

Luas (ha) 5.672,2 632,3

Persen (%) 14.2 1.5

8.212,1

20.6

12.667,2

31.8

502,6

1.2

3.309,7

8.3

8.785,8

22

39.781,9

100

152.529.0

26.2

17 Dari Gambar 8 terlihat bahwa bentuklahan dataran maupun lembah alluvial tidak lagi mengalami torehan. Hal ini disebabkan bentuklahan-bentuklahan ini dihasilkan oleh proses deposisional. Proses tersebut menghasilkan bentuklahanbentuklahan dataran aluvial (Fda) yang tersebar diberbagai tempat. Akibat tingginya proses deposisi pada lembah maka bentuk-bentuk tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan pertanian. Lembah-lembah ini dapat disebut sebagai lembah terisi (infilled valley). Dari Tabel 10 terlihat bahwa bentuklahan asal proses fluvial dan marin lebih didominasi oleh bentuklahan F4-l1-0 yaitu seluas 12.667,2 ha (31.8%) dan F4-d1-0 seluas 8.212,1 ha (20.6%). Dataran marin pada daerah penelitian merupakan hasil dari proses yang bersifat konstruktif (pengendapan) atau destruksif (abrasi) yang disebakan oleh pasang surut air laut. Pada bentuklahan ini banyak digunakan sebagai kebun campuran dan sawah.

Gambar 8 Peta Bentuklahan Fluvial dan Marin Kelas Lereng Kabupaten Cianjur Bagian Selatan Menurut Thornbury (1969), satuan bentanglahan yang terkecil adalah lereng. Lereng adalah suatu permukaan tanah yang miring dan membentuk sudut tertentu terhadap bidang horisontal (Das 1985). Daerah penelitian memiliki kelas lereng bervariasi mulai lereng landai hingga sangat curam. Pada daerah tersebut morfologi dominan yang tampak di lapangan adalah Gunungapi Dadap berumur Tersier (Miosen) yang sudah tidak ada aktivitas vulkanik. Hasil klasifikasi dan sebaran lereng pada daerah penelitian disajikan pada Tabel 11 dan Gambar 9 berikut.

18 Tabel 11. Kelas Lereng Kabupaten Cianjur bagian selatan Kelas Lereng

Luas (ha)

Persentase (%)

0-8% 8-15% 15-25% 25-45% >45% Total

18.501,73 33.853,67 30.760,48 31.758,94 37.654,21 152.529,01

12.13 22.19 20.17 20.82 24.69 100

Dari Tabel 11 terlihat bahwa kemiringan lereng di Kabupaten Cianjur bagian selatan cukup bervariasi, dimana kelas lereng 8-15%, 15-25%, 25-45% dan >45%, memiliki luasan yang paling dominan dan luasannya berkisar antara 20%24% dari luasan daerah penelitian. Adapun luasan paling kecil adalah kelas kemiringan lereng 0-8% dengan luasan hanya 18.501,73ha (12.13%).

0-8%

Gambar 9 Peta Lereng Kabupaten Cianjur Bagian Selatan Penutupan/Penggunaan Lahan Kabupaten Cianjur Bagian Selatan Definisi mengenai penggunaan lahan (land use) dan penutupan lahan (land cover) pada hakekatnya berbeda walaupun sama-sama menggambarkan keadaan fisik permukaan bumi. Lillesand dan Kiefer (1994) mendefinisikan penggunaan lahan berhubungan dengan kegiatan manusia pada suatu bidang lahan, sedangkan penutupan lahan lebih merupakan perwujudan fisik obyek-obyek yang menutupi lahan tanpa mempersoalkan kegiatan manusia terhadap obyek-obyek tersebut. Sebagai contoh adalah penggunaan lahan permukiman dapat terdiri atas tutupan lahan berupa rumah-rumah, rerumputan, dan pepohonan.

19 Penutupan/penggunaan lahan di Kabupaten Cianjur bagian selatan dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi 9 jenis, yaitu hutan, kebun campuran, lahan terbuka pesisir, belukar, lahan terbuka dataran, permukiman, perkebunan, sawah, dan tegalan. Luasan dari masing-masing disajikan pada Tabel 12 dan persebaran spasialnya disajikan pada Gambar 10. Tabel 12. Penggunaan Lahan Kabupaten Cianjur Bagian Selatan Penggunaan Lahan Semak Belukar dan Rumput Hutan Kebun Campuran Lahan Terbuka Dataran Lahan Terbuka Pesisir Permukiman Perkebunan Sawah Tegalan

Luas (ha) 17031.49 44233.65 37993.52 7827.86 1498.84 5341.59 5223.78 23286.80 10091.49

Persentase (%) 11.17 29.00 24.91 5.13 0.98 3.50 3.42 15.27 6.62

Total

152529.02

100

Dari Tabel 12 tampak bahwa penutupan/penggunaan lahan di daerah penelitian yang cukup dominan adalah hutan dan kebun campuran dengan luasan berturut-turut sebesar 44.233,6 ha (29%), dan 37.993,5 ha (24,91%). Adapun yang memiliki luasan paling kecil adalah lahan terbuka pesisir, yaitu 1498.84 ha (0.98%). Penutupan/penggunaan lahan seperti hutan, dan kebun campuran. Secara administratif persebarannya banyak terdapat di Kecamatan Cidaun, Naringgul, Cikadu, dan Cibinong. Adapun lahan terbangun banyak terdapat terutama di daerah pesisir, seperti di Kecamatan Agrabinta, Sindangbarang, dan Cijati. Hal ini dikarenakan daerah-daerah tersebut memiliki relief datar sehingga aksesibilitas baik dan sangat mendukung untuk perkembangan suatu wilayah. Adapun lahan sawah menyebar secara merata di setiap kecamatan terutama pada daerah-daerah yang memiliki lereng datar. Penyebaran sawah yang paling dominan terdapat di Kecamatan Cijati dan Cidaun, serta sebagian kecil berada di Kecamatan Sindangbarang.

