TEMPLAT TUGAS AKHIR S1

Download menginginkan konsumsi minuman cokelat yang enak dan sehat. Berdasarkan uji masalah diperoleh konsumen potensial...

0 downloads 172 Views 12MB Size
PENGEMBANGAN PASAR MINUMAN DARK CHOCOLATE INSTAN

ALDI MAULIDIANSYAH

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengembangan Pasar Minuman Dark Chocolate Instan adalah benar karya saya dengan arahan dari pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Desember 2014

Aldi Maulidiansyah NIM F34090012

ABSTRAK ALDI MAULIDIANSYAH. Pengembangan Pasar Minuman Dark Chocolate Instan. Dibimbing oleh ERLIZA HAMBALI dan AJI HERMAWAN. Coklat merupakan salah satu sumber antioksidan tertinggi yang mengandung kadar polifenol hingga 13%. Jenis dark chocolate semakin populer karena memiliki khasiat dan rasa pahit yang khas. Dewasa ini, coklat biasa dikonsumsi sebagai minuman instan namun pasar bisnis produk ini di Indonesia masih dalam tahap pengembangan. Tujuan penelitian ini yakni merancang model bisnis pengembangan produk minuman dark chocolate instan. Metode yang digunakan adalah pendekatan riset aksi dengan mengolah data primer hasil wawancara. Permasalahan yang ditemukan di masyarakat yakni produk minuman cokelat yang ada di Indonesia saat ini yang sebagian menggunakan bahan sintetik dan gula pasir berkalori tinggi yang dapat menimbulkan banyak dampak negatif. Konsumen menginginkan konsumsi minuman cokelat yang enak dan sehat. Berdasarkan uji masalah diperoleh konsumen potensial sebesar 66%. Hasil verifikasi kanvas model bisnis menghasilkan value propositions produk ini diantaranya rendah indeks glikemik, rendah kalori, aman dikonsumsi bagi penderita diabetes karena diproduksi menggunakan gula kelapa, tanpa bahan pengawet atau perasa buatan, tersedia dalam varian rasa dan praktis. Customer segments produk ini ialah orang dewasa berusia 24 tahun keatas dengan tingkat ekonomi menengah keatas. Channel melalui agen, supermarket, kafe, restoran dan hotel. Revenue stream didapatkan dari penjualan produk. Hasil perhitungan analisis finansial menunjukkan HPP berkisar Rp 1.306 per sachet untuk kapasitas 5.000 sachet per hari dengan harga jual adalah Rp 6.000 per sachet. Kata kunci: antioksidan, minuman dark chocolate, kanvas model bisnis, riset aksi

ABSTRACT ALDI MAULIDIANSYAH. Market Development Study of Dark Chocolate Instant Beverage. Supervised by ERLIZA HAMBALI and AJI HERMAWAN. Chocolate is one of greatest source of antioxidant which approximately contains 13% of polyphenol. Dark chocolate is becoming popular because of its advantage and typical bitter taste. Nowadays, chocolate is used to be consumed as instant beverage meanwhile its business market in Indonesia is still on development stage. The objective of this research is to design business model of instant dark chocolate beverage. The method used was action research approach by processing primary data as result of interviews. The problem found was that chocolate contains synthetic material and high-calorie sugar which can lead to several negative effects. Consumers want to consume tasty and healthy kind of chocolate beverage. Based on problem test, it was known that potential consumers were around 66%. Verification output of business model canvas defined value propositions of the product such as low glycemic index, low calorie, and safe to be consumed for diabetic patients because its coconut sugar based sweetener, free of preservatives

and synthetic flavors, available on varied tastes and practical. Customers segmented are adult aged 24 years or up and categorized as middle-class up to high-class economy. Channels is sell by agents, supermarkets, cafés, restaurants and hotels in Revenue stream got from product selling. Production cost measurements showed value of Rp 1.306 per sachet in production capacity of 5.000 sachets per day, meanwhile selling cost calculated Rp 6.000 per sachet. Keywords: Antioxidant, dark chocolate beverage, business model canvass, action research

PENGEMBANGAN PASAR MINUMAN DARK CHOCOLATE INSTAN

ALDI MAULIDIANSYAH Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian pada Departemen Teknologi Industri Pertanian

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014

Judul Skripsi : Pengembangan Pasar Minuman Dark Chocolate Instan Nama : Aldi Maulidiansyah NIM : F34090012

Disetujui oleh

Prof Dr Erliza Hambali Pembimbing I

Dr Ir Aji Hermawan, MM Pembimbing II

Diketahui oleh

Prof Dr Ir Nastiti Siswi Indrasti Ketua Departemen

Tanggal Lulus:

PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia dan rahmat-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Penulis mengambil tema Technopreneurship, dengan judul skripsi Pengembangan Pasar Minuman Dark Chocolate Instan yang telah dilakukan dari bulan Februari hingga Mei 2014. Ucapan terimakasih serta penghargaan penulis ucapkan kepada 1. Ibu Prof Dr Erliza Hambali dan Bapak Dr Ir Aji Hermawan MM selaku dosen pembimbing atas perhatian dan bimbingannya selama ini. 2. Dr Dwi Setyaningsih STP MSi selaku dosen penguji atas masukan dan arahannya dalam penyelesaian skripsi ini. 3. Ayahanda Marulloh dan Ibunda Siti Laelah atas doa, dukungan dan perhatiannya selama ini. 4. Indah Setiawati atas doa dan perhatiannya selama ini. 5. Keluarga besar TIN 46 atas kenangan manisnya selama ini. 6. Seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Desember 2014

Aldi Maulidiansyah

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Ruang Lingkup Penelitian METODE Waktu Penelitian Metode Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Hipotesis Kanvas Model Bisnis Pengujian Masalah Pengujian Solusi Ukuran Pasar (Market Size) Analisis Finansial Verifikasi Model Bisnis Kanvas SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP

ix ix ix 1 1 3 3 3 3 3 6 6 9 10 12 13 15 16 16 16 16 30

DAFTAR TABEL 1 Identifikasi masalah dan solusi yang ditawarkan 2 Biaya bahan baku minuman dark chocolate instan 3 Biaya umur ekonomis alat 4 Biaya overhead minuman dark chocolate instan 5 Perhitungan HPP minuman dark chocolate instan

10 13 14 14 15

DAFTAR GAMBAR 1 Diagram alir penelitian 2 Presentase responden potensial dan tidak potensial berdasarkan uji masalah 3 Hasil pengujian solusi 4 Ukuran pasar dark chocolate instan

4 9 11 12

DAFTAR LAMPIRAN 1 Hipotesis awal Bisnis Model Kanvas 2 Panduan wawancara pengujian masalah 3 Responden pengujian masalah 4 Masalah yang dihadapi konsumen 5 Panduan wawancara pengujian solusi 6 Responden pengujian solusi 7 Perubahan pertama Model Bisnis Kanvas 8 Perubahan kedua Model Bisnis Kanvas

