TEMPLAT TUGAS AKHIR S1

Download tersebut (meliputi viskositas, pH, dan warna). Daya Hambat Antimikroba. Pengujian antimikroba dilakukan dengan...

1 downloads 174 Views 2MB Size
FORMULASI KONSENTRAT WATER BASED MOUTHWASH DENGAN BAHAN AKTIF MINYAK ATSIRI SIRIH DAN CENGKEH

LIBNA SALSABILA

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Formulasi Konsentrat Water Based Mouthwash dengan Bahan Aktif Minyak Atsiri Sirih dan Cengkeh adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Juli 2016 Libna Salsabila NIM F34110112

ABSTRAK LIBNA SALSABILA. Formulasi Konsentrat Water Based Mouthwash dengan Bahan Aktif Minyak Atsiri Sirih dan Cengkeh. Dibimbing oleh SAPTA RAHARJA dan DWI SETYANINGSIH Kesehatan gigi dan mulut merupakan hal penting bagi banyak orang terutama untuk kehidupan sehari-hari. Salah satu cara menjaganya adalah dengan menggunakan mouthwash atau obat kumur. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai produsen mouthwash membuat inovasi untuk menambahkan zat lain yang bermanfaat bagi kesehatan mulut. Penambahan tersebut harus aman dan efektif, salah satunya dengan herbal atau bahan alami karena dipercaya memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan bahan kimiawi, contohnya minyak atsiri. Minyak atsiri sirih memiliki kandungan utama bernama bethel phenol yang memiliki daya antibakteri yang kuat dan dipercaya sebagai obat untuk kesehatan gigi dan mulut. Begitu pula dengan minyak atsiri cengkeh yang mengandung eugenol, dapat digunakan untuk anestetik ringan dalam mengurangi rasa sakit gigi. Penggunaan kombinasi minyak atsiri sirih dan cengkeh sebagai bahan aktif sediaan obat kumur merupakan salah satu usaha untuk mengeksplorasi manfaatnya tersebut. Penelitian ini memformulasikan produk mouthwash tanpa alkohol berbasis air menggunakan kombinasi bahan aktif yang alami yakni minyak atsiri sirih dan cengkeh. Tujuan dalam penelitian yakni mengetahui formulasi terbaik berdasarkan hasil respon dari organoleptik dengan metode action research Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula yang paling disukai oleh panelis adalah formula 2 yang menggunakan minyak atsiri sirih, cengkeh, dan minyak jahe untuk menyamarkan aftertaste pahit. Produk mouthwash yang dihasilkan mampu memberikan daya penghambatan terhadap mikroba secara umum hingga dilusi 1:10. Kata kunci:minyak cengkeh, minyak sirih, mouthwash, surfaktan, water-based.

ABSTRACT LIBNA SALSABILA. Formulation of Water-Based Mouthwash Concentrate using Betel (Piper betle) and Clove (Syzgium aromaticum) Essential Oils as Active Agent. Supervised by SAPTA RAHARJA and DWI SETYANINGSIH Dental and oral health is an important thing for many people, especially in daily life. One way of maintaining oral health is by using mouthwash or gargle. Along with the progress of science and technology, a lot of mouthwash manufacturers trying to innovate to add other substances that are beneficial to oral health. The addition of other substances in mouthwash should be safe and effective, one of them using herbal or natural ingredients because has been believed to have fewer side effects than chemical one, for example essential oils. Betel essential oils have a main constituent called bethel phenols that have strong antibacterial and used to believe to be a drug for dental and oral health. Similarly, the clove essential oil contain antibacterial called eugenol, which could be used for mild anesthetic in reducing tooth pain. The combined use of betel and clove essential oils as active ingredient dosage in mouthwash is one attempt to explore its benefits. This research have made non-alcohol water based mouthwash using betel and clove essential oils as active agent. The present research is aimed to know the best formulation based on the response from panelist in organoleptic test with action research method. The result showed formula that the most preffered by panelists was formula 2 which was developed from basic formula and used betel, clove and ginger oil in order to mask bitter aftertaste. Mouthwash product is capable to inhibit bacteria in the result of antibacterial test until 1:10 dilution. Keywords: betel essential oils, clove essential oils, mouthwash, water-based, surfactant

FORMULASI KONSENTRAT WATER BASED MOUTHWASH DENGAN BAHAN AKTIF MINYAK ATSIRI SIRIH DAN CENGKEH

LIBNA SALSABILA

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian pada Departemen Teknologi Industri Pertanian