20

Gambar 10 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Cianjur Bagian Selatan Uraian dari masing-masing penutupan/penggunaan lahan, baik dari citra maupun di lapangan disajikan sebagai berikut. Semak Belukar dan rumput pada citra IKONOS berwarna hijau agak kecoklatan dan bertekstur agak kasar. Di lapang belukar berdekatan dengan hutan atau tegalan. Semak dan belukar pada kondisi topografi dataran didominasi oleh ilalang dan diselingi dengan pohon kecil, sedangkan pada kondisi dengan kemiringan lereng 8-15% semak dan belukar didominasi oleh tanaman rerumputan tinggi dan sedikit pepohonan.

Koordinat: 07°21’14” LS 106°55’37” BT

Koordinat: 07°21’14” LS 106°55’37” BT

Gambar 11 Kenampakan Belukar di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b)

21 Hutan pada citra IKONOS berwarna hijau gelap, bertekstur kasar, dan berpola mengelompok. Di lapang, hutan terlihat lebat dengan banyak pepohonan yang berada di lereng yang cukup terjal. Umumnya hutan berdampingan dengan kebun campuran dan beberapa perkebunan karet, khususnya di Kecamatan Cidaun. Di kecamatan ini sebagian besar wilayahnya masih dipenuhi oleh hutan, memiliki bentuklahan pegunungan, serta didominasi oleh kemiringan lereng sangat curam (Gunungapi Dadap)

Koordinat: 07°18’43” LS 107°26’38” BT

Koordinat: 07°18’46” LS 107°26’38” BT

Gambar 12 Kenampakan Hutan di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b) Kebun Campuran pada citra IKONOS berwarna hijau bercampur coklat kehijauan, bertekstur kasar, dan berpola menyebar. Umumnya berada dekat dengan permukiman dan hutan. Di lapang, kebun campuran terdiri atas tanaman tahunan dan tanaman berbuah, seperti pohon mangga dan rambutan. Keberadaan kebun campuran cukup bervariasi yaitu pada kondisi lereng yang datar ditanami oleh pepohonan sengon dan juga rambutan, sedangkan pada kemiringan lereng agak curam ditanami sengon dan diselingi dengan pepohonan kelapa maupun jabon. Hal ini dikarenakan kebun campuran merupakan penggunaan lahan yang sangat mudah terjadi dalam setiap kondisi lahan oleh karena kegiatan manusia.

Koordinat: 07°27’50” LS 107°20’13” BT

Koordinat: 07°27’35” LS 107°20’19” BT

Gambar 13 Kenampakan Kebun Campuran di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b)

22 Lahan terbuka daratan pada citra IKONOS berwarna coklat keabuan bertekstur halus. Di lapang lahan terbuka berada di daerah yang berdekatan dengan jalan, di sekitar pinggiran pantai, dan ditumbuhi hanya oleh rerumputan kecil. Lahan terbuka daratan biasanya berada pada lereng yang datar hingga agak curam.

Koordinat: 07°21’43” LS 106°52’48” BT

Koordinat: 07°21’43” LS 106°52’48” BT

Gambar 14 Kenampakan Lahan Terbuka di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b) Lahan terbuka pesisir pada citra IKONOS berwarna agak kecoklatan dan bertekstur halus. Di lapang, pasir berada di sekitar badan air baik di muara sungai maupun laut. Lahan terbuka pesisir secara dominan berada di daerah pantai yang memanjang dari barat ke timur. Lahan terbuka pesisir tersebut merupakan hasil dari proses deposisi marin dan fluvial, baik dari laut maupun darat. Pasir terkumpul di muara sungai dan di pesisir pantai.

Koordinat: 07°26’32” LS 106°59’41” BT

Koordinat: 07°26’36” LS 106°59’41” BT

Gambar 15 Kenampakan Pasir di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b) Permukiman pada citra IKONOS umumnya bertekstur kasar, bentuk menyerupai bidang datar, berpola mengelompok dan memanjang di pinggir jalan atau sungai. Di lapang, permukiman meliputi seluruh lahan terbangun, seperti pertokoan, perumahan, mini market, kantor kecamatan, dan pabrik. Permukiman mempunyai persebaran secara dominan berada di kondisi lereng datar hingga landai. Pada daerah penelitian permukiman lebih sering berdekatan dengan

23 tegalan, hal ini disebabkan karena masyarakat memiliki pekarangan-pekarangan yang cukup luas dengan kisaran luas sekitar 10 X 10 m2. Pekarangan tersebut dimanfaatkan sebagai tegalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk dikonsumsi sendiri.

Koordinat: 07°15’36” LS 107°3’50” BT

Koordinat: 07°15’36” LS 107°3’52” BT

Gambar 16 Kenampakan Pemukiman di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b) Perkebunan pada citra IKONOS berwarna hijau, bertekstur kasar, dan berpola teratur. Di lapang, perkebunan meliputi perkebunan karet dan sebagian perkebunan sengon maupun jabon dengan luas yang cukup besar. Perkebunan karet yang dijumpai saat verifikasi lapang adalah perkebunan karet milik PTPNVIII yang berada pada lereng mulai datar hingga agak curam. Perkebunan karet secara dominan tersebar di Kecamatan Agrabinta dan sebagian di Kecamatan Sindang Barang. Perkebunan karet milik masyarakat juga dijumpai di Kecamatan Cidaun.