18 19 20 22 23 25 26 28

PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia (455.000 ton) setelah Pantai Gading (1.275.000 ton) dan Ghana (585.000 ton), berdasarkan data Depperin (2012). Riset menunjukkan indikasi komponen dalam cokelat dapat membantu mencegah berbagai penyakit. Berdasarkan data FAO (2011), konsumsi cokelat perkapita masyarakat Indonesia masih dibawah konsumsi dunia yaitu 0.3 gram/kapita/hari dibandingkan konsumsi dunia yang berkisar 2.70 gram/kapita/hari. Menurut data statistik nasional tahun 2012 dari International Cocoa Organization (ICCO) atau organisasi kakao internasional, hampir setengah dari seluruh penikmat cokelat didunia adalah orang Eropa termasuk Jerman yang mengkonsumsi rata-rata 12.39 kg coklat/tahun/kapita, Swiss dengan rata-rata 15.5 kg cokelat/tahun/kapita dan Inggris dengan 10.45 kg coklat/tahun/kapita. Di benua Asia, cokelat masih sedikit dikonsumsi. Masyarakat Indonesia rata-rata mengkonsumsi cokelat sebanyak 0.6 kg/kapita/tahun, masih di bawah Malaysia yang mengkonsumsi cokelat sebanyak 1.2 kg/kapita/tahun. Cokelat yang beredar di pasaran sebagian besar telah diolah dan mengalami pemrosesan lebih lanjut sehingga banyak dicampur dengan susu dan gula. Kualitas cokelat seperti ini sudah tidak lagi murni sepenuhnya sehingga kandungan cokelat murninya menjadi sedikit, secara tidak langsung kandungan zat yang bermanfaat dalam cokelat berkurang. Cokelat jenis ini tidak dianjurkan untuk dikonsumsi bagi terapi cokelat yang menginginkan manfaat baik dari cokelat. Cokelat yang baik untuk dikonsumsi adalah jenis dark chocolate yaitu cokelat yang mengandung gula dan kalori rendah. Minuman dark chocolate instan muncul sebagai solusi dalam mengatasi berbagai masalah gaya hidup tidak sehat yang dihadapi masyarakat Indonesia. Perubahan dari pola makan tradisional ke pola makan western seperti fast food yang banyak mengandung kalori, lemak dan kolesterol, ditambah kehidupan yang disertai stress dan kurangnya aktivitas fisik, terutama di kota-kota besar mulai menunjukkan dampak dengan meningkatnya masalah gizi lebih (obesitas) dan penyakit degeneratif seperti jantung koroner, hipertensi dan diabetes mellitus (Khasanah 2012). Lee (2003) menerangkan bahwa konsentrasi antioksidan dalam cokelat panas hampir 2 kali lebih kuat dibandingkan anggur merah, 2-3 kali lebih kuat dibandingkan teh hijau dan 4-5 kali lebih kuat dibandingkan teh hitam. Faktor suhu panas saat cokelat disajikan pun membuat lebih banyak antioksidan yang dilepaskan. Secangkir cokelat panas mengandung 611 miligram senyawa fenolik setara asam galat (GAE) dan 564 miligram setara flavonoid epicatechin (ECE). Antioksidan asam galat digunakan untuk mengobati pendarahan internal albuminuria (adanya albumin dalam urin, yang dapat mengindikasikan penyakit ginjal) dan diabetes. Selain itu, flavonoid membantu tubuh memproses nitrat oksida, meningkatkan aliran darah, membantu menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kesehatan jantung. Flavonoid dalam cokelat panas juga membantu mencegah trombosit dalam darah sehingga tidak membaur dan membentuk gumpalan. Masalah yang kerap ditemui yakni dalam penggunaanya masih banyak terdapat kesalahan persepsi mengenai produk cokelat, baik dalam bentuk makanan ataupun minuman. Cokelat kerap dikeluhkan dapat menyebabkan penyakit sakit gigi dan

2 kegemukan padahal kenyataannya hal tesebut disebabkan oleh kandungan gula yang terdapat dalam produk cokelat pada umumnya. Hal tersebut dapat diatasi dengan substitusi atau mengganti bahan baku gula pasir rafinasi, yang biasa digunakan pada produk minuman cokelat komersil, dengan gula kelapa. Sehingga minuman dark chocolate instan ini dapat mengatasi berbagai masalah penyakit akibat gaya hidup tidak sehat dimana konsumen dapat menikmati minuman cokelat dan tetap mendapatkan manfaat dari coklat namun dapat terhindar dari dampak negatif minuman coklat pada umumnya. Gula kelapa dihasilkan dari olahan nira tanaman familia palmae yang berbentuk serbuk (Dewan Standarisasi Nasional 1995). Gula kelapa menjadi alternatif penggunaan bahan pemanis akibat tingginya dampak bahaya gula dan sirup fruktosa.gula dan sirup fruktosa biasa pada umumnya tidak mengandung nutrisi vital sehingga dinilai hanya menyajikan kalori saja tanpa nutrisi.lain halnya dengan gula kelapa, dimana berdasarkan departemen pertanian Filipina gula kelapa mengandung berbagai nutrisi diantaranya mineral Fe, Zn, Ca dan K dan beberapa rantai pendek asam lemak, polifenol, antioksidan yang berdampak baik bagi tubuh manusia (departemen pertanian Filipina 2014), selain itu gula kelapa juga mengandung serat inulin yang dapat memperlambat penyerapan glukosa dalam darah yang menyebabkan mengapa gula kelapa memiliki indeks glikemik rendah dibandingkan dengan gula lainnya (Kim dan Shin 1996). Indeks glikemik adalah angka yang menunjukkan seberapa cepat suatu bahan pangan dapat menaikkan kadar gula dalam darah. misalnya glukosa memiliki IG 100 dan apabila suatu bahan pangan memiliki IG 50 maka bahan pangan tersebut teridentifikasi mampu menaikkan kadar gula dalam darah setengah dari kemampuan glukosa murni. Departemen Pertanian Filipina (2014) menjabarkan perbandingan indeks glikemik gula kelapa dan larutan glukosa standar. Hasil menunjukkan gula kelapa memiliki IG 35 yang tergolong rendah bila dibandingkan dengan produk gula komersil yang berkisar 60. Gula setiap tahunnya mulai dihindari bukan khususnya disebabkan oleh tingginya IG namun akibat tingginya kandungan fruktosa pada kandungan gula komersil yang mencapai 50% fruktosa dan 50% glukosa. Kelebihan konsumsi fruktosa mampu mendatangkan penyakit seperti sindrom metabolik, obesitas, diabetes dan penyakit kardiovasikular (Purnomo 1992) Gula kelapa memiliki keunggulan lainnya dalam hal ini yakni, mengandung 70-80% sukrosa dan hanya memiliki setengah dari kandungan glukosa gula komersil. Berbagai keunggulan cokelat ditambah dengan inovasi tambahan gula kepala dalam komposisinya yang telah disebutkan diatas diharapkan mampu meningkatkan konsumsi cokelat domestik, ikut serta dalam perkembangan produksi kakao Indonesia dan produk olahan/turunannya. Meskipun demikian, pertumbuhan kakao dan cokelat sebagai produknya di Indonesia masih menemui banyak kendala seperti masih belum optimalnya pengembangan bisnis produk hilir dalam usaha peningkatan nilai tambah cokelat (Depperin 2009). Strategi bisnis pendahuluan yang dapat diterapkan ialah menganalisis model bisnis produk cokelat tersebut sehingga dapat tercapai kesesuaian dengan konsumen dan pasar.

