TEMPLAT TUGAS AKHIR S1

Download dan Perbaikan Mutu Buah Srikaya Jumbo (Annona squamosa L.) adalah benar ... bunga srikaya menghasilkan persenta...

1 downloads 184 Views 2MB Size
INDUKSI PEMBUNGAAN DAN PERBAIKAN MUTU BUAH SRIKAYA JUMBO (Annona squamosa L.)

RESMINARTI A24090122

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Induksi Pembungaan dan Perbaikan Mutu Buah Srikaya Jumbo (Annona squamosa L.) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Februari 2014 Resminarti NIM A24090122

ABSTRAK RESMINARTI. Induksi Pembungaan dan Perbaikan Mutu Buah Srikaya Jumbo (Annona squamosa L.). Dibimbing oleh ENDAH RETNO PALUPI. Buah srikaya (Annona squamosa–Annonaceae) merupakan salah satu buah lokal yang disukai. Salah satu kendala dalam meningkatkan produksi adalah rendahnya bunga yang dihasilkan dan bunga yang bersifat dikogami, polen dan stigma tidak matang secara bersamaan. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan pembungaan melalui pemangkasan dan memperbaiki kualitas buah melalui penyerbukan. Penelitian dilakukan di Pakem, Sleman, Yogyakarta Utara pada bulan Februari sampai Juli 2013. Penelitian ini terdiri atas dua tahap percobaan yang dirancang dalam RKLT satu faktor. Faktor yang digunakan pada percobaan pertama adalah tipe pemangkasan yang terdiri atas pemangkasan total, pemangkasan sedang, dan tanpa pemangkasan sebagai kontrol. Percobaan kedua diawali dengan pengamatan terhadap perkembangan kuncup bunga dan perubahan yang terjadi pada permukaan stigma untuk menentukan masa reseptifnya. Kemudian dilanjutkan dengan percobaan tipe penyerbukan yang terdiri atas penyerbukan buatan, alami, dan modifikasi alami. Hasil pengamatan percobaan pertama menunjukkan bahwa peningkatan pembungaan dari pemangkasan total mencapai 83.3% dan dari pemangkasan sedang mencapai 41.8% dari tanpa pemangkasan. Buah yang masak dari perlakuan pemangkasan total mencapai 5%, pemangkasan sedang 3.9%, dan tanpa pemangkasan 2.2% dari kuncup bunga yang muncul. Pengamatan fenologi pembungaan menunjukkan bahwa perkembangan dari kuncup bunga sampai bunga layu berkisar 25-34 hari. Periode reseptif stigma terjadi pada waktu 05.00 - 14.00 dan 17.00 - 02.00. Penyerbukan buatan pada bunga srikaya menghasilkan persentase pembentukan buah 90 %, sementara penyerbukan alami dan modifikasi alami menghasilkan pembentukan buah sebesar 70 %. Penyerbukan buatan menghasilkan buah yang lebih simetris dengan kisaran bobot 136.8 - 287.8 g, sementara penyerbukan alami menghasilkan buah dengan kisaran bobot 150.0 - 367.8 g. Penyerbukan modifikasi alami menghasilkan bobot buah paling kecil berkisar antara 82.0-235.2 g. Kata kunci: dikogami, pemangkasan, penyerbukan, reseptif stigma, srikaya

ABSTRACT RESMINARTI. Flowering Induction and Improvement of Fruit Quality of Sugar Apple (Annona squamosa L.). Supervised by ENDAH RETNO PALUPI. Sugar apple (Annona squamosa-Annonaceae) is one of favorite local fruits. The main constraint in increasing fruit production is low flower production and dichogamy in which male and female reproductive organ did not mature at the same time. The objectives of this research were to increase flower production by pruning and to improve fruit quality by pollination. The research was conducted in Pakem, Sleman, North Yogyakarta in February until July 2013. The research