Koordinat: 07°24’32” LS 106°58’51” BT

Koordinat: 07°24’32” LS 106°58’51” BT

Gambar 17 Kenampakan Perkebunan di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b) Sawah pada citra IKONOS berwarna hijau muda kecoklatan, bertekstur halus, dan berpola mengelompok terutama di daerah yang memiliki pasokan air cukup. Di lapang, sawah meliputi sawah tadah hujan maupun irigasi. Umumnya sawah berdampingan dengan kebun campuran dan permukiman. Sawah di daerah penelitian memiliki masa tanam padi dua kali dalam setahun pada musim

24 penghujan. Sawah berada di kondisi lereng datar hingga landai. Sawah yang berada pada lereng agak curam merupakan sawah berteras dengan luasan sekitar 2.5m X 10m dan berpola memanjang mengikuti kontur.

Koordinat: 07°15’43” LS 106°59’49” BT

Koordinat: 07°15’37” LS 106°59’53” BT

Gambar 18 Kenampakan Sawah di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b) Tegalan pada citra IKONOS berwarna coklat kehijauan, bertekstur agak kasar, dan berpola mengelompok. Umumnya tegalan berdampingan dengan sawah, permukiman, dan kebun campuran. Di lapang, tegalan berdekatan dengan permukiman dan sawah. Tegalan yang dijumpai pada saat verifikasi lapang ditanami tanaman sayur-sayuran, seperti bayam, terong, singkong dan buncis, namun sebagian tegalan ditanami juga jagung dan kacang tanah. Masyarakat memanfaatkan lahan pekarangannya untuk tegalan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk diri sendiri. Penanaman dilakukan di daerah yang minim air dengan kondisi lereng landai hingga agak curam.

Koordinat: 07°17’42” LS 106°58’44” BT

Koordinat: 07°17’42” LS 106°58’44” BT

Gambar 19 Kenampakan Tegalan di Citra IKONOS (a) dan Lapang (b) Selain itu dari hasil pengamatan lapang didapatkan bahwa masyarakat di daerah Kabupaten Cianjur bagian selatan memiliki kebiasaan yang khas, yaitu menanam padi huma dengan memanfaatkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan padi. Penanaman padi huma banyak dilakukan pada daerah dengan kemiringan lereng 8-15% dan 15-25%. Pola penanaman mengikuti arah kontur untuk memudahkan proses pemupukan padi. Masyarakat menggunakan lahan yang

25 relatif luas untuk menanam padi huma dan biasanya berkelompok pada daerah yang ditanami dengan tanaman tahunan, seperti sengon dan kelapa. Selain itu biasanya padi huma juga ditumpangsarikan dengan tanaman lain, seperti jagung dan kacang panjang. Kenampakan padi huma pada daerah penelitian disajikan pada Gambar 20.

Gambar 20 Kenampakan Padi Huma pada Daerah Penelitian Sebaran Penggunaan Lahan pada Bentuklahan Penggunaan lahan merupakan hasil aktivitas manusia di atas bentuklahan. Oleh sebab itu, hubungan antara keduanya cukup variatif tergantung pada faktor fisik wilayah. Faktor fisik wilayah yang berpengaruh terhadap penggunaan lahan antara lain adalah morfogenesis, morfografi, morfometri, morfokronologi dan batuan yang merupakan parameter dari landform. Sebaran Penggunaan Lahan menurut Morfografi Bentuklahan Bentuklahan yang dikelompokkan kedalam aspek morfografi adalah bentuklahan-bentuklahan dataran, lembah, perbukitan, dan pegunungan. Uraian dari setiap bentuklahan-bentuklahan tersebut adalah sebagai berikut a. Dataran Berdasarkan hasil pengamatan lapang hampir semua tipe penggunaan lahan berada pada bentuklahan dataran, namun kebun campuran dan sawah tampak lebih dominan, dimana masing-masing luasan sebesar 10.287,18 ha (28%) dan 7.783,04 ha (21%). Kondisi ini lebih dipengaruhi oleh aspek kondisi topografi yang datar dengan kemiringan lereng 0-8%, sehingga topografi ini sangat cocok untuk kebun campuran maupun persawahan. Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007) menyatakan bahwa sawah sangat baik dibuat pada daerah yang datar dengan lereng 0-8% dan ketersediaan air cukup. Peranan topografi pada penggunaan lahan sangat penting karena berkaitan dengan kondisi lereng dan elevasi suatu daerah (Gandasasmita 2001). Sementara itu pada daerah dataran di daerah penelitian masih didapatkan penggunaan lahan hutan dengan luasan 4.450,7 ha (12%). Dalam hal ini hutan tersebut berada pada daerah yang sulit dijangkau oleh masyarakat

26 dikarenakan akses jalan sangat minim. Hubungan sebaran penggunaan lahan aspek aspek morfografi dataran disajikan pada Gambar 21. 12000,0

28%

Luas (ha)

10000,0

21%

8000,0 6000,0

16%

4000,0 2000,0 0,0 Dataran

Blk

Hut

KC

LTD

LTP

Pmk

Pk

Swh

Tg

2839,4

4450,8

10287,2

2200,0

1139,8

1952,8

2795,9

7783,0

3902,2

Keterangan : Belukar (Blk), Hutan (Hut), Kebun Campuran (KC), Lahan Terbuka Daratan (LTD), Lahan Terbuka Pesisir (LTP), Pemukiman (Pmk), Perkebunan (Pk), Sawah (Swh), Tegalan (Tg)

Gambar 21 Sebaran Penggunaan Lahan pada Morfografi Dataran b. Lembah Pada semua bentuklahan lembah penggunaan lahan tampak didominasi oleh kebun campuran dan sawah, dengan masing-masing luasan berturut-turut sebesar 6.254,44 ha (28%) dan 5.252,64 ha (24%). Dominasi ini tampak dipengaruhi oleh kondisi topografi yang mempunyai lereng datar dan adanya ketersediaan air yang sangat cukup. Kondisi tanah pun relatif subur karena proses sedimentasi yang terjadi di daerah lembah yang dikelilingi bukit vulkanik. Pada daerah lembah masih terdapat hutan dengan luasan 3.642, 20 ha (16%), yaitu yang berada pada bibir lembah dengan kemiringan lereng curam. Sebaran penggunaan lahan pada morfografi lembah disajikan pada Gambar 22. 7000,0