3 Tujuan Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan model bisnis terbaik dengan pendekatan metode riset aksi untuk pengembangan produk minuman dark chocolate instan sehingga dapat menganalisis kecocokan produk dan pasar melalui pendekatan customer development. . Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian mengacu pada tahapan awal pengembangan pasar yakni customer development. Tahapan ini merupakan salah satu tahap dalam lean start-up yaitu upaya agar sebuah produk baru dapat sukses diterima konsumen. Prinsip utama dari lean startup adalah untuk mengurangi tenaga dan waktu terbuang. Proses ini meningkatkan frekuensi kontak dengan pelanggan sehingga dapat menghindari asumsi pasar yang tidak tepat (Ries 2011). Customer development terdiri atas dua rangkaian tahap diantaranya customer discovery dan customer validation. Penelitian ini berfokus pada menganalisis tahap pertama yakni customer discovery dari produk minuman dark chocolate instan. Pada customer discovery, sebagai tahap awal customer development, visi misi perusahaan dituangkan dalam bentuk hipotesis yang kemudian akan diuji untuk menghasilkan kanvas model bisnis terverifikasi. Dalam customer discovery sendiri terdapat empat sub tahapan yaitu pembuatan hipotesis awal, pengujian masalah, pengujian solusi, dan verifikasi kanvas model bisnis.

METODE Waktu Penelitian Penelitian dilakukan selama bulan Februari sampai Mei 2014. Penelitian dilakukan di Bogor dan Laboratorium Dasar Ilmu Terapan Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB. Instrumen penelitian terdiri atas prototipe produk minuman dark chocolate instan, kanvas model bisnis, dan formulir wawancara sebagai alat untuk mendapatkan data penelitian. Metode Penelitian Hal pertama yang dilakukan dalam customer discovery yakni membuat hipotesis awal. Selanjutnya, pada hipotesis tersebut dilakukan pengujian masalah dan pengujian solusi dengan metode wawancara kepada 50 responden. Hasil wawancara kemudian dianalisis dengan teknik kualitatif. Tindakan iteratif dilakukan apabila hipotesis model bisnis yang dibuat belum sesuai dengan hasil analisis data. Model bisnis merupakan cara mengorganisasikan nilai tambah atau produk agar dapat tersampaikan ke tangan konsumen dan menghasilkan keuntungan (Blank 2012). Setiap bisnis memiliki model bisnis yang berbeda. Model bisnis ini dapat diartikan sebagai strategi bisnis. Osterwalder dan Pigneur (2012) merumuskan model bisnis ini dalam diagram sederhana berupa kanvas model bisnis. Diagram ini terdiri dari 9 blok yang saling berkaitan dalam mendukung model bisnis. Penelitian

4 ini menggunakan metode penelitian tindakan (action research). Menurut Madya (2006), riset pada penelitian tindakan dilakukan berulang-ulang. Tindakan yang dilakukan adalah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahapan ini dilakukan secara sistematik dan dilakukan berulang sehingga mencapai tingkatan tertentu. Penelitian tindakan ini dilakukan pada tahapan pencarian pelanggan. Data yang dihasilkan dalam penelitian berupa data kualitatif. Untuk itu, analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman 1992). Reduksi data adalah pemilihan data dari data kasar di lapangan dan memfokuskan pada topik yang diambil. Penyajian data adalah penyusunan informasi sehingga memungkinkan untuk dilakukan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Tahapan penelitian bisa dilihat pada Gambar 1. Mulai

Pembuatan Hipotesis Kanvas Model Bisnis: 1. Customer Segment 2. Value Proposition 3. Channels 4. Customer Relationship 5. Revenue stream 6. Key resources 7. Key partner 8. Key activity 9. Cost structure

-

Pengujian Masalah Desain pengujian Wawancara responden Memahami permasalahan Mendapatkan gambaran target pasar

-

Pengujian Solusi Pembaharuan kanvas model bisnis Pembuatan presentasi produk Wawancara responden Revisi kanvas model bisnis

Apakah model bisnis sudah layak?

Tidak

Ya Selesai

Verifikasi Kanvas Model Bisnis

Gambar 1 Diagram alir penelitian Identifikasi Bisnis Model Kanvas Penyusunan kanvas model bisnis ini merupakan hipotesis dari penerimaan pasar yang akan diuji. Kanvas model bisnis mencakup sembilan elemen bisnis model yaitu segmen pasar (customer segment), proposisi nilai (value proposition),

5 saluran penjualan (channel), hubungan konsumen (customer relationship), sumber pendapatan (revenue stream), sumberdaya utama (key resource), aktifitas utama (key activities), mitra utama (key partner), dan struktur biaya (cost structure) (Osterwalder dan Pigneur 2012). Pembuatan hipotesis ini dilakukan berdasarkan analisa kebutuhan pasar dan studi literatur. Analisa ukuran pasar (market size) dan penentuan tipe pasar (market type) juga dilakukan sebelum kanvas model bisnis disusun. Hipotesis bisnis model kanvas ini dapat dilihat pada Lampiran 1. Pengujian Masalah Metode pengumpulan data yang digunakan dalam pengujian masalah adalah menggunakan metode wawancara. Metode ini dilakukan dengan tanya jawab dengan segmen konsumen untuk mendapatkan tanggapan dari topik masalah yang diuji (Blank dan Dorf 2012). Wawancara dilakukan dengan responden yang menjadi segmen pasar dalam hipotesis. Jumlah responden yang diwawancarai adalah 50 orang. Pertanyaan yang diajukan digunakan untuk menguji hipotesis proposisi nilai serta pertanyaan terbuka yang digunakan untuk mengetahui masalah lain yang terkait (Blank dan Dorf 2012). Tahapan ini difokuskan untuk menguji elemen proposisi nilai produk dan segmen pasar dalam hipotesis kanvas model bisnis. Panduan wawancara disajikan pada Lampiran 2. Pengujian Solusi Setelah dilakukan uji masalah, tahap selanjutnya adalah uji solusi. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah asumsi hipotesis mengenai solusi yang ditawarkan sudah menjawab kebutuhan atau menyelesaikan masalah yang ada pada masyarakat atau belum. Pengujian dilakukan kepada 50 responden yang sama. Panduan wawancara uji solusi dapat dilihat pada Lampiran 5. Analisis Finansial Perhitungan finansial dilakukan untuk menentukan HPP (Harga Pokok Produksi) sehingga dapat ditentukan harga jual produk yang tepat sebelum dipasarkan. Perhitungan finansial dilakukan dengan merinci biaya produksi, biaya investasi, dan biaya overhead, sesuai dengan asumsi kapasitas produksi per hari yang dibutuhkan dalam setahun. Ketiga rincian biaya tersebut akan menunjukkan total biaya yang dibutuhkan dalam setahun, sehingga HPP akan didapatkan dengan melakukan pembagian antara total biaya dengan kapasitas produksi yang dihasilkan dalam setahun. Verifikasi Kanvas Model Bisnis Pada tahap ini dilakukan analisis data hasil wawancara terhadap pengujian masalah dan pengujian solusi. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui apakah model bisnis yang dibuat sudah sesuai dan layak untuk diujikan ke pasar (menuju tahapan selanjutnya) atau belum. Jika belum, maka harus dilakukan perubahan model bisnis dan perlu dilakukan pengujian kembali baik itu pada bagian pengujian masalah maupun pengujian solusi. Jika sudah, maka penelitian berlanjut ke tahap selanjutnya yaitu validasi model bisnis.