consisted of two experiments, both were arranged in randomized complete block design with one factor. The factor for the first experiment was pruning i.e. total pruning, partial pruning, and unprunned as control. The second experiment was started with observation on flowering phenology from appearance of flower buds to anthesis, and continued on the receptive period of stigma. Following the observation pollination in which three types of pollination was employed, i.e. controlled pollination, natural pollination, and modified natural pollination. The result of the first experiment showed that flowering increased by total pruning up 83.3% and by partial pruning up to 41.8% compared to unprunned trees. The fruit yield from totally prunned trees was 5%, partially prunned was 3.9%, and unprunned was 2.2% of the flower bud appearance. Observation on flowering phenology showed that development of flower bud appearence until anthesis took 25-34 days. The receptivity of the stigma occurred twice during 05.00 am - 14.00 pm and 17.00 pm - 02.00 am. Controlled pollination resulted in 90 % fruit set as compared to 70 % fruit set in natural and modified natural pollination. Controlled pollination produced more symetrical fruit, ranged 136.8-287.8 g, natural pollination ranged 150.0-367.8 g. Modified natural pollination produced the smallest fruit ranged 82.0-235.2 g. Keywords: dichogamy, pruning, pollination, stigma receptivity, sugar apple

INDUKSI PEMBUNGAAN DAN PERBAIKAN MUTU BUAH SRIKAYA JUMBO (Annona squamosa L.)

RESMINARTI

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Agronomi dan Hortikultura

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014

Judul Skripsi : Induksi Pembungaan dan Perbaikan Mutu Buah Srikaya Jumbo (Annona squamosa L.) Nama : Resminarti NIM : A24090122

Disetujui oleh

Dr Ir Endah Retno Palupi, MSc Pembimbing

Diketahui oleh

Dr Ir Agus Purwito, MSc Agr Ketua Departemen

Tanggal Lulus:

Judul Skripsi: Induksi Pembungaan dan Perbaikan Mutu Buah Srikaya Jumbo (Annona squamosa L.) Nama : Resminarti : A24090122 NIM

Disetujui oleh

Dr

Tanggal Lulus:

0

"1

Endah Retno Palu i MSc

Pembimbing

I

r

PRAKATA Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah subhanahu wata’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2013 ini ialah Pembungaan dan Pembuahan Srikaya dengan judul Induksi Pembungaan dan Perbaikan Mutu Buah Srikaya Jumbo (Annona squamosa L.). Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr Ir Endah Retno Palupi, MSc selaku pembimbing yang telah banyak memberi saran, semangat, serta telah bersabar dalam membimbing. Disamping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Ir Gun Soetopo dan Ibu Ir Elli Mulyati yang telah membantu, baik material maupun spritual selama penelitian dilaksanakan. Ungkapan terima kasih disampaikan kepada ayah, ibu, abang, adik serta seluruh keluarga atas motivasi, doa dan kasih sayangnya. Terima kasih juga kepada Ibu Maryati, SP Msi. sebagai dosen pembimbing akademik yang selalu membantu dan membimbing penulis selama masa akademik berlangsung. Untuk teman-teman dan adik-adik terima kasih sebesar-besarnya karena telah banyak berkontribusi selama penelitian dan dalam proses pembuatan skripsi, terutama kepada Siti Farida dan Dea Nadila, kemudian kepada Mba Asiah, Choirul Umam, Unca, Laita, Fajar, Agus, dan lainlain yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Untuk Ibu Maryati, Ibu Dila, Bapak Mulyono, Mas Sofyan, Mas Agus, Mas Jono terima kasih atas ilmu dan pelajaran yang diberikan selama proses penelitian. Terkhusus untuk sahabatku tercinta Hanifah Nur Hafizhoh, Af’idatus Sakina, dan Ria Hayatun Nur jazaakunallaahul khaiir karena selalu mengingatkan dan memberi semangat. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi saya sendiri, petani, dan para pembaca.