28%

Luas (ha)

6000,0

21%

5000,0 4000,0 3000,0 2000,0

1000,0 0,0 Lembah

Blk

Hut

KC

LTD

LTP

Pmk

Pk

Swh

Tg

2679,9

3642,2

6254,4

1326,4

244,7

1106,3

388,9

5252,6

1255,1

Keterangan : Belukar (Blk), Hutan (Hut), Kebun Campuran (KC), Lahan Terbuka Daratan (LTD), Lahan Terbuka Pesisir (LTP), Pemukiman (Pmk), Perkebunan (Pk), Sawah (Swh), Tegalan (Tg)

Gambar 22 Sebaran Penggunaan Lahan Morfografi Lembah c. Perbukitan Pada bentuklahan perbukitan, semua tipe penggunaan lahan muncul namun lebih didominasi oleh kebun campuran seluas 18.562,9 ha (33%), dan hutan seluas 11173.1 ha (20%). Kebun campuran terutama terdapat banyak pohon sengon, jabon, dan jati. Kebun campuran merupakan penggunaan

27 lahan yang isinya terdiri dari tanaman-tanaman yang sangat bervariatif jenisnya, dimana jenis vegetasi yang ada didalamnya dapat beradaptasi dengan kondisi bentuklahannya, baik berupa perbukitan dengan kemiringan lereng curam maupun yang lainnya. Sebaran penggunaan lahan pada morfografi perbukitan disajikan pada Gambar 23. 33%

20000,0

Luas (ha)

16000,0

20%

12000,0 8000,0 4000,0 0,0 Blk Perbukitan 7808,2

Hut

KC

LTD

LTP

Pmk

Pk

Swh

Tg

11173,

18562,

4127,4

99,5

1740,6

1973,6

5540,1

4397,9

Keterangan : Belukar (Blk), Hutan (Hut), Kebun Campuran (KC), Lahan Terbuka Daratan (LTD), Lahan Terbuka Pesisir (LTP), Pemukiman (Pmk), Perkebunan (Pk), Sawah (Swh), Tegalan (Tg)

Gambar 23 Sebaran Penggunaan Lahan pada Morfografi Perbukitan d. Pegunungan Pada bentuklahan pegunungan hampir semua tipe penggunaan lahan ada namun lebih didominasi oleh hutan yaitu seluas 24.967,6 ha (66%). Hal ini dikarenakan pada daerah pegunungan kondisi topografi memiliki kemiringan lereng sangat curam, sedangkan jenis vegetasi menjadi terbatas dan didominasi oleh tanaman berkayu maupun tahunan. Sebaran penggunaan lahan pada morfografi pegunungan disajikan pada Gambar 24. 30000,0

66%

Luas (ha)

25000,0 20000,0 15000,0 10000,0 5000,0 0,0 Pegunungan

Blk

Hut

KC

LTD

LTP

Pmk

Pk

Swh

Tg

3704,0

24967,6

2889,0

174,1

14,8

541,9

65,4

4711,0

536,3

Keterangan : Belukar (Blk), Hutan (Hut), Kebun Campuran (KC), Lahan Terbuka (LT), Pasir (Psr), Pemukiman (Pmk), Perkebunan (Pk), Sawah (Swh), Tegalan (Tg)

Gambar 24 Sebaran Penggunaan Lahan pada Morfografi Pegunungan Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa penggunaan lahan yang paling dominan di daerah dataran dan lembah adalah sawah dan kebun campuran, di daerah perbukitan didominasi oleh kebun campuran, dan di daerah pegunungan didominasi oleh hutan. Permukiman dan lahan terbangun lebih dominan di daerah pantai karena di sepanjang deretan atau pesisir terdapat jalan penghubung antar kabupaten, yaitu jalan lintas Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut dan Bandung.

28 Sebaran Penggunaan Lahan menurut Morfogenesis Bentuklahan a. Denudasional Vulkanik Bentuklahan denudasional vulkanik adalah bentuklahan aktual yang dihasilkan secara dominan oleh proses denudasional (pelapukan, erosi, longsor) terhadap bentuklahan yang sebelumnya berupa bentuklahan vulkanik, sedemikian rupa sehingga bentuklahan vulkanik tersebut tidak meninggalkan ciri khas bentuk vulkanik asalnya (misal : kerucut vulkanik). Kenampakan yang paling dominan dari bentuklahan denudasional vulkanik adalah perbukitan-perbukitan kecil dengan kondisi lereng landai hingga agak curam. Adapun penggunaan lahan yang paling dominan pada bentuklahan denudasional vulkanik adalah kebun campuran seluas 18.294,81 ha (35%) (Gambar 25). Hal ini disebakan bentuklahan denudasional vulkanik memiliki topografi dengan kemiringan lereng curam hingga sangat curam. 20000,0

35%

Luas (ha)

16000,0 12000,0 8000,0 4000,0 0,0 Blk

Hut

KC

LTD

Denudasi, Vulkanik 5416,5 5857,0 18294, 5147,4

LTP 93,6

Pmk

Pk

Swh

Tg

2226,6 4513,0 5244,9 5362,0

Keterangan : Belukar (Blk), Hutan (Hut), Kebun Campuran (KC), Lahan Terbuka Daratan (LTD), Lahan Terbuka Pesisir (LTP), Pemukiman (Pmk), Perkebunan (Pk), Sawah (Swh), Tegalan (Tg)