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016

Judul Skripsi : Formulasi Konsentrat Water Based Mouthwash dengan Bahan

PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juni 2015 ini ialah Formulasi Konsentrat Water Based Mouthwash dengan Bahan Aktif Minyak Atsiri Sirih dan Cengkeh. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr Ir Sapta Raharja, DEA dan Ibu Dr Ir Dwi Setyaningsih, MSi selaku dosen pembimbing, serta Dr Farah Fahma, STP, MT selaku dosen penguji. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada yang telah membantu selama pengujian dan pengerjaan skripsi ini. Terima kasih kepada rekan-rekan TINFORMERS, kakak adik di TIN dan HIMALOGIN, para staff, laboran lab TIN, peneliti SBRC, dan semua yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas bantuan dan dukungannya. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, kakak, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya. Semoga skripsi ini bermanfaat.

Bogor, Juli 2016 Libna Salsabila

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR

vi

DAFTAR LAMPIRAN

vi

PENDAHULUAN

1

Latar Belakang

1

Tujuan Penelitian

2

Ruang Lingkup Penelitian

2

METODE

2

Waktu dan Tempat Penelitian

2

Bahan

2

Alat

2

Metodologi Penelitian

2

Tahapan Penelitian

3

HASIL DAN PEMBAHASAN

6

Karakterisasi Minyak Atsiri Sirih dan Cengkeh

6

Formulasi Dasar Pembuatan Mouthwash (Formulasi Tahap I)

7

Karakteristik Responden dan Kecenderungan Pemilihan Produk Mouthwash

9

Organoleptik Tahap I

10

Pengembangan Formulasi Dasar (Formulasi Tahap II)

12

Pengujian Daya Hambat Antimikroba

12

Organoleptik Tahap II

15

Uji pH

17

Uji Viskositas

18

Uji Warna

20

SIMPULAN DAN SARAN

22

Simpulan

22

Saran

22

DAFTAR PUSTAKA

22

LAMPIRAN

28

RIWAYAT HIDUP

46

DAFTAR TABEL 1 Hasil karakterisasi minyak atsiri sirih dan cengkeh 2 Komposisi Mouthwash yang Menggunakan Etanol 3 Formulasi dasar mouthwash dengan bahan aktif (formulasi tahap I) 4 Formulasi pengembangan mouthwash (formulasi tahap II) 5 Indeks daya hambat mouthwash dengan jenis yang berbeda terhadap S. aureus dalam beberapa faktor pengenceran 6 Indeks daya hambat mouthwash dengan jenis yang berbeda terhadap E.coli dalam beberapa faktor pengenceran 7 Nilai pH berdasarkan jenis mouthwash yang berbeda 8 Nilai viskositas mouthwash 9 Hasil uji warna secara visual 10 Nilai absorbansi (uji warna) pada spektrofotometri dengan panjang gelombang 300 nm

6 8 8 12 13 14 17 19 20 21

DAFTAR GAMBAR 1 Alur Proses Penelitian 2 Diagram Alir Penyiapan Media Padat dan Cair 3 Diagram Alir Pengujian Daya Hambat Antimikroba 4 Penampakan Minyak Sirih dan Cengkeh 5 Hasil Organoleptik Konsentrat Mouthwash Tahap I (Formula Dasar) 6 Hasil Organoleptik Dilusi Mouthwash Tahap I (Formulasi Dasar) 7 Hasil Organoleptik Konsentrat Mouthwash Tahap II 8 Hasil Organoleptik Dilusi Mouthwash Tahap II

3 4 5 7 10 11 16 16

DAFTAR LAMPIRAN 1 Metode Pengujian Analisa Mutu 2 Anova dan Uji Duncan Daya Hambat, Absorbansi, pH, dan Viskositas 3 Besar zona hambat mouthwash terhadap S. aureus dan E. coli 4 Hasil Perhitungan TPC (Total Plate Count) 5 Lembar Kuesioner 6 Lembar Organoleptik Tahap I 7 Lembar Organoleptik Tahap II