Bogor, Februari 2014 Resminarti

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR

vi

DAFTAR LAMPIRAN

vi

PENDAHULUAN

1

Latar Belakang

1

Tujuan Penelitian

2

TINJAUAN PUSTAKA

2

Manfaat Srikaya

2

Morfologi Bunga

2

Pemangkasan Cabang

3

Penyerbukan dan Pembentukan Buah

4

METODE

5

Tempat dan Waktu

5

Bahan dan Alat

5

Prosedur Analisis Data

5

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Pemangkasan terhadap Pembungaan dan Produksi Buah Perbaikan Mutu Buah Srikaya melalui Penyerbukan KESIMPULAN DAN SARAN

8 8 13 19

Kesimpulan

19

Saran

19

DAFTAR PUSTAKA

20

LAMPIRAN

23

DAFTAR TABEL 1 Pertambahan jumlah kuncup bunga pada 2 cabang/pohon setelah pemangkasan 2 Waktu dan jumlah bunga mekar* 3 Penurunan jumlah kuncup bunga dan buah sampai menjadi buah siap panen (2 cabang/pohon) 4 Perkembangan bunga srikaya dari kuncup muncul sampai bunga layu 5 Persentase pembentukan buah setelah penyerbukan

9 10 11 14 17

DAFTAR GAMBAR 1 Bunga srikaya: A) bunga antesis, B) stigma reseptif, C) satu hari setelah antesis 2 Pemangkasan pada pohon srikaya jumbo: A) cabang yang dipangkas B) tanpa pemangkasan, C) 1 bulan setelah pemangkasan sedang, D) 1 bulan setelah pemangkasan total 3 Tipe penyerbukan bunga srikaya jumbo: A) penyerbukan buatan, B) penyerbukan alami, dan C) penyerbukan modifikasi alami 4 Jumlah kuncup bunga yang muncul setelah pemangkasan 5 Rata-rata jumlah buah pada 2 cabang/ pohon setelah pemangkasan 6 Fase perkembangan buah setelah penyerbukan 7 Fase pemasakan buah sampai siap panen 8 Perkembangan ukuran bunga sejak kuncup muncul sampai bunga mulai mekar 9 Bunga srikaya setelah antesis: A) petal layu dan mengering, B) petal jatuh setelah antesis , C) buah mengering , D) buah muda terbentuk 10 Bentuk buah srikaya: A) simetris, B) asimetris 11 Diameter buah pada penyerbukan buatan ( ), penyerbukan alami ( ), penyerbukan modifikasi alami ( ). Bobot buah pada penyerbukan buatan ( ), penyerbukan alami ( ), penyerbukan modifikasi alami ( ).

4 6 7 9 11 12 12 13 17 18

18

DAFTAR LAMPIRAN 1 2 3 4 5 6

Data curah hujan wilayah Pakem tahun 2007-2011 dan tahun 2013 Analisis ragam penurunan jumlah kuncup Analisis ragam penurunan jumlah bunga mekar Analisis ragam penurunan jumlah buah muda Analisis ragam penurunan jumlah buah masak Analisis ragam bobot buah setelah panen