Gambar 25 Sebaran Penggunaan Lahan pada Bentuklahan Denudasional Vulkanik Bentuklahan denudasional vulkanik dapat dibedakan berdasarkan tingkat torehannya menjadi denudasional vulkanik tertoreh ringan (Dv1), denudasional vulkanik tertoreh sedang (Dv2), dan denudasional vulkanik tertoreh berat (Dv3). Penggunaan lahan di daerah Dv1 didominasi oleh kebun campuran dengan luasan 1.637,51 ha (29%) dan perkebunan seluas 1.495.92 (27%). Hal ini dikarenakan pada bentuklahan denudasional vulkanik tertoreh ringan memiliki kondisi lereng landai hingga sebagian sangat curam sehingga sesuai digunakan untuk kebun campuran dan perkebunan. Penggunaan lahan di daerah Dv2 didominasi oleh kebun campuran dengan luasan 15.585,57 ha (37%). Hal ini dikarenakan pada bentuklahan denudasional vulkanik tertoreh sedang memiliki kondisi lereng agak curam hingga curam sehingga sesuai digunakan untuk kebun campuran saja. Adapun penggunaan lahan yang paling dominan di daerah Dv3 adalah hutan seluas 1.665,92 ha (41%) dan kebun campuran seluas 1.071 ha (27%). Hal ini dikarenakan pada bentuklahan denudasional vulkanik tertoreh berat memiliki kondisi lereng agak curam hingga sangat curam sehingga sesuai jika hanya digunakan untuk

29 hutan. Sebaran penggunaan lahan pada proses denudasional vulkanik berdasarkan tingkat torehannya disajikan pada Gambar 26.

Luas (ha)

20000,0

37%

15000,0 10000,0

41%

5000,0

27%

29%

0,0 DV1

Blk

Hut

KC

LTD

LTP

Pmk

Pk

Swh

Tg

316,8

31,8

1637,5

566,4

5,5

317,2

1495,9

711,1

469,5

DV2 4622,6

4159,3

15585,

4458,2

88,0

1840,8

3017,1

4420,4

4397,4

DV3

1665,9

1071,8

122,8

0,1

68,6

0,0

113,4

495,1

477,1

Keterangan : Belukar (Blk), Hutan (Hut), Kebun Campuran (KC), Lahan Terbuka Daratan (LTD), Lahan Terbuka Pesisir (LTP), Pemukiman (Pmk), Perkebunan (Pk), Sawah (Swh), Tegalan (Tg), Denudasional Vulkanik (DV), tertoreh ringan (DV1), tertoreh sedang (DV2), dan tertoreh berat (DV3)

Gambar 26 Sebaran Penggunaan Lahan pada Tingkat Torehan Bentuklahan Denudasional Vulkanik b. Vulkanik Denudasional Bentuklahan vulkanik denudasinal adalah bentuklahan vulkanik yang mengalami proses denudasi sedemikian rupa, namun ciri khas gunungapi (misal: kerucut vulkanik) masih terlihat nyata. Bentuklahan ini biasanya digunakan untuk klasifikasi gunungapi yang sudah lama tidak memiliki aktivitas vulkanik (dormant). Kenampakan bentuklahan vulkanik denudasional adalah berupa pegunungan, adapun penggunaan lahan yang paling dominan adalah hutan seluas 32.440,7 ha (54%). Hal ini sangat sesuai dengan kondisi topografi yang bergunung dengan lereng curam hingga sangat curam. Adapun kondisi ketinggian dari permukaan laut yang cocok untuk penggunaan lahan ini adalah lebih dari 1000 mdpl (Hardjowigeno dan Widiatmaka 2007). Sebaran penggunaan lahan pada bentuklahan vulkanik denudasional disajikan pada Gambar 27. 54%

35000,0 30000,0

Luas (ha)

25000,0 20000,0 15000,0 10000,0 5000,0 0,0

Blk

Hut

KC

LTD

Vulkanik, Denudasi 7741,7 32440, 9446,1 1014,1

LTP

Pmk

Pk

45,8

962,0

110,7

Swh

Tg

7178,2 1653,0

Keterangan : Belukar (Blk), Hutan (Hut), Kebun Campuran (KC), Lahan Terbuka Daratan (LTD), Lahan Terbuka Pesisir (LTP), Pemukiman (Pmk), Perkebunan (Pk), Sawah (Swh), Tegalan (Tg)

Gambar 27

Sebaran Penggunaan Lahan pada Bentuklahan Vulkanik Denudasional

30 Bentuklahan vulkanik denudasional dapat dibedakan berdasarkan tingkat torehannya menjadi vulkanik denudasional tertoreh sedang (VD2), dan vulkanik denudasional tertoreh berat (VD3). Penggunaan lahan paling dominan pada daerah VD2 maupun VD3 adalah hutan, dengan masingmasing luasan berturut-turut sebesar 6.403,4 ha (49%) dan 26.037ha (54%). Sebaran penggunaan lahan pada bentuklahan vulkanik denudasional disajikan pada Gambar 28. 30000,0

54%

Luas (ha)

25000,0 20000,0

15000,0 10000,0

49%

5000,0

0,0

Hut

KC

LTD

LTP

Pmk

Pk

Swh

Tg

VD2 2054,4

Blk

6403,4

2073,9

54,9

13,7

174,9

25,6

1999,8

256,6

VD3 5687,4

26037,

7372,2

959,2

32,2

787,1

85,1

5178,4

1396,4

Keterangan : Belukar (Blk), Hutan (Hut), Kebun Campuran (KC), Lahan Terbuka Daratan (LTD), Lahan Terbuka Pesisir (LTP), Pemukiman (Pmk), Perkebunan (Pk), Sawah (Swh), Tegalan (Tg), Denudasional Vulkanik (DV), tertoreh ringan (DV1), tertoreh sedang (DV2), dan tertoreh berat (DV3)