6

HASIL DAN PEMBAHASAN Hipotesis Kanvas Model Bisnis Model bisnis kanvas digambarkan melalui blok-blok bangunan dasar yang menunjukkan logika bagaimana sebuah perusahaan bermaksud untuk menghasilkan uang. Blok-blok ini mencakup empat bidang utama bisnis yaitu pelanggan,penawaran, infrastruktur, dan kelayakan keuangan. Blank dan Dorf (2012) menjelaskan terdapat sembilan blok dalam model bisnis kanvas yaitu customer segment, value propositions, channels, customer relationships, revenue streams, key resources,key activities, key partners, dan cost structure. Pada tahap awal dalam sebuah bisnis model adalah menentukan hipotesis bisnis model dengan kanvas bisnis model (Blank dan Dorf 2012). Hipotesis awal model bisnis kanvas untuk produk dark chocolate instan adalah sebagai berikut : Customer Segments Elemen ini menggambarkan sekelompok orang yang ingin dijangkau atau dilayani oleh perusahaan. Pelanggan merupakan inti dari semua model bisnis, tanpa pelanggan tidak ada perusahaan yang mampu bertahan dalam waktu lama. Untuk lebih memuaskan pelanggan, perusahaan dapat mengelompokkan mereka dalam segmen-segmen berbeda berdasarkan kesamaan kebutuhan, perilaku, atau atribut lain. Ada beberapa jenis segmen pelanggan yang berbeda yaitu : pasar massa, pasar ceruk, tersegmentasi, terdiservikasi, dan platform bersisi banyak. Pada hipotesis awal, customer segment produk minuman dark chocolate instan adalah orang dewasa (laki-laki dan wanita) yang memiliki usia mulai dari 24 tahun. Segmen ini dipilih dengan berasumsi bahwa minuman dark chocolate instan ini memang sangat baik membantu pola hidup sehat untuk laki-laki atau wanita. Masyarakat menengah ke bawah tidak dipilih karena kategori tersebut lebih cenderung membeli produk dengan harga yang murah dan tidak mempedulikan manfaat dari produk tersebut. Sehingga dipilih masyarakat ekonomi kelas menengah ke atas. Selain itu masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas termasuk golongan yang mudah dipengaruhi oleh gaya hidup modern. Value Proposition Elemen ini menggambarkan gabungan antara produk dan layanan yang menciptakan nilai untuk pelanggan spesifik. Proposisi nilai dapat memecahkan masalah pelanggan atau memuaskan kebutuhan pelanggan. Value proposition merupakan kesatuan atau gabungan manfaat-manfat yang ditawarkan perusahaan kepada pelanggan. Value proposition mungkin saja sama dengan penawaran pasar yang sudah ada, tetapi dengan fitur dan atribut tambahan. Ada beberapa atribut yang berkontribusi pada penciptaan nilai pelanggan, yaitu: kebaruan, kinerja, penyesuaian, desain, merek, harga, pengurangan biaya, pengurangan risiko, dan kenyamanan. Value proposition yang ditawarkan produk minuman dark chocolate instan adalah produk ini dibuat untuk menjaga kesehatan konsumen karena memiliki indeks glikemik yang rendah dan rendah kalori sehingga aman dikonsumsi bagi penderita diabetes sekalipun karena produk ini dibuat dengan gula kelapa. Selain itu banyak mengandung flavanoid yang dihasilkan dari cocoa powder yang

7 berfungsi sebagai antioksidan dan tanpa bahan pengawet atau perasa buatan sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menyebabkan penyakit dalam jangka panjang. Channel Elemen ini menggambarkan bagaimana sebuah perusahaan berkomunikasi dengan segmen pelanggannya dan menjangkau mereka untuk memberikan proposisi nilai. Channel yang dilakukan berupa penjualan langsung (direct selling) kepada konsumen terutama mereka yang berada di wilayah Jabodetabek, supermarket, bekerja sama dengan kafe yang ada di wilayah Jakarta dan Bogor, terutama kafe yang mengusung healty kafe. Restoran dan hotel juga menjadi target kami selanjutnya. Pemilihan channels distribusi ini didasarkan pada kebiasaan tempat membeli produk-produk sejenis oleh konsumen pada segmen pasar yang ditargetkan. Customer Relationships Customer relationships adalah cara bagaimana perusahaan menjalin hubungan baik dengan pelanggannya. Ada tiga prinsip penting dalam customer relationships menurut Blank dan Dorf (2012) yaitu “Get, Keep, Grow”. Get yang dimaksudkan disini adalah getting customers, yaitu upaya mengarahkan konsumen pada saluran penjualan produk perusahaan, dilakukan dengan cara mengubah pola pikir calon pelanggan kalau mengkonsumsi cokelat itu tidak menyebabkan penyakit seperti yang mereka khawatirkan selama ini seperti kegemukan, sakit gigi, diabetes atau semacamnya karena produk yang kita buat berbeda dengan produk yang umumnya berada dipasaran. Selain itu pemasaran dari media sosial juga sangat membantu dalam tahap penjualan, selain gratis juga dapat menarik perhatian calon konsumen. Pemasaran melaui media sosial seperti Facebook dan Twitter akan sangat membantu karena pada umumnya orang-orang sekarang tidak bisa lepas dari 2 media sosial tersebut. Tahapan berikutnya adalah Keep (keeping customers), upaya menjaga pelanggan yang sudah didapatkan untuk terus percaya dan berlangganan kepada produk, dilakukan dengan cara memberikan potongan harga (discount) untuk konsumen yang biasa membeli produk atau sudah berlangganan, memberitahukan kepada pelanggan bila ada produk baru kepada pelanggan. Kemudian yang ketiga adalah Grow (growing customers), yaitu upaya memperbanyak pelanggan untuk meningkatkan penjualan. Pembuatan iklan melalui video Youtube dianggap lebih efektif karena tidak memerlukan biaya yang besar bila dibandingkan promosi melalui media elektronik lainnya seperti televisi atau media cetak seperti koran dan majalah, selain itu pembuatan web untuk membantu meningkatkan penjualan produk juga sangat membantu, karena konsumen akan mudah mendapatkan informasi dan spesifikasi produk melalui web yang sudah dibuat. Revenue Streams Revenue Streams adalah pendapatan yang diterima perusahaan dari masingmasing segmen pasar biasanya diukur dalam bentuk uang yang diterima perusahaan dari pelanggannya. Dalam hipotesis model bisnis awal yang dibuat, revenue stream dari perusahaan didapat dari penjualan produk langsung. Penentuan harga jual