23 23 23 24 24 24

PENDAHULUAN Latar Belakang Srikaya (Annona squamosa L.) merupakan tanaman famili Annonaceae yang memiliki habitat asli di Amerika Tengah dan Amerika Selatan (Pinto et al. 2005). Orwa et al. (2009) menyatakan bahwa srikaya memiliki dominansi apikal yang kuat yang menyebabkan srikaya tumbuh tinggi dengan produksi bunga dan buah rendah. Menurut Brown (1972) pemangkasan pada pucuk tanaman berfungsi menghilangkan dominansi apikal, menghilangkan bagian tanaman yang tidak produktif, dan meningkatkan translokasi asimilat ke bagian produktif tanaman sehingga meningkatkan pembungaan dan pembuahan. Pemangkasan dapat meningkatkan produksi jika dilakukan pada bagian tanaman dan waktu yang tepat. Rebin (2011) melaporkan bahwa jumlah buah srikaya jumbo sekitar 40 buah/pohon. Sementara pohon srikaya jumbo memiliki jumlah cabang yang banyak sehingga potensial untuk ditingkatkan produksinya. Oleh karena itu penelitian mengenai tipe pemangkasan dan pengaruhnya terhadap induksi pembungaan srikaya perlu dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan pembungaan dan produksi buah. Selain produksi yang rendah, secara umum pembentukan buah pada Annonaceae memerlukan penanganan serius (Jalikop dan Kumar 2007). Bentuk dan ukuran buah tidak seragam pada srikaya membuat tampilannya kurang menarik untuk dipasarkan (Schroeder 1941). Ukuran buah yang kecil dengan biji yang banyak merupakan salah satu penyebab rendahnya konsumsi srikaya oleh masyarakat Indonesia (Rebin 2011). Tampilan buah srikaya yang baik menurut Syamsuhidayat (1991) adalah yang berbentuk bola atau kerucut dan menyerupai jantung. Bentuk buah kurang sempurna itu diduga berkaitan dengan penyerbukan yang kurang memadai. Bunga srikaya yang bersifat dikogami, yaitu stigma dan polen tidak matang secara bersamaan diduga merupakan salah satu penyebab penyerbukan yang kurang memadai. Menurut FFTC (2002) stigma reseptif sesaat sebelum petal membuka dan polen matang beberapa jam setelahnya, sehingga penyerbukan yang terjadi tidak berlangsung dengan baik. Mansour (1997) mengungkapkan penyerbukan alami biasanya dilakukan oleh polinator seperti Colleoptera. Namun demikian sebagian besar bunga tidak berkembang menjadi buah. Frisky (2011) menyarankan penyerbukan modifikasi alami sebagai cara yang lebih efektif dalam penyerbukan srikaya yaitu memotong kuncup bunga dengan gunting sehingga ketika bunga mekar akan memberi jalan bagi stigma yang telah reseptif dibuahi oleh polen yang matang dari bunga lain. Teknik seperti ini memberi peluang penyerbukan yang lebih tinggi sehingga diharapkan buah semakin lebat. Pada penelitian Jalikop dan Kumar (2007) penyerbukan buatan yang dilakukan antara cv. Arka Sahan dan Annona squamosa di India menghasilkan pembentukan buah paling tinggi sebesar 91% dengan bobot buah rata-rata 600 g. Penyerbukan buatan diduga dapat meningkatkan kualitas buah srikaya sebagaimana yang dikatakan Richardson dan Anderson (1996) efek penyerbukan buatan pada buah Annona cherimola meningkatkan ukuran dan keseragaman buah. Informasi tentang masa reseptif stigma dan waktu bunga

2 mekar sangat penting untuk menentukan waktu penyerbukan yang tepat sehingga dapat meningkatkan produksi dan mutu buah. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan meningkatkan pembungaan dan produksi buah srikaya melalui pemangkasan dan memperbaiki kualitas buah srikaya jumbo melalui penyerbukan buatan.

TINJAUAN PUSTAKA Manfaat Srikaya Tanaman srikaya telah dibudidayakan di daerah tropis maupun subtropis (Jianwei et al. 2001). Syarat tumbuh srikaya adalah pada ketinggian: 0-2.000 mdpl, rata-rata suhu tahunan 41 0C, dan rata-rata curah hujan tahunan di atas 700 mm (Orwa et al. 2009). Menurut Hai et al. (2003) dan Wu (2007) bagian dari srikaya dalam bentuk akar, daun, biji, dan kulit kayu telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Khasiat srikaya diantaranya sebagai anti inflamasi, anti depresan, astringent, abortivum, insektisida, dan tonik. Menurut Landolt et al. (1995) Annonaceae mengandung acetogenin yang merupakan senyawa baru dan bahan alami yang memiliki aktivitas potensial sebagai anti tumor, pestisida, dan bioaktif. Chih et al. (2008) menambahkan acetogenin adalah turunan dari monotetrahydrofuran (THF) yang memiliki sitotoksik potensial terhadap sel kanker. Menurut Yunianto et al. (2012) senyawa acetogenin dapat diekstrak dari biji srikaya dan toksisitasnya lebih rendah dibandingkan dengan obat kanker lainnya. Sunarjono (2005) mengatakan bahwa tanaman srikaya memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan hampir seluruh bagian dari tanaman ini dapat dimanfaatkan. Daging buahnya dapat digunakan sebagai penyedap es krim, bahan baku pembuatan selai, sirup dan makanan olahan lainnya. Buah yang masih hijau memiliki biji bersifat anti cacing dan sebagai insektisida yang efektif, sedangkan akar, daun, dan kulit kayu srikaya dapat digunakan untuk pengobatan berbagai jenis penyakit seperti batuk, demam, disentri, sembelit dan lain-lain. Morfologi Bunga Menurut Jessup (2007) bunga srikaya berbentuk segitiga, memiliki panjang sepal 1.5 mm dan lebar 2 mm dengan panjang tangkai bunga 10-20 mm. Warna petal kuning kehijauan dan merah tua pada pangkal dalamnya. Bunga berbentuk silinder dengan panjang petal 20-25 mm dan lebar 6-7 mm. Stamen memiliki panjang 1.5 mm. Bunga srikaya bergerombol pendek menyamping dengan panjang sekitar 2.5 cm, sebanyak 2-4 kuncup, bunga berwarna kuning kehijauan dengan panjang tangkai ± 2 cm, dan bunga muncul dari ketiak daun. Petal bunga bagian luar