Gambar 28 Sebaran Penggunaan Lahan pada Tingkat Torehan Bentuklahan Vulkanik Denudasional c. Fluvial Fluvial merupakan proses yang terjadi akibat aktivitas aliran sungai berupa pengikisan, pengangkutan dan pengendapan (sedimentasi). Proses tersebut menghasilkan bentuklahan-bentuklahan deposisional berupa dataran alluvial (Fda) dan bentuklahan lain dengan morfologi datar yang tersusun dari material sedimen berbutir halus. Bentuklahan yang terjadi akibat proses fluvial, antara lain adalah dataran banjir, tanggul alam, teras sungai (Van Zuidam 1985). Penggunaan lahan pada bentuklahan fluvial lebih didominasi oleh kebun campuran (27%), sawah (24.5%), hutan (17%), dan belukar (12%), dengan masing-masing luasan sebesar 8.486,7 ha, 7.371,3 ha, 5.424,0 ha, dan 3.690,4 ha. Hal ini disebabkan kondisi topografi yang dibentuk oleh proses fluvial berupa topografi dengan kemiringan lereng datar hingga landai yang sangat cocok untuk penggunaan lahan kebun campuran dan sawah. Selain itu di daerah hasil proses fluvial yang memiliki bentuklahan lembah maupun dataran secara dominan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan bisnis yang memiliki nilai jual tinggi, misalnya tanaman kayu sengon maupun jabon yang dalam waktu relatif singkat sudah dapat dipanen yaitu cukup hanya menunggu sekitar 3-5 tahun saja (menghasilkan/panen). Adapun sawah persebarannya lebih dominan pada bagian bentuklahan yang mempunyai kondisi lahan cukup air dan dekat dengan pemukiman penduduk. Sebaran penggunaan lahan pada bentuklahan fluvial disajikan pada Gambar 29.

31 27%

9000,0

24.5%

Luas (ha)

7500,0

17%

6000,0

12%

4500,0 3000,0 1500,0 0,0 Blk Fluvial 3690,4

Hut

KC

LTD

LTP

Pmk

Pk

Swh

Tg

5424,0

8486,7

1546,0

460,0

1594,7

450,2

7371,4

1971,2

Keterangan : Belukar (Blk), Hutan (Hut), Kebun Campuran (KC), Lahan Terbuka Daratan (LTD), Lahan Terbuka Pesisir (LTP), Pemukiman (Pmk), Perkebunan (Pk), Sawah (Swh), Tegalan (Tg)

Gambar 29 Sebaran Penggunaan Lahan pada Bentuklahan Fluvial d. Marin Bentuklahan marin di hasilkan oleh proses marin seperti arus, gelombang dan pasang surut air laut. Proses marin dapat bersifat konstruktif (pengendapan) ataupun destruktif (abrasi). Bentuklahan yang dihasilkan antara lain berupa dataran pasang surut yang berada pada wilayah pantai. Penggunaan lahan di daerah marin didominasi oleh sawah (40%) dan kebun campuran (20%), dengan masing-masing luasan berturut-turut sebesar 3.492,3 ha dan 1.765,7 ha. Hal ini disebabkan kondisi topografi yang ada memiliki kemiringan lereng datar hingga landai dan memiliki ketersediaan air cukup, sehingga kondisi ini sangat memungkinkan untuk digunakan oleh masyarakat untuk lahan pertanian. Di lapang, kondisi sawah yang berada pada daerah marin terlihat sangat baik dengan air yang sudah tidak payau (asin) lagi dan dominan berada pada daerah yang berdekatan dengan muara-muara sungai. Sebaran penggunaan lahan pada bentuklahan marin disajikan pada Gambar 30. 40%

4000,0 3500,0

Luas (ha)

3000,0 2500,0

20%

2000,0 1500,0 1000,0 500,0

0,0 Marin

Blk

Hut

KC

LTD

LTP

Pmk

Pk

Swh

Tg

182,8

511,9

1765,8

120,3

899,3

558,2

149,8

3492,3

1105,2

Keterangan : Belukar (Blk), Hutan (Hut), Kebun Campuran (KC), Lahan Terbuka Daratan (LTD), Lahan Terbuka Pesisir (LTP), Pemukiman (Pmk), Perkebunan (Pk), Sawah (Swh), Tegalan (Tg)

Gambar 30 Sebaran Penggunaan Lahan pada Bentuklahan Marin

32 Sebaran Penggunaan Lahan Menurut Morfometri Bentuklahan Morfometri bentuklahan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hanya dari aspek kemiringan lereng saja. Adapun hasil dari analisis morfometri didapatkan bahwa sebaran penggunaan lahan, hutan mendominasi kemiringan lereng 15-25%, 25-45% dan lebih >45%. Hal ini disebabkan kondisi lereng yang curam tidak banyak untuk dapat dimanfaatkan sehingga lahan dengan kemiringan lereng tersebut namun hanya cocok digunakan untuk hutan. Kebun campuran mendominasi lereng 8-15%, 25-45% dan >45%. Hal ini disebabkan penggunaan lahan tersebut didominasi oleh pepohonan yang jenisnya sangat variatif dan adaptif dengan kondisi lereng. Adapun lereng dengan kemiringan 0-8% lebih didominasi oleh penggunaan lahan sawah. Hal ini dikarenakan adanya ketersedian air yang cukup untuk kebutuhan tanaman padi selain sifat tanah yang subur berkat hasil proses fluvial deposisional (Hardjowigeno dan Widiatmaka 2007). 20000,00 18000,00 16000,00 14000,00 Luas (ha)

12000,00

10000,00 8000,00 6000,00

4000,00 2000,00 0,00 Blk

0-8% Hut

KC

8-15% LTD

15-25% 25-45% LTP Pmk Pk

>45% Swh

Tg

Keterangan : Belukar (Blk), Hutan (Hut), Kebun Campuran (KC), Lahan Terbuka Daratan (LTD), Lahan Terbuka Pesisir (LTP), Pemukiman (Pmk), Perkebunan (Pk), Sawah (Swh), Tegalan (Tg)