26 27 33 35 36 37 38

1

PENDAHULUAN Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut merupakan hal penting bagi banyak orang terutama untuk kehidupan sehari-hari. Salah satu cara menjaganya adalah dengan menggunakan mouthwash atau obat kumur. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai produsen mouthwash membuat inovasi untuk menambahkan zat lain yang bermanfaat bagi kesehatan mulut. Penambahan tersebut harus aman dan efektif, salah satunya dengan herbal atau bahan alami karena dipercaya memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan bahan kimiawi, contohnya minyak atsiri. Minyak atsiri sirih dan cengkeh bahan bakunya melimpah di Indonesia. Minyak sirih memiliki kandungan utama bernama bethel phenol atau fenol dan turunannya yang memiliki daya antibakteri yang kuat, serta katekin dan tanin yang merupakan senyawa polifenol antioksidan (Darwis S. N. 1992, Naini A. 2006). Pada penelitian Praptiwi et al. (2009), sirih memiliki daya hambat sekaligus daya bunuh terhadap bakteri penyebab penyakit gigi dan mulut periodontis. Minyak cengkeh banyak dimanfaatkan untuk industri farmasi, parfum, makanan atau minuman dengan kandungan utamanya adalah eugenol yang mencapai kadar 7092% (Alma 2007, Bhuiyan 2010, Towaha 2012, Debjit 2012). Cengkeh ada yang terdapat dalam pasta gigi merupakan anestetik ringan yang bersifat sementara.untuk membantu mengurangi rasa sakit gigi (Hosseini M. et al. 2011). Oleh karenanya, penggunaan kombinasi minyak atsiri sirih dan cengkeh sebagai bahan aktif sediaan obat kumur merupakan salah satu usaha untuk mengeksplorasi manfaat dan potensinya tersebut. Pemanfaatan bahan alami akan mengurangi efek samping yang dapat ditimbulkan bila menggunakan bahan kimia untuk produk. Zat antimikroba jika digunakan dalam bentuk kombinasi memiliki beberapa keuntungan yaitu melalui efek sinergisme atau adisi, mengurangi kemungkinan terjadinya resistensi selaindapat meningkatkan efektivitas pengobatan, terutama jika kedua zat tersebut memiliki mekanisme aksi yang berbeda tetapi saling mendukung (Li dan Tang, 2004). Selain itu menurut McCullough M. pada Australian Dental Journal (2008) alkohol dalam bentuk etanol pada obat kumur berperan sebagai zat karsinogen atau pemicu kanker yang berpenetrasi dalam lapisan rongga mulut dan meningkatkan resiko kanker mulut. Sehingga dibutuhkan pembuatan mouthwash tanpa alkohol untuk menghindari peningkatan resiko tersebut. Penelitian ini membuat formulasi mouthwash berbasis air saja tanpa pelarut alkohol (water-based) dengan kombinasi dua bahan aktif herbal alami dari minyak atsiri sirih dan cengkeh. Kedua bahan aktif tersebut dipilih karena sesuai dengan fungsinya masing-masing, seperti minyak atsiri sirih dan cengkeh dapat berkhasiat menghilangkan bau yang ditimbulkan bakteri dan cendawan, serta sebagai antibiotik yang terpercaya turun-temurun sebagai obat untuk gigi dan mulut. Basis mouthwash dibuat dengan air yang dibentuk menjadi sediaan konsentrat menggunakan surfaktan. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi formulasi terbaik yang kompetitif pada saat ini dan mendatang untuk kesehatan mulut.

2

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan formulasi terbaik berdasarkan respon responden dan penerimaan panelis terhadap produk water based mouthwash berbahan dasar minyak atsiri sirih dan cengkeh dari produk model awal hingga produk model akhir yang diterima oleh responden, mengetahui adanya daya hambat produk pada biakan bakteri S. aureus dan E. coli untuk menentukan hasil dilusi terpilih untuk produk. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dibatasi pada formulasi produk mouthwash tanpa alkohol berbahan dasar minyak atsiri sirih dan cengkeh berdasarkan respon responden dan penerimaan panelis dengan metode action research dari produk model awal hingga produk model akhir yang diterima oleh panelis.

METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian keseluruhan dilaksanakan di Laboratorium Pusat Surfaktan dan Bioenergi, Kampus IPB Baranangsiang, Jalan Padjajaran No. 1, Kota Bogor mulai dari bulan Juni 2015 sampai Februari 2016. Bahan Bahan yang digunakan dalam pembuatan mouthwash adalah minyak atsiri sirih dan minyak atsiri cengkeh sebagai bahan aktif. Kemudian minyak atsiri jahe, minyak atsiri cajuput (kayuputih) sebagai bahan tambahan untuk menyamarkan aftertaste, surfaktan Sodium Lauryl Sulfate sebagai emulsifier dan deterjen, gliserin sebagai humektan (pelembab), sorbitol sebagai pemanis, penjernih dan pengental. Pengujian daya hambat antimikroba menggunakan biakan Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. media bakteri Nutrient Broth (Oxoid), Bacteriological Agar (Bacto), serta cakram ukuran 5 mm dibuat menggunakan kertas saring yang dibentuk lingkaran dengan pembolong kertas. Alat Warna dari mouthwash dianalisis menggunakan alat Spektrofotometer Hitachi U-2900. Viskositas mouthwash dianalisis menggunakan alat viskosimeter Brookfield tipe V-III Ultra Programmable Rheometer. Karakteristik nilai pH mouthwash dianalisis menggunakan pHmeter Schott handylab 11. Metodologi Penelitian Penelitian ini dibuat dengan memformulasikan mouthwash menggunakan metode action research dalam pengerjaannya. Kemudian dilakukan pengembangan dari produk yang telah dibuat untuk menyelesaikan permasalahan