8 produk berdasarkan harga-harga minuman di minimarket dan supermarket karena fitur produk yang ingin dibuat yaitu berbentuk minuman instan. Key Resources Key Resources yang diperlukan mencakup empat kategori sumber yaitu bahan baku produksi, teknologi, sumberdaya modal, dan sumberdaya manusia. Sumberdaya bahan baku meliputi cokelat bubuk, gula kelapa, dan krimer nabati. Sumberdaya teknologi adalah peralatan yang digunakan untuk membuat produk yaitu alat pencampur (mixing), pengisi (filling), dan sealler. Sumberdaya modal adalah sumber-sumber pendanaan yang memungkinkan untuk menjalankan aktivitas industri. Sumberdaya modal didapatkan dari modal pribadi. Sumberdaya manusia yang dibutuhkan meliputi bagian produksi, bagian riset and development, dan bagian marketing. Key Activities Setiap model bisnis membutuhkan sejumlah aktivitas kunci, yaitu tindakantindakan terpenting yang harus diambil perusahaan agar dapat beroperasi dengan sukses. Seperti halnya sumber daya utama, aktivitas kunci diperlukan untuk menciptakan dan menawarkan proposisi nilai, menjangkau pasar, mempertahankan hubungan dengan segmen pelanggan, dan memperoleh pendapatan. Aktivitasaktivitas kunci dapat dikategorikan sebagai berikut: proses produksi, pemecahan masalah, dan jaringan atau platform. Kegiatan utama yang dilakukan sama seperti industri lain pada umumnya, yaitu proses produksi, penelitian dan pengembangan produk, dan kegiatan promosi, sosialisasi, dan edukasi untuk calon konsumen tentang manfaat dari cokelat dan gula kelapa supaya calon konsumen tertarik dengan produk yang ditawarkan. Key Partnership Key Partners merupakan sumber daya yang diperlukan oleh perusahaan untuk mewujudkan proposisi nilai, tetapi tidak dimiliki oleh perusahaan tersebut. Partner yang dimaksudkan dalam bisnis model adalah sosok perantara yang bukan milik perusahaan namun berperan dalam mengubah produk/nilai menjadi uang. Menurut Blank dan Dorf (2012), secara umum ada empat jenis hubungan kerjasama dalam bisnis yang harus dimiliki perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pada kondisi tertentu yaitu strategic alliance, joint new business development effort, coopetition, key supplier relationships. Mitra kerja/partner untuk produk minuman dark chocolate instan adalah supplier cocoa powder, supplier gula kelapa, dan supplier krimer, selain itu ada supplier kemasan, pemilik kafe, dan pemilik supermarket. Cost Structure Elemen ini menggambarkan semua biaya yang dikeluarkan untuk mengoperasikan model bisnis. Struktur biaya model bisnis dibedakan menjadi dua kelas, yaitu terpacu nilai (value driven) dan terpacu biaya (cost driven). Model bisnis value driven yaitu berfokus pada penciptaan nilai. Proposisi nilai premium dan layanan pribadi tingkat tinggi biasanya menjadi ciri model bisnis yang terpacu nilai. Model bisnis cost driven yaitu berfokus pada peminimalan biaya. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan dan mempertahankan struktur biaya seminimal

9 mungkin. Biaya yang dikeluarkan untuk model bisnis kanvas ini adalah bahan baku produk (cocoa powder, gula kelapa dan krimer nabati), alat-alat produksi, distribusi, dan transportasi, biaya tempat produksi, biaya kemasan dan biaya overhead. Pengujian Masalah Setelah menentukan hipotesis awal bisnis model maka tahap selanjutnya adalah melakukan pengujian masalah. Pengujian masalah dilakukan untuk mengetahui apakah hipotesis bisnis model yang dirancang sesuai dengan masalah yang dihadapi konsumen. Blank dan Dorf (2012) menjelaskan bahwa dalam tahap ini adalah melakukan survei langsung terhadap 50 calon konsumen potensial untuk menguji permasalahan dalam bisnis model. Tahapan pengujian masalah perlu dilakukan untuk menguji kebenaran dari hipotesis awal, tahap ini juga berguna untuk menangkap pengetahuan pelanggan terhadap produk. Rangkaian Pengujian masalah dilakukan dengan konsep iterasi dengan wawancara. Pengujian masalah dilakukan pada segmen orang dewasa baik laki-laki maupun wanita yang memiliki usia mulai dari 24 tahun. Dari pengujian yang dilakukan langsung melalui proses wawancara kepada responden, dapat diketahui beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Nilai kalorinya tinggi dan takut mengalami kegemukan 2. Rasa cokelatnya produk yang ada tidak alami karena menggunakan perisa buatan 3. Tidak suka minuman cokelat karena ada kandungan susunya (tidak cocok) 4. Tidak praktis (harus menambahkan krimer dan gula terlebih dahulu) Presentase responden yang potensial dan tidak potensial dari 50 responden dapat dilihat pada Gambar 2. Responden potensial sebesar 66% atau sekitar 33 orang akan diwawancarai kembali untuk pengujian solusi sedangkan 17 orang yang tidak potensial akan digantikan dengan 17 yang baru.

34%

66%

potensial

tidak potensial

. Gambar 2 Presentase responden potensial dan tidak potensial berdasarkan uji masalah Terdapat perubahan pada kanvas model bisnis setelah dilakukan pengujian masalah pada elemen value proposition. Value proposition pertama yang memiliki kandungan flavanoid yang terkandung didalam cocoa powder ternyata tidak terlalu

10 berpengaruh terhadap permasalahan yang dihadapi oleh responden karena pada dasarnya tiap cocoa powder mengandung flavanoid, sehingga kandungan flavanoid dalam value proposition harus dihilangkan. Permasalahan yang dihadapi oleh konsumen adalah nilai kalorinya yang tinggi pada produk yang ada selain itu, bila menginginkan minuman yang benar-benar terasa cokelatnya adalah dengan membeli cocoa powder murni lalu konsumen akan menambakan gula atau krimer sendiri sesuai keinginan mereka, hal ini menjadikan produk tersebut tidak praktis buat konsumen, selain itu bila takarannya berbeda akan memberikan rasa yang berbeda. Jadi, praktis masuk kedalam elemen value propositions yang baru, karena rasanya produk sudah disesuaikan dengan keinginan konsumen. Selain itu, produk ini juga tidak ada kandungan susunya sehingga rasa cokelatnya lebih alami. Berdasarkan perubahan value proposition, dirancang solusi yang ditawarkan dari permasalahan konsumen yang dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Identifikasi masalah dan solusi yang ditawarkan Masalah Konsumen Nilai kalorinya tinggi dan takut mengalami kegemukan

Menggunakan perisa cokelat sehingga rasanya tidak alami Tidak suka minuman cokelat karena ada kandungan susunya Tidak praktis (harus menambahkan krimer dan gula terlebih dahulu)

Solusi yang Ditawarkan - Gula yang digunakan adalah gula kelapa sehingga rasanya tidak terlalu manis dibandingkan dengan gula sintetik atau gula tebu, selain itu kandungan indeks glikemiknya lebih rendah. - Rasanya sudah disesuaikan sehingga tidak terlalu manis atau tidak terlalu pahit Gula kelapa memiliki kandungan indeks glikemik dan kalori yang rendah sehingga tidak menyebabkan kegemukan Produk ini dibuat tanpa menggunakan perisa buatan sehingga rasa cokelatnya lebih terasa. Produk ini dibuat tanpa menggunakan bahan sintetik sehingga rasa cokelatnya lebih alami. Tidak ada campuran susu didalamnya, hanya cokelat bubuk krimer nabati dan gula kelapa Praktis ( tidak perlu menambahkan krimer dan gula karena sudah di campurkan dan rasanya sudah sesuai dengan keinginan konsumen).

Pengujian Solusi Pengujian solusi dilakukan dengan menggunakan responden campuran antara responden pada pengujian masalah dan responden baru. Responden baru diwawancarai untuk menggantikan responden lama yang tidak potensial pada pengujian masalah. Daftar responden pengujian solusi dapat dilihat pada Lampiran 5. Peneliti mengembangkan minuman sehat berbasis minuman dark chocolate instan. Banyak responden yang tertarik untuk membeli produk ini karena berbeda dengan minuman cokelat instan pada umumnya dan menggunakan gula kelapa yang

11 tidak memiliki dampak negatif walaupun bagi penderita diabetes. Hasil pengujian solusi dapat dilihat pada Gambar 3.