Gambar 31 Sebaran Penggunaan Lahan Menurut Morfometri Bentuklahan

33 Berdasarkan Gambar 31 hubungan penggunaan lahan dengan kemiringan lereng sangat bervariasi. Misalnya penggunaan lahan hutan berbanding lurus dengan kemiringan lereng. Hutan meningkat dengan meningkatnya kemiringan lereng mulai dari 0-8% hingga >45%, atau dengan kata lain semakin meningkat kemiringan lereng maka luasan hutan akan semakin luas. Adapun hal ini berbanding terbalik dengan sawah, dimana semakin meningkat kemiringan lereng maka penggunaan lahan sawah akan semakin sempit. Beberapa terdapat pula penggunaan lahan yang meningkat pada lereng tertentu dan kemudian mengalami penurunan. Seperti penggunaan lahan perkebunan, permukiman, dan tegalan yang meningkat pada kemiringan lereng 0-8% hingga 8-15% namun pada kemiringan lereng 15-25% hingga >45% mengalami penurunan yang cukup signifikan. Analisis Hubungan antara Penggunaan Lahan dengan Bentuklahan Menggunakan Regresi Berganda Untuk melihat hubungan setiap penggunaan lahan dengan bentuklahan dalam bahasan ini akan menekankan pada aspek morfografi, morfometri, morfogenesis, dan analisis nilai R2 yang tinggi. Hal ini menjelaskan bahwa keberadaan penggunaan lahan di pengaruhi oleh faktor-faktor antara morfografi, morfometri, dan morfogenesis. Analisis regresi berganda dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan pada suatu bentuklahan tertentu. Analisis regresi berganda dilakukan dengan menggunakan data hasil overlay antara penggunaan lahan dengan bentuklahan, lereng, serta wilayah administrasi desa. Variabel tak bebas (Y) yang digunakan adalah masingmasing penggunaan lahan, sedangkan variabel bebas (X) yang digunakan adalah morfometri dan morfogenesis yang dianggap berkaitan erat dengan penggunaan lahan tersebut. Hasil analisis regresi tersebut disajikan pada Tabel 13. Tabel 13. Hasil Regresi Berganda antara Penggunaan Lahan dengan Bentuklahan

0.2 0.9 0.8

Berdasarkan hasil analisis regresi berganda, penutupan/penggunaan lahan hutan memiliki nilai beta tertinggi pada lereng 25-45% sebesar 1.37 dengan nilai R2 mendekati 1, yaitu 0.92. Kebun campuran memiliki nilai beta tertinggi pada lereng 8-15% sebesar 1.45 dengan nilai R2 mendekati 1, yaitu 0.90. Permukiman memiliki nilai beta tertinggi pada lereng 15-25% sebesar 0.93 dengan nilai R2 mendekati 1, yaitu 0.91. Sawah memiliki nilai beta tertinggi pada lereng 15-25% sebesar 0.90 dengan nilai R2 mendekati 1, yaitu 0.89. Tegalan memiliki nilai beta

34 tertinggi pada lereng 0-8% sebesar 2.00 dengan nilai R2 mendekati 1, yaitu 0.88. Perkebunan memiliki nilai beta tertinggi pada lereng 25-45% sebesar 3.31 dengan nilai R2 mendekati 1, yaitu 0.78. lahan terbuka pesisir memiliki nilai beta tertinggi pada bentuklahan marin sebesar 1.08 nilai R2 mendekati 1, yaitu 0.86. Berdasarkan hasil regresi berganda tersebut, pengaruh morfometri tampak sangat dominan terhadap penggunaan lahan yang ditandai oleh nilai beta tertinggi dan nilai R2 yang mendekati 1 pada setiap penggunaan lahan. Penggunaan lahan hutan dan perkebunan memiliki nilai beta terbesar pada kemiringan lereng 2545%, hal ini disebabkan karena hutan dan perkebunan memiliki vegetasi yang cukup sama yaitu pepohonan (seperti: karet) sehingga dapat ditanam pada kondisi topografi yang curam. Adapun perbedaan antara hutan dan perkebunan, yaitu pada pemanfaatan lahan tersebut, dimana pada lahan perkebunan lahannya berteras dengan tujuan untuk mempermudah dalam pemanenan. Pada sawah dan permukiman juga memiliki nilai beta terbesar pada lereng 15-25%, hal ini disebabkan karena masyarakat selalu memanfaatkan lahan yang dekat dengan pemukiman sebagai lahan sawah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada kondisi seperti sawah dibuat berteras agar dapat menampung air.

35

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Bentuklahan di daerah penelitian cukup variatif yang dapat dibagi menjadi 19 jenis. Berdasarkan aspek morfografi terdiri atas dataran (24%), lembah (15%) perbukitan (21%), pegunungan (40%), sedangkan berdasarkan morfogenesis terdiri atas bentuklahan-bentuklahan vulkanik denudasional (39.7%), denudasional vulkanik (34%), fluvial (20.3%) dan marin (5.7%). Berdasarkan luasan morfogenesis dari masing-masing bentuklahan tersebut, maka daerah penelitian yang berada di sebagian fisiografi pegunungan selatan jawa (Van Bemmelen, 1945), secara dominan terbentuk oleh proses-proses vulkanik Tersier yang saat sekarang sudah tidak ada lagi aktivitas vulkanik, kecuali proses-proses denudasi yang berlangsung diatas bentuklahan-bentuklahan tersebut. 2. Dari hasil interpretasi citra IKONOS dan cek lapang, penggunaan lahan di daerah penelitian terdiri atas hutan (29%), kebun campuran (25%), sawah (15%), permukiman (3.5%), dan perkebunan (3.4%). Dari angka-angka luasan tersebut terindikasi bahwa penggunaan lahan hutan dan kebun campuran cukup mendominasi. Hutan lebih banyak terdapat pada morfometri bentuklahan (kemiringan lereng) yang curam, sedangkan kebun campuran cukup variatif, hal ini disebabkan jenis vegetasi yang ada di dalam kebun campuran cukup beragam menyesuaikan kondisi morfometri bentuklahan. Dominasi kedua bentuk penggunaan lahan tersebut tampak sesuai dengan kondisi bentuklahan di daerah penelitian. 3. Berdasarkan hasil analisis hubungan antara penggunaan lahan dengan bentuklahan, secara statistik diperoleh bahwa jenis bentuklahan (morfometri, morfografi, dan morfogenesisi) mempunyai pengaruh terhadap jenis penggunaan lahan di daerah penelitian. Secara keseluruhan mempunyai pengaruh sangat nyata dengan nilai R2 antara 78% hingga 92% yang dominan dipengaruhi oleh morfometri bentuklahan.