3

yang ada dari produk mouthwash yang pertama kali dibuat.hingga menemukan formulasi yang terbaik hasil pilihan panelis. Alur proses penelitian tersebut disajikan dalam gambar 1. Kuesioner Konsumen (Voice of Consumer)

Input Data

Uji Organoleptik (tes pada panelis)

Pembuatan mouthwash

Tidak Sesuai? Ya Karakterisasi (analisa mutu)

Produk

Gambar 1 Alur Proses Penelitian Kuesioner adalah alat survei untuk mengetahui jenis mouthwash yang diinginkan oleh responden sehingga membentuk arah penelitian pembuatan mouthwash. Setelah didapatkan hasil data, dilakukan pembuatan mouthwash sesuai hasilnya untuk langsung diuji organoleptik. Jika formula produk tersebut telah sesuai dengan yang diinginkan oleh panelis, maka produknya kemudian dikarakterisasi/dianalisis mutunya. Namun jika tidak, akan dilakukan pembuatan mouthwash kembali untuk mengembangkan produk hasil uji organoleptik sebelumnya, dan begitu seterusnya hingga didapatkan hasil yang mendekati harapan panelis. Analisis mutu yang dilakukan meliputi viskositas, pH, dan warna yang prosedur pengujiannya bersama dengan pengujian organoleptik dilampirkan pada Lampiran 1. Tahapan Penelitian Alur proses penelitian dapat dijabarkan lebih lengkap menjadi tahapan pada penelitian ini. Tahapan penelitian meliputi penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Penelitian pendahuluan dilakukan sebelum melakukan penelitian utama, berupa karakterisasi minyak atsiri untuk mengetahui karakteristik minyak atsiri sebagai bahan aktif yang digunakan dalam penelitian ini meliputi minyak atsiri sirih dan cengkeh dengan pengujian warna atau penampakan secara visual, berat jenis/densitas, dan kelarutan dalam alkohol. Pengujian warna atau penampakan secara visual dari bahan aktif dapat mempengaruhi warna produk secara keseluruhan, berat jenis/densitas diuji agar memudahkan dalam menyamakan satuan untuk persenan formulasi, kelarutan dalam alkohol diuji untuk mengetahui

4

minyak tersebut benar-benar minyak yang diinginkan atau tidak karena bahan yang digunakan disuling dari tanaman aslinya. Penelitian utama yang dilakukan terdiri dari kuesioner dan pembuatan mouthwash dan pengujian keseluruhan seperti yang ada pada alur proses penelitian. Pembuatan dan pengujian keseluruhan terdiri dari pembuatan formulasi dasar mouthwash dengan metode trial error hingga didapatkan 3 formula, organoleptik tahap I hingga terpilih 1 formula, pembuatan formulasi pengembangan mouthwash (meliputi formulasi pengembangan untuk menyamarkan aftertaste hingga dikembangkan menjadi 3 formula dan pengujian daya hambat antimikroba terhadapnya), organoleptik tahap II pada 3 formula hasil pengembangan, kemudian dilanjutkan dengan analisa mutu pada 3 formula tersebut (meliputi viskositas, pH, dan warna). Daya Hambat Antimikroba Pengujian antimikroba dilakukan dengan menggunakan metode perhitungan daya hambat menggunakan difusi cakram dengan dua jenis bakteri yakni E. coli dan S. aureus. Metode uji daya hambat antimikrobial yang digunakan adalah metode difusi dengan cakram kertas, yang disebut cara Kirby Bauer. Uji ini menggunakan kertas cakram saring (paper disc) yang berfungsi untuk tempat menampung zat antimikroba (Kusmayati dan Agustini 2007). Mikroba ditumbuhkan pada permukaan medium dan kertas saring yang berbentuk cakram diletakkan pada medium/lempeng agar yang telah mengandung mikroba. Setelah inkubasi diameter zona penghambatan diukur menggunakan penggaris. Dilakukan penyiapan dua macam media yakni media padat NA untuk regenerasi stok mikroba, pengujian antimikroba dilusi cakram, serta TPC dan media cair dengan menggunakan media NB sebelum pengujian untuk sampel mikroba dalam media cair ditampilkan dalam gambar 2. Media bubuk untuk agar (3,9 gr/100 ml akuades)