Rendah Kalori 4%

Produk yang alami 8%

96%

Tertarik

92%

Tidak tertarik

Kepraktisan

Tertarik

Tidak Tertarik

Penerimaan keseluruhan 6%

12%

88%

Tertarik

Tidak Tertarik

94%

Tertarik

Tidak Tertarik

Gambar 3 Hasil pengujian solusi Selanjutnya produk minuman dark chocolate instan ini diujikan kepada responden sehingga dapat dilakukan verifikasi ulang terhadap hasil wawancara. Hasil wawancara adalah sebagai berikut: a. Kehadiran minuman dark chocolate instan sebagai produk kesehatan yang alami karena menggunakan gula kelapa sehingga rendah nilai kalori dan indeks glikemiknya. b. Produk ini juga aman dikonsumsi oleh konsumen karena tidak menggunakan perisa cokelat sehingga rasa cokelatnya lebih alami. c. Minuman dark chocolate instan dianggap lebih praktis karena konsumen hanya tinggal menambahkan air hangat sesuai dengan petunjuk penyajian, rasanya sudah disesuaikan dengan keinginan konsumen d. Variasi rasa yang alami untuk memberikan pilihan lain kepada konsumen, supaya tidak bosan. Hasil pengujian nilai tambah produk menunjukkan hasil yang diharapkan, yaitu customer segment yang ditargetkan memang membutuhkan produk minuman dark

12 chocolate instan. Kemasan yang digunakan dalam bentuk sachet yang mudah dibawa kemana-mana. hasil wawancara menunjukkan bahwa konsumen sudah puas dengan produk yang akan dibuat karena sudah memenuhi semua keinginan dari konsumen sehingga tidak terjadi perubahan pada customer segment dan value propositions. Pada pengujian solusi juga diketahui bahwa responden lebih memilih supermarket sebagai saluran pembelian utama dimana mereka bisa mengakses produk minuman dark chocolate instan. Selain supermarket, responden juga lebih suka membeli produk ini di kafe. Ukuran Pasar (Market Size) Ukuran pasar ditentukan secara bertahap dengan menggunakan pendekatan jumlah penduduk masyarakat Indonesia yang berada pada segmen orang dewasa baik laki-laki atau perempuan kelas ekonomi atas. Ukuran pasar dark chocolate Chocoofaza dapat dilihat pada Gambar 4.

Total Adressable Market sebanyak 50 juta jiwa

Total served market 2.5 juta jiwa

Market

Target market sebesar 1% atau sebesar 1.000 box/hari atau sekitar 25.000 box/bulan

Gambar 4 Ukuran pasar dark chocolate instan Total Addressable Market (TAM) Total addressable market merupakan keseluruhan potensi pasar yang berpeluang untuk menjadi konsumen dari produk/jasa sejenis yang ditawarkan. Menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun 2013 jumlah penduduk di Indonesia usia 24 tahun keatas sebanyak 141.522 juta jiwa. Sementara masyarakat kalangan menengah ke atas di Indonesia adalah sebanyak 20% dari jumlah penduduk atau sekitar 50 juta penduduk (Oberman R et al. 2012). Served Available Market (SAM) Served available market merupakan bagian potensi pasar yang memiliki kencenderungan untuk menggunakan produk yang ditawarkan. Responden ingin mengkonsumsi produk ini dengan berbagai macam alasan seperti ingin mencoba sesuatu yang baru, membantu menjaga kesehatan, atau menjaga berat badan supaya tidak gemuk dan membantu dalam mengatasi stres. Dari data tersebut diperoleh

13 bahwa pangsa pasar yang benar-benar menginginkan value dari produk adalah sebesar 5% dari keseluruhan TAM. Dengan demikian served available market diperkirakan sebesar 2.5 juta buah per hari. Target Market (TM) Target market merupakan bagian dari pangsa pasar yang benar-benar menjadi pengguna dari produk/jasa perusahaan. Target market diasumsikan sebesar 1% dari keseluruhan SAM yaitu sebesar 25.000 kemasan box perbulan atau 1.000 kemasan per hari. Analisis Finansial Selain membahas tentang bisnis kanvas model juga akan dianalisis mengenai finansial. Analisis finansial merupakan salah satu analisis yang penting dilakukan dalam pembuatan suatu produk. Analisis finansial dilakukan untuk mengetahui kelayakan produk dilihat dari sisi ekonomi. Dengan dilakukan perhitungan secara ekonomi ini maka dapat diketahui apakah produk tersebut layak secara ekonomi atau tidak. Analisis ekonomi yang dilakukan meliputi harga pokok produksi (HPP). Berdasarkan asumsi dari target market, yaitu sebesar 1% dari Served Available Market, maka didapatkan perhitungan analisis finansial seperti pada Tabel 2. Tabel 2 Biaya bahan baku minuman dark chocolate instan Bahan Baku Cokelat Bubuk Krimer Gula Kelapa Kemasan Sachet Kemasan Box

Jumlah 60 30 60 5.000 1.000

Jumlah Total Biaya bahan baku

Satuan Kg Kg Kg Buah Buah

Harga Satuan Total Biaya Produksi (Rp) (Rp) Per hari Per tahun 40.000 2.400.000 575.000.000 17.000 510.000 122.400.000 12.000 720.000 172.800.000 100 500.000 120.000.000 500 500.000 120.000.000 4.630.000 1.111.200.000

Berdasarkan rincian biaya produksi, maka diketahui bahwa biaya produksi perharinya sebesar Rp 4.630.000 atau Rp 1.111.200.000 pertahun. Selanjutnya perhitungan biaya umur ekonomis alat seperti pada Tabel 3.

14

Tabel 3 Biaya umur ekonomis alat Komponen 1. Mesin Poduksi Alat Mixing Mesin Filler Sealler 2. Distribusi dan Transportasi Kendaraan Bermotor Bangunan Total Biaya Total Biaya

Umur Ekonomis (tahun)

%

35.000.000 55.000.000 5.000.000

5 5 5

10 10 10

3.500.000 5.500.000 500.000

6.300.000 9.900.000 900.000

200.000.000 250.000.000

5 10

10 10

20.000.000 25.000.000

35.000.000 22.500.000

54.500.000

75.600.000

Harga (Rp)

Nilai Sisa

225.000.000

Rp

Penyusutan (Rp)

Pada perhitungan biaya investasi, maka diperoleh total biaya penyusutan yang harus dikeluarkan dalam usaha pembuatan minuman dark chocolate instan pertahunnya adalah Rp 75.600.000. Selanjutnya akan dilakukan analisis biaya overhead dengan rincian seperti pada Tabel 4. Tabel 4 Biaya overhead minuman dark chocolate instan Komponen Gaji Karyawan Pemeliharaan Listrik Air Total Biaya

Jumlah 10 -

Biaya Perbulan 25.000.000 5.000.000 1.500.000 200.000 31.700.000

Pertahun 300.000.000 60.000.000 18.00.000 2.400.000 380.400.000

Pada rincian biaya overhead atau operasional, maka diperoleh biaya operasional perbulan sebesar Rp 31.700.000 atau Rp 380.400.000 per tahunnya. Biaya operasional ini berdasarkan asumsi sebelumnya yaitu kapasitas 5.000 sachet/hari dengan asumsi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 10 orang karyawan. Setelah didapatkan biaya produksi, biaya penyusutan, dan biaya operasional maka harga pokok produksi (HPP) dapat dihitung seperti pada Tabel 5.