Saran Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pemetaan bentuklahan dan penggunaan lahan yang ada di daerah sekitar pesisir selatan maupun utara dengan luasan yang lebih besar sehingga bisa didapat keragaman bentuklahan yang lebih banyak serta dapat melakukan pemetaan perbedaan karakteristik pada daerah pesisir utara ataupun pesisir selatan.

36

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2013. Kabupaten Cianjur Dalam Angka 2013. Cianjur : BPS Kabupaten Ponorogo. Bappeda Kabupaten Cianjur. 2013. Cianjur dalam Angka 2013. Cianjur(ID): Pemerintah Kabupaten Cianjur. Das BM. 1985. Mekanika Tanah 1. Diterjemahkan oleh Noor Endah dan Indrasurya B.M. Jakarta (ID): Erlangga. Draper NR dan Smith H. 1992. Analisis Regresi Terapan. Jakarta (ID): PT Gramedia Pustaka Utama Estes JE and Simonett DS. 1975. Fundamentals Of Image Interpretation, In: Manual of Remote Sensing Vol. 1. Second Edition. R.N. Colwell: ed-in-chief. American Societyof Photogrammetry. Falls Church. Virginia. Gandasasmita K. 2001. Analisis Penggunaan Lahan Sawah dan Tegalan di Daerah Aliran Sungai Cimanuk Hulu Jawa Barat. Disertasi. Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Ghani IM dan Ahmad M. 2010. Stepwise multiple regression method to forest fish landing. Procedia Social and Behavioral Sciences. 8 (2010): 549-554. Hardjowigeno dan Widiatmaka. 2007. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tataguna Tanah. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hosmer DW dan Lemeshow S. 1989. Applied Logistic Regression. USA: A Wiley Interscience Publication. Hughes et al. 2001. Gully Erosion Mapping for the National Land and Water Resources Audit. CSIRO Land and Water. Canberra (AU): Technical Report 26/1. Lillesand TM dan Kiefer RW. 1979. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. diterjemahkan oleh Dulbahri et al. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press. Lillesand TM dan Kiefer RW. 1994. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Yogyakarta (ID): Gajah Mada University Press. Surastopo H. 1982. Metode Analisis Geografi. LP3ES. Jakarta Sutanto. 1986. Penginderaan Jauh. Jilid 1. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press. Sys C. 1991. Land Evaluation. 1st ed. International Training Centre for Post Graduate Soil Scientist. State University of Ghent. Ghent. Tagore et al. 2012. Mapping of Degraded Lands Using Remote Sensing and GIS Techniques. Journal of Agricultural Physics. Vol. 12, No.1, pp: 29-36. Thornbury WD. 1969. Principle of Geomorphology. 2nd ed. New York: John Wiley and Sons, Inc. Van Bemmelen RW. 1949. The Geology of Indonesia. The Hague. Government Printing Office. Van Zuidam RA. 1985. Aerial Photo-Interpretation in Terrain Analysis and Geomorphological Mapping. Enschede: International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC), The Netherlands.

Gunakan Percent Rise pada output measurement

Konversi raster ke vektor, pilih Conversion Tools From Raster Raster to polygon

Setelah membuka data SRTM, pilih Spatial Analisyst Tools Surface  Slope

Hasil Kelas Lereng Dari 03%, 3-8%, 8-15%, 15-25%, 25-45%, >45%

Pilih menu Classify, gunakan metode Quantile, pilih 6 pengkelasan, klik logo (%) pada break value, dan masukkan pengkelasan

Pengkelasan kembali menggunakan Spatial Analisyst Tools Reclass Reclassify

LAMPIRAN 1 Tahapan Pembuatan Peta Kelas Lereng dengan menggunakan software ArcGis 9.3

LAMPIRAN

Pilih Export Lines dan simpan

Setelah DEM dibuka maka File Generate Contours  klik

Pilih Shepefile

Untuk merubah file dalam bentuk .shp maka (File  Export Vektor Format  klik

Isi interval kontur di kolom Countur Interval (12.5 m) klik OK paling bawah

Tunggu, sedang proses

LAMPIRAN 2 Tahapan Pembuatan Peta Kontur dengan menggunakan software Global Mapper 13

38

LAMPIRAN 3. Hasil Analisis Regresi Berganda Menggunakan Statistika 7

39

40

41

Lampiran 4. Ilustrasi Perhitungan Lereng 96 108 133 154 156 158 92 96 113 140 154 156 83 96 105 118 138 147 74 81 93 99 104 113 78 69 70 81 90 94 69 63 56 65 74 82 63 58 50 49 57 67 78 66 57 45 49 58 81 70 60 48 47 58 90 75 63 51 52 52 Δx1 = c-a Δy1 = a-g Δx2 = f-d Δy2 = b-h Δx3 = i-g Δy3 = c-i ΔX = (Δx1 + Δx2 + 3 ΔY = (ΔY1 + ΔY2 + 3 X-1 x X+1 Y+1 96 108 133 Y 92 96 113 Y-1 83 96 105 Δx1 Δx2 Δx3 Δx Δy

= = =

37 21 22 = =

Δy1 = Δy2 = Δy3 = 27 18

S(%) = 16.00 S = 0.16 S = 0.16 =