Media NB (3,9 gr/100 ml akuades)

Dipanaskan sambil diaduk hingga larut sampai mendidih

Dipanaskan sambil diaduk hingga larut sampai mendidih

Dituang ke tabung (15 ml media/tabung)

Dituang ke tabung (10 ml media/tabung)

Sterilisasi dengan autoclave (suhu 121oC)

Media padat

Sterilisasi dengan autoclave (suhu 121oC)

Media cair

Gambar 2 Diagram Alir Penyiapan Media Padat dan Cair

5

Setelah media padat dan media cair selesai disiapkan, dilakukan regenerasi terhadap bakteri untuk membuat stoknya. Regenerasi dilakukan dengan cara menuang media padat ke dalam cawan petri dan didiamkan memadat, kemudian dari stok sampel bakteri diambil sebanyak 2 ose dan digoreskan pada media yang telah memadat. Lalu sampel diinkubasi dalam suhu optimum pertumbuhan bakteri pada temperatur 37oC, disimpan sebagai stok bakteri. Dilakukan regenerasi terhadap dua jenis bakteri yakni E. coli dan S. aureus. Setelah itu, dibuat suspensi bakteri dalam media cair sebanyak 10 ml. Pembuatan sampel bakteri dalam media cair dilakukan masing-masing sebanyak dua kali untuk setiap jenis bakteri sebagai ulangan. Cara pembuatan sampel bakteri dalam media cair dengan diambil 1 ose sampel bakteri dari stok, kemudian dimasukkan ke dalam media cair dengan sedikit digoyangkan. Sampel bakteri media cair lalu diinkubasi selama 48 jam dalam suhu optimum pertumbuhan bakteri pada temperatur 37oC. Setelah itu sampel media cair ini kemudian dapat digunakan untuk uji daya hambat antimikroba dan membuat perhitungan indeks daya hambat. Urutan metode untuk pengujian daya hambat antimikroba disajikan dalam gambar 3. Media padat yang masih dalam keadaan cair di tabung (hangat)

Dimasukkan 0.1 mL ke dalam media, dikocok perlahan

Dituang ke dalam cawan hangat-hangat, dibiarkan memadat

Cakram direndam dalam mouthwash (selama 30 detik)

Cakram diletakkan secara steril ke permukaan media dalam cawan, diseal dengan plastic wrap

Sampel uji daya hambat (inkubasi 48 jam)

Gambar 3 Diagram Alir Pengujian Daya Hambat Antimikroba Proses pengujian pengukuran daya hambat antimikroba pada mouthwash dengan metode difusi cakram dilakukan dengan menuang 0,5 ml media cair yang telah ditumbuhi oleh bakteri ke dalam tabung berisi media padat yang masih dalam keadaan belum memadat (masih cair). Kemudian, dilakukan penuangan

6

keseluruhan isi tabung (15 ml) ke dalam cawan dan dibiarkan hingga memadat dalam keadaan steril. Pada penelitian ini dilakukan pengujian menggunakan cakram berdiameter 5 mm yang dibuat dari kertas saring lingkaran, yang zona inhibisinya diukur menggunakan penggaris dan dibuat perhitungan indeks daya hambatnya. menggunakan perhitungan: π·π‘–π‘Žπ‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘Ÿ π‘§π‘œπ‘›π‘Ž β„Žπ‘Žπ‘šπ‘π‘Žπ‘‘ βˆ’ π·π‘–π‘Žπ‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘Ÿ π‘π‘Žπ‘˜π‘Ÿπ‘Žπ‘š πΌπ‘›π‘‘π‘’π‘˜π‘  π·π‘Žπ‘¦π‘Ž π»π‘Žπ‘šπ‘π‘Žπ‘‘ = π·π‘–π‘Žπ‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘Ÿ π‘π‘Žπ‘˜π‘Ÿπ‘Žπ‘š Pada penelitian ini, cakram yang berukuran 5 mm kemudian dicelupkan selama 30 detik ke dalam mouthwash seperti lamanya waktu orang berkumur, lalu ditempelkan di atas media yang terkandung bakteri dan telah memadat tersebut. Hasil diamati dan diukur diameter zona hambat dan dihitung indeks diameter daya hambatnya setelah diinkubasi selama 48 jam.