15 Tabel 5 Perhitungan HPP minuman dark chocolate instan Kapasitas Produksi per tahun (sachet)

HPP (Rp/sachet)

(Kapasitas produksi per tahun x jumlah hari kerja setahun)

(Total biaya per tahun : kapasitas produksi pertahun)

(1.111.200.000+ 75.600.000 + Perhitungan 380.400.000)

(5.000 x 240)

(1.567.200.000: 1.200.000)

Hasil

1.200.000

Total Biaya per tahun

Rumus

(Biaya bahan baku + biaya penyusutan + biaya overhead

1.567.200.000

1.306

Harga pokok produksi minuman dark chocolate instan sebesar Rp 1.306 per sachet-nya untuk kapasitas 5.000 sachet per hari. Harga jual kepada konsumen adalah Rp 6.000 per sachet-nya atau Rp 30.000 per box-nya. Verifikasi Model Bisnis Kanvas Verifikasi model bisnis dilakukan pada kesembilan elemen model bisnis. Dari sembilan model bisnis tersebut ternyata terdapat elemen yang masih belum layak, sehingga perlu dilakukan pengulangan. Ketidaklayakan terjadi pada elemen channels yang didasarkan atas alasan seperti: untuk wilayah yang berada diluar kota terutama bukan kota besar, mereka terkendala pada ongkos pengiriman produk sehingga biaya yang dikeluarkan oleh mereka akan lebih mahal dari harga yang sudah ditetapkan. Peneliti kemudian menambahkan agen pada elemen channels untuk setiap daerah sehingga calon konsumen yang berada di suatu wilayah langsung membeli kepada agen didaerah tersebut karena target produk kita adalah hanya memasuki supermarket. Hal tersebut didasarkan dengan adanya peluang kerjasama antara beberapa supermarket dengan UKM dan tempatnya hanya ada dikota-kota besar, jadi untuk permintaan produknya tidak terlalu banyak bila dibandingkan dengan minimarket yang ada di Indonesia. Dengan adanya agen pada elemen channels maka elemen value propositions, key partner, dan customer relationship dalam bisnis model kanvas juga mengalami perubahan. Elemen key partner dengan ditambahkannya jasa pengiriman, produsen harus bekerja sama dengan jasa pengiriman sehingga bisa mendapatkan harga yang lebih murah dibandingkan konsumen biasa. Jasa pengiriman dibutukan karena belum adanya sarana transportasi yang memadai untuk mengirimkan produk sampai ketangan agen yang berada di luar wilayah Jabodetabek. Dengan adanya agen pada setiap daerah lebih memudahkan dalam melakukan penjualan produk kepada konsumen dan lebih tepat sasaran karena kita hanya menjual kepada agen yang sudah ditentukan lalu agen yang akan mencari dan menjual langsung kepada konsumen. Agen akan menghubungi produsen bila tertarik melihat iklan yang sudah dibuat di jejaring sosial atau web dan dengan sendirinya mereka akan memasarkan produk kita kepada konsumen. Produsen harus bisa menjelaskan atau memberikan edukasi kepada agen tentang produk yang dibuat sebelum mereka jual kepada konsumen supaya tidak ada kesalahan dalam menjelaskan kepada konsumen. Untuk

16 mempertahankan agen perlu diberikan hadiah atau rewards yang sudah ditentukan oleh produsen apabila berhasil menjual produk sesuai dengan target yang sudah ditetapkan oleh produsen setiap bulannya. Elemen value proposition juga mengalami perubahan dengan ditambahkannya varian rasa untuk produk ini agar konsumen bisa memilih rasa yang diinginkan atau tidak jenuh dengan rasa yang sama, selain itu agen juga akan lebih mudah untuk menjual kepada konsumen. Harga yang diharapkan perkemasan memang lebih tinggi bila dibandingkan dengan produk minuman cokelat instan lainnya. Hal ini dikarenakan produk yang didesain memang untuk konsumen yang ingin sehat tetapi tetap enak dinikmati, dan untuk calon konsumennya sendiri tidak masalah dengan harga yang kami tawarkan setelah kami wawancarai bahkan dari mereka ada yang tertarik untuk bekerja sama dengan kami karena ada yang memiliki kafe atau ada yang ingin menjadi agen.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Pengujian masalah menunjukkan bahwa responden mempunyai masalah dengan minuman cokelat yang ada dipasaran, yaitu: nilai kalorinya yang tinggi, membuat konsumen takut mengalami kegemukan, rasa cokelat produk yang ada tidak alami karena menggunakan perisa buatan, tidak suka minuman cokelat karena ada kandungan susunya (tidak cocok), tidak praktis (harus menambahkan krimer dan gula terlebih dahulu). Dari hasil pengujian masalah, 66% responden berpotensi untuk menggunakan produk minuman dark chocolate instan, 34% lainnya tidak potensial. Hasil dari pengujian solusi yaitu, sekitar 96% responden tertarik dengan produk ini karena rendah kalori, selain itu 92% tertarik dengan produk ini karena alami dan 88% responden tertarik dengan kepraktisan atau kemudahan dalam mengkonsumsi produk ini. Secara keseluruhan, 94% responden tertarik dengan manfaat dari dark chocolate instan. Harga pokok produksi minuman dark chocolate instan sebesar Rp 1.306 per sachet-nya untuk kapasitas 5.000 sachet per hari. Harga jual kepada konsumen adalah Rp 6.000 per sachet-nya. Saran Penelitian selanjutnya lebih baik jika tahapan customer validation dilakukan agar model bisnis yang dihasilkan menjadi lebih valid.

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Indonesia. 2013. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. Blank S dan Dorf B. 2012. The Startup Owner’s Manual: The Step-by Step Guide for Building a Great Company. United State of America: K&S Ranch, Inc. Publisher. Departemen Perindustrian (Depperin). 2012. Data Produksi Kakao. [Terhubung berkala] http://www.kemenperin.go.id (Juli 2014). Departemen Pertanian Filipina. 2014. Glycemic Index of Coco Sugar. [Terhubung berkala] http://www.pca.da.gov.ph (November 2014)