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi Minyak Atsiri Sirih dan Cengkeh Minyak atsiri berwujud cairan diperoleh dari bagian tanaman yang dalam keadaan segar dan murni umumnya tidak berwarna, namun pada penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi. Biasa dilakukan karakterisasi untuk mengetahui mutu minyak atsiri (Ketaren 1985). Karakterisasi minyak atsiri dilakukan dengan menguji penampakan warna, berat jenis/densitas, dan kelarutan menggunakan alkohol. Hasil uji tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 Hasil karakterisasi minyak atsiri sirih dan cengkeh Parameter

Minyak Atsiri Sirih Kuning jernih

Referensi Minyak Atsiri Sirih Kuning jerniha

Minyak Atsiri Cengkeh Kuning muda

Densitas (g/mL)

0.940

0.939b;

1.037

SNI Minyak Cengkehd Tidak berwarnakuning kecokelatan 1.025-1.049

Kelarutan menggunakan alkohol

1:2

1:2

1:2

Warna

c

0.944-0.984 ;

a

-

Sumber: Koensoemardiyah (2010), Nasional (2006)

b

Bria (2011),

c

Nahak (2011),

d

Badan Standardisasi

Pengujian visual penampakan warna dilakukan untuk mengetahui warna asli minyak atsiri yang digunakan dan mungkin saja dapat mempengaruhi hasil akhir dari produk. Minyak atsiri sirih memiliki warna kuning jernih sedangkan minyak atsiri cengkeh berwarna kuning kecokelatan jernih, sesuai dengan literatur yang menyatakan warna minyak atsiri sirih kuning muda jernih dari Koensoemardiyah (2010) dan warna minyak atsiri cengkeh dari SNI Minyak Cengkeh (2006) yang menyatakan minyak cengkeh merupakan minyak atsiri berwarna kuning muda-

7

kecokelatan dan jernih berasal dari tanaman cengkeh (Syzigium aromaticum). Warna penampakan minyak atsiri sirih dan cengkeh sesuai dengan literatur yang artinya mutunya cukup baik. Penampakan minyak atsiri yang digunakan ditampilkan pada gambar 4.

Gambar 4 Penampakan Minyak Sirih dan Cengkeh Berat jenis minyak atsiri umumnya berkisar antara 0,800-1,180 g/mL dan merupakan salah satu kriteria penting dalam penentuan mutu dan kemurnian minyak atsiri serta dapat mempermudah penyamaan satuan dalam formulasi agar dapat diukur secara berat ataupun volume. Berat jenis/densitas minyak atsiri dihitung dengan menggunakan alat densitymeter karena setiap jenis minyak atsiri memiliki densitas yang berbeda-beda dan khas tergantung dari setiap senyawa yang ada di dalamnya. Berat jenis cengkeh adalah sebesar 1,037 g/mL Hal ini sesuai dengan SNI yang mengatur tentang mutu dari minyak cengkeh yakni berat jenisnya 1,025-1,049 g/mL (BSN 2006), sedangkan berat jenis minyak atsiri sirih didapatkan sebesar 0,940 g/mL, berbeda sedikit dengan hasil dari penelitian Bria (2011) sebesar 0,939 g/mL. Minyak atsiri mempunyai nilai kelarutan dalam alkohol yang spesifik, sehingga sifat ini bisa digunakan untuk menentukan kemurniannya. Kelarutan ini dinyatakan dalam nilai perbandingan banyaknya minyak atsiri yang larut sempurna dengan pelarut alkohol dengan perbandingan minyak 1 dan alkohol hingga bening, untuk meyakinkan bahwa minyak yang digunakan cukup baik sehingga memiliki daya antimikroba yang baik dan aman digunakan dalam mouthwash. Hasilnya menunjukkan kedua minyak dapat larut dalam alkohol pada perbandingan 1:2, sesuai dengan SNI minyak cengkeh yang menyatakan demikian (BSN 2006). Minyak atsiri sirih juga larut dalam alkohol pada perbandingan 1:2, namun belum memiliki standardisasi secara nasional. Formulasi Dasar Pembuatan Mouthwash (Formulasi Tahap I) Komposisi mouthwash secara umum adalah zat aktif, air (pelarut), dan pemanis (perasa). Sering digunakan bahan pemanis seperti sorbitol, sucralose, sakarin Na, atau xylitol (yang juga memberikan aktivitas penghambatan pertumbuhan mikroba). Formulasi mouthwash dilakukan dengan metode trial error modifikasi literatur Hunter (2009) dengan menghilangkan alkohol dalam formulasinya, sehingga didapatkan 3 formula dasar dengan bahan-bahan seperti minyak sirih, minyak cengkeh, gliserin, sorbitol, air, minyak peppermint dalam pembentukan keseluruhan produk mouthwash. Menurut Hunter (2009), mouthwash umumnya memiliki komposisi yang disajikan pada tabel 2.

8

Tabel 2 Komposisi Mouthwash yang Menggunakan Etanol Bahan Bahan Antiseptik Sorbitol 70% Minyak Atsiri Asam Sitrat Emulsifier Etanol Minyak peppermint Air Pengawet Pewarna

Komposisi (%) 0,2 – 1 30 0,2 - 0,5 0,1 1,0 10,0 0,5 (hingga 100 %) secukupnya secukupnya

*Sumber: Hunter Murray (2009), The Application of Essential Oil

Penelitian ini menggunakan Sodium Lauryl Sulfate yang berfungsi sebagai emulsifier karena memiliki sifat polar (gugus hidrofilik) yang dengan mudah larut di dalam air dan sifat non polar (gugus hidrofobik) yang mudah larut dalam minyak sehingga dapat menyatukan kedua fasa tersebut menjadi satu sistem emulsi. SLS juga berfungsi sebagai agen pembusa yang membantu pengangkatan plak dan sisa-sisa makanan dari gigi (Marrakchi et al., 2006). Gliserin digunakan sebagai humektan atau pelembab yang dapat menjaga kelembaban mulut agar tidak kering iritasi ketika kontak dengan produk. Formulasi dilakukan dengan cara memvariasikan komposisi persen bahan aktif yakni minyak atsiri sirih dan cengkeh, serta sorbitol yang dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3 Formulasi dasar mouthwash dengan bahan aktif (formulasi tahap I) Formula Minyak Sirih Minyak Cengkeh Minyak Peppermint SLS Sorbitol Gliserin Akuades Minyak Limonene

Formula 1 (%) 100,175 100,025 100,25 100,5 110 100,25 188,8

Formula 2 (%) 100,1 100,025 100,25 100,5 107,5 100,25 191,3 100,05

Formula 3 (%) 100,175 100,025 100,25 100,5 112,5 100,25 186,3

Ketiga formulasi tersebut adalah persentase ketika 100% adalah keadaan mouthwash telah diencerkan sebanyak 1:7, perbandingan 1 untuk konsentrat mouthwash dan 7 untuk air dengan kombinasi minyak sirih, minyak cengkeh dan sorbitol sehingga bahan lain tetap. Akuades/air ditambahkan sebagai pemenuh agar menjadi 100%. Formula 2 menggunakan minyak Limonene untuk menambah rasa. Jumlah total minyak atsiri (jika jumlah keseluruhan minyak atsiri ditambah), mengikuti jumlah dalam Hunter (2009) sebesar 0,2%. Pada literatur tersebut, minyak atsiri berfungsi untuk penambah rasa ketika berkumur dan minyak peppermint dipisahkan dengan minyak atsiri lain karena fungsinya dikhususkan untuk memberikan efek kesegaran setelah berkumur (aftertaste). Minyak atsiri selain dianggap sebagai pemberi rasa dan aroma, juga digunakan untuk bahan antiseptik/menghambat aktivitas mikroba. Efek antiseptik diharapkan didapatkan dari minyak atsiri sirih dan cengkeh sebagai basisnya dan

9

atsiri lain yang ditambahkan seperti minyak peppermint yang pada tiap formula jumlah persentasenya sama. Penelitian Cahyanti (2014) yang membandingkan aktivitas antibakteri daun sirih dan fluor ditemukan bahwa daya hambat minyak atsiri daun sirih lebih besar daripada NaF pada semua konsentrasi uji dengan konsentrasi minimum 0,1%. Oleh karena itu konsentrasi 0,1% dari minyak atsiri sirih digunakan pada formula 2. Menurut Mohd Sajjad (2012) minyak cengkeh tak hanya mampu menghambat pertumbuhan bakteri namun juga menghambat pertumbuhaan jamur seperti Candida albicans yang dapat menyebabkan penyakit sariawan pada mulut. Menurut Raut J. S. dan Karupayil (2014), minyak cengkeh dapat menghambat mikroba E. coli pada konsentrasi minimum sebesar 0,025% dan berpotensi menghambat S. aureus pada konsentrasi 300