17 Food and Agriculture Association (FAO). 2011. Data Konsumsi Cokelat Indonesia [Terhubung berkala] http://faostat.fao.org/site/535/default.aspx#ancor (Agustus 2014) Gunawan. 2004. Makalah untuk Pertemuan Dosen UKDW yang akan melaksanakan penelitian pada tahun 2005. [Terhubung berkala] http://uny.ac.id (Juli 2014) Health Education Authority. 2002. Penelitian Pengguna Fast food [Terhubung berkala] http://www.patient.co.uk/leaflets/health_education_authority.htm (Agustus 2014). International Cocoa Organization (ICCO). 2012. Assessment of the Movements of Global Supply and Demand. Executive Committee 136th meeting, Berlin 2728 May 2008. Kementerian Kesehatan (Kemenkes). 2010. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. [Terhubung berkala] http://www.depkes.go.id (Juli 2014) Khasanah N. 2012. Waspadai Berbagai Penyakit Degeneratif Akibat Pola Makan. Laksana. Jogjakarta. Kim M dan Shin H K. 1996. The Water- Soluble Extract of Chicory Reduces Glucose Uptake from the Perfused jejunum in Rats. The Journal of Nutrition. Department of Food Science an Nutrition, Hallym University. Korea. Lee CY. 2003. Hot Cocoa Tops Red Wine And Tea In Antioxidants; May Be Healthier Choice. Article. American Chemical Society. ScienceDaily. Madya S. 2006. Teori dan Praktik Penelitian Tindakan (Action Research). Bandung (ID) : Alfabeta Kotchen TA dan Kotchen JM. 1994. Nutrition, Diet and Hypertension. Modern Nutrition in Health and Disease (8th Ed). United States of America: A Waverly Company. Miles MB dan Huberman AM. 1992. Qualitative Data Analysis : A Sourcebook of New Methods. Beverly Hills Nielsen 2008. Fastfood Research. [Terhubung berkala] http://www.nielsen.com/us/en/press-room/2012/fifty-nine-percent-ofconsumers-around-the-world-indicate-diffic.html (Juli 2014). Osterwalder A dan Pigneur Y. 2012. Business Model Generation. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. Oberman R et al.2012. The archipelago economy: Unleashing Indonesia's potential. [Terhubung berkala] http://www.mckinsey.com/insights/asiapacific/the_archipelago_economy (November 2014) Purnomo H. 1992 Sugar Components of Coconut Sugar in Indonesia. ASEAN Food Journal Vol. 7 No. 4 Hal. 200-201 Ries E. 2011. The Lean Start Up. New York (US) : Crown Publishing Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). 2007. Laporan Nasional 2007. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departemen Kesehatan, Respublik Indonesia. World Health Organization (WHO). 2014. Indonesia Country Profile. [Terhubung berkala] http://www.who.int/countries/idn/en/ (Agustus 2014) Yayasan Jantung Indonesia. Data Penderita Penyakit Jantung Indonesia. [Terhubung berkala] http://www.inaheart.co.id (Agustus 2014)

18

LAMPIRAN Lampiran 1 Hipotesis awal Bisnis Model Kanvas

19

Lampiran 2 Panduan wawancara pengujian masalah A. Identitas Responden: Nama Jenis Kelamin Usia Profesi Penghasilan rata2/bulan Berat / Tinggi Badan Alamat / no.telp

: : : : : : :

B. Konten yang ingin didapatkan - Produk makanan/minuman yang biasa dikonsumsi oleh calon customer segment - Mengatasi masalah pada produk yang dikonsumsi - Ketertarikan dengan produk minuman cokelat baru Pertanyaan pengujian masalah 1. Pentingkah untuk menjaga kesehatan buat anda? Komentar Anda : …. 2. Menurut anda, bagaimana kondisi makanan dan minuman yang sekarang berada di pasaran? Adakah produk yang membantu ada dalam menjaga kesehatan? Komentar Anda : … 3. Apakah anda menyukai minuman cokelat? Komentar Anda : … 4. Jika suka, seberapa sering anda mengkonsumsi minuman cokelat? Komentar Anda : … 5. Apa alasan anda tidak menyukai minuman cokelat? Komentar Anda : … 6. Minuman cokelat apa yang biasa anda konsumsi? Komentar Anda : … 7. Dimana biasanya anda membeli minuman cokelat tersebut? Komentar Anda : … 8. Berapa biaya yang anda keluarkan untuk membeli produk tersebut? Komentar Anda : … 9. Apakah ada kekurangan pada minuman cokelat yang biasa anda konsumsi? Komentar Anda : … 10. Bagaimana anda mengatasi kekurangan dari minuman cokelat yang anda konsumsi? Komentar Anda : … 11. Apakah anda tertarik untuk mengganti produk yang biasa anda konsumsi, jika manfaat yang didapatkan lebih besar? Komentar Anda : …

20

Lampiran 3 Responden pengujian masalah Harga yang dapat dibayarkan (30%)

Pendapatan Perbulan (20%)

Ketertarikan terhadap makanan/ minuman sehat (40%)

Intensitas konsumsi (10%)

Total Bobot

Aisyah Ai

3

3

3

2

2,90

Potensial

Ana Mutiah Desi Permatasari Gebi Karlinda Grace Situmorang Herawati Keisya Novrilia Lisa

3

2

3

2

2,70

Potensial

3

3

2

1

2,40

Potensial

3

3

3

2

2,90

Potensial

3

3

3

3

3,00

Potensial

2

3

3

2

2,60

Potensial

3

2

3

3

2,80

Potensial

3

3

2

3

2,60

Potensial

Martina

3

3

3

2

2,90

Meilisia

2

2

1

1

1,50

Nurmalisa

3

3

3

1

2,80

Potensial Tidak Potensial Potensial

Norma

3

3

3

2

2,90

Potensial

Nurul

2

3

2

2

2,20

Potensial

Rahma

2

2

3

2

2,40

Potensial

Siti Aisyah

3

2

2

2

2,30

Potensial

Tasha

2

3

3

2

2,60

Ulfah

3

2

1

1

1,80

Vanny Putri

3

3

2

2

2,50

Potensial Tidak Potensial Potensial

Verra

3

3

3

3

3,00

Potensial

Wanna

3

2

2

3

2,40

Abdul Bani

3

2

1

1

1,80

Andika

3

2

2

2

2,30

Potensial Tidak Potensial Potensial

Aris

2

2

3

1

2,30

Potensial

Bagus Aditya Deno Setiawan Didi Riyadi

3

3

2

2

2,50

Potensial

3

3

2

2

2,50

Potensial

3

3

3

2

2,90

Potensial

Didit

2

2

3

1

2,30

Potensial

Dody

3

3

3

1

2,80

Fathi

1

2

2

3

1,80

Iman

1

3

2

1

1,80

Iqbal

2

3

1

1

1,70

Potensial Tidak Potensial Tidak Potensial Tidak Potensial

Responden

Potensial/ Tidak

21 Lampiran 3 Responden pengujian masalah (lanjutan)

Responden Willy

Harga yang dapat dibayarkan (30%) 2

2

Ketertarikan terhadap makanan/minuman sehat (40%) 2

Pendapatan Perbulan (20%)

Intensitas konsumsi (10%)

Total Bobot

1

1,90

Potensial/ Tidak

Syaifullah Nur

3

2

3

2

2,70

Tidak Potensial Potensial

Fachri Pratama Rewang Setiawan Agung Prasetyo Widya

2

2

3

1

2,30

Potensial

3

2

1

1

1,80

2

2

3

2

2,40

Tidak Potensial Potensial

3

3

3

1

2,80

Potensial

Nurmana

3

2

1

1

1,80

Rahmat

2

3

3

2

2,60

Tidak Potensial Potensial

Reza Hakim

2

2

1

1

1,50

Aprilia

2

3

1

1

1,70

Dwi Utami

3

2

1

2

1,90

Lia Andini

2

2

2

2

2,00

Anggraini

2

3

1

1

1,70

Dwi Pusparani

2

3

3

2

2,60

Niken Larasati

2

2

3

2

2,40

Tidak Potensial Tidak Potensial Tidak Potensial Tidak Potensial Tidak Potensial Tidak Potensial Potensial

Selly Selmainiar Fitrah Fauziah

2

3

3

2

2,60

Potensial

2

2

3

1

2,30

Potensial

Effi

3

2

1

1

1,80

Natasya

3

1

1

1

1,60

Tidak Potensial Tidak Potensial

≥ 3 kali / minggu (3) 1-2 kali / minggu (2) Tidak pernah (1)

Total Bobot: ≥ 2.1 = Potensial ˂ 2.1 = Tidak Potensial

Keterangan :

> 5,000 (3) :

> 6,000,000 (3) :

2,5005,000 (2) :

4,000,0006,000,000 (2)