42

E. coli 2

6

0

Gambar 104

105

36

Lampiran 5 Lembar Kuesioner Kuesioner Tanggal : Nama : No. HP : Penelitian ini mencoba membuat formulasi obat kumur alami konsentrat berbasis pelarut air dengan bahan aktif minyak atsiri sirih dan atsiri cengkeh. Berikan tanda ceklis (√) dan isilah sesuai jawaban Anda 1. Jenis kelamin Anda? ( ) laki-laki ( ) perempuan 2. Alasan apa yang membuat Anda menggunakan obat kumur? (boleh pilih lebih dari satu) ( ) Mulut lebih bersih ( ) Mengurangi penyakir (karies dan gigi berlubang) ( ) Nafas lebih segar ( ) Rasa dan wangi obat kumur yang enak 3. Berapa lama Anda telah menggunakan obat kumur*? ( ) < 3 tahun ( ) 7-10 tahun ( ) 3-5 tahun ( ) >10 tahun ( ) 5-7 tahun 4. Seberapa sering Anda menggunakan obat kumur*? ( ) Selalu (1-2 kali/hari) ( ) Rutin namun tidak sering (2-3 kali/minggu) ( ) Lainnya: ________________________________________ (isi jawaban Anda) 5. Jenis obat kumur apa yang Anda gunakan*? (Sebutkan merk, boleh lebih dari satu): ____________________________________ 6. Obat kumur seperti apa yang baik menurut Anda? ____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________

37

Lampiran 6 Lembar Organoleptik Tahap I Lembar Uji Tanggal Nama Umur No. HP

: : : :

Nyatakan kesukaan Anda terhadap sampel, meliputi kenampakan, warna, aroma, rasa, kekentalan, dan penerimaan umum, dengan menuliskan angka sesuai penilaian Anda. Tuliskan penilaian Anda dalam tabel sebagai berikut: 1 = Sangat tidak suka 2 = Tidak suka 3 = Netral 4 = Suka 5 = Sangat suka Setelah diencerkan Konsentrat Parameter 351 275 468 157 729 635 Kenampakan (kejernihan) Warna Aroma (wangi) Rasa Kekentalan Penerimaan umum (keseluruhan) 7. Apakah kelebihan sampel obat kumur yang Anda coba dengan obat kumur yang biasa Anda gunakan meliputi kategori di atas? ____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________ 8. Apakah kekurangan sampel obat kumur yang Anda coba dengan obat kumur yang biasa Anda gunakan* meliputi kategori di atas? ____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________ 9. Apa saran Anda untuk pengembangan sampel formula obat kumur yang Anda coba? ____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________

38

Lampiran 7 Lembar Organoleptik Tahap II Lembar Uji Tanggal Nama Umur No. HP

: : : :

Nyatakan Kesukaan Anda terhadap sampel, meliputi kenampakan, warna, aroma, rasa, kekentalan, dan penerimaan umum, dengan menuliskan angka sesuai penilaian Anda. Tuliskan penilaian Anda dalam tabel sebagai berikut: 1 = Sangat tidak suka 2 = Tidak suka 3 = Netral 4 = Suka 5 = Sangat suka Hasil Dilusi

Parameter 457

672

Konsentrat 293

524

723

382

Kenampakan (kejernihan) Warna Aroma (Wangi) Rasa Aftertaste (pahit) Kekentalan Penerimaan umum (keseluruhan) Saran: ________________________________________________________________________ ________________________________________________________________________ ________________________________________________________________________ ________________________________________________________________________ ________________________________________________________________________ ________________________________________________________________________

39

RIWAYAT HIDUP Libna Salsabila lahir di Jakarta, 17 April 1992 yang merupakan putri kedua dari pasangan Be Helmi Hakkie dan Lucky Permana Lestari.Penulis bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Depok (SMAN 1 Depok) sebelum akhirnya berkuliah di Institut Pertanian Bogor Fakultas Teknologi Pertanian Departemen Teknologi Industri Pertanian dengan tahun masuk 2011. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif tergabung pada beberapa kepanitiaan acara-acara kemahasiswaan di IPB.Penulis juga sempat aktif tergabung sebagai anggota dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate (20112012), dan Organisasi Internasional AIESEC (2011-2013) sebagai anggota yang kemudian menjabat sebagai Vice President of Communication (20122013).Setelah itu, penulis aktif menjadi anggota pengurus di Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri (HIMALOGIN) sebagai Staff Internal pada divisi Human Resource Development (HRD) (2014-2015). Penulis pernah menjadi peserta dalam lomba karya tulis UNICEF Challenge, dan peserta lomba Pekan Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (2014) dengan judul β€œFISHBOS: Pangan Fungsional Kaya Kalsium” yang lolos didanai oleh Dikti. Saat mahasiswa, penulis berpraktik lapang di PT. Amanah Prima Indonesia, Tangerang dengan tema Mempelajari Pengawasan Mutu Produk Jus Buah Ready To Drink. Penulis melakukan penelitian tugas akhirnya yang berjudul Formulasi Konsentrat Water-Based Mouthwash dengan Bahan Dasar Minyak Atsiri Sirih dan Cengkeh di bawah bimbingan Dr Ir Sapta Raharja, DEA dan Dr Ir Dwi Setyaningsih, MSi.