3 berwarna hijau dan bagian dalam berwarna ungu pada pangkal petal, panjangnya 1.6-2.5 cm, lebar 0.6-0.75 cm. Polen begerombol mengelilingi stigma, berwarna putih, panjangnya kurang dari 1.6 cm, dan stigma berwarna hijau muda. Tiap stigma berpisah membentuk semacam kutil, panjang 1.3-1.9 cm, lebar 0.6-1.3 cm yang tumbuh menjadi kelompok-kelompok buah (CCRC 2011). Menurut Radi (1997) bunga srikaya memiliki ukuran yang agak kecil dan bentuknya bulat dengan ujung runcing. Petal bagian luar memiliki panjang 2.5 cm, berjumlah tiga helai, berwarna hijau, sementara warna pangkal daun petal berwarna ungu. Pemangkasan Cabang Budidaya srikaya dapat dilakukan dengan pemangkasan. Menurut Cautin et al. (1999) pemangkasan akan mengatur keseimbangan antara pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Rebin (2011) mengungkapkan bahwa pemangkasan pada cabang srikaya akan merangsang pembungaan, memudahkan perawatan buah, dan pengendalian hama. Menurut Morton (1987) pemangkasan menjadikan pencahayaan pada tanaman semakin baik dan dormansi tidak berlangsung terlalu lama. Proses yang harus dilakukan setelah pemangkasan adalah pemberian irigasi setiap 15-20 hari setelah pemangkasan sampai buah terbentuk kecuali terjadi musim hujan selama proses tersebut. Srikaya memiliki tunas aksilar pada ketiak daun atau di dasar tangkai daunnya, sehingga tunas tidak kelihatan secara jelas. Tunas ini yang akan berkembang menjadi bunga. Berdasarkan penelitian Olesen dan Muldoon (2009) pada akhir musim panas sebaiknya dilakukan pemangkasan pada custard apple (Annona cherimola x Annona squamosa) agar pertumbuhan vegetatifnya dapat dicegah dan pertumbuhan generatif dapat ditingkatkan. Pembungaan pada custard apple terjadi selama pengembangan cabang awal. Masa pembungaan srikaya berbeda pada beberapa negara. Di Thailand, srikaya diremajakan setiap tahun untuk memunculkan tunas baru yang disertai bunga. Pemangkasan dilaksanakan pada musim panas, lalu diberi irigasi sampai musim hujan tiba (Coronel 1994). Di Puerto Rico dan Pulau Virgin, srikaya juga berbunga dan berbuah sepanjang tahun, namun di India daun mengalami kerontokan pada bulan Januari-Februari, kemudian daun muncul kembali pada bulan April-Mei bersamaan dengan munculnya bunga. Pembungaan dan pembuahannya terjadi pada bulan Juli-Agustus (Orwa et al. 2009). Menurut George et al. (2001) di Australia, pemangkasan pada atemoya di awal musim panas (november) meningkatkan bobot buah sebesar 16%, dibandingkan dengan kontrol, tetapi memiliki pengaruh yang kecil atau tidak ada pada tingkat gangguan internal. Menurut George dan Nissen (1987) efek utama dari pemangkasan musim panas adalah untuk meningkatkan jumlah tunas yang muncul pada cabang baru.

4 Penyerbukan dan Pembentukan Buah Bunga Annona menurut Pinto (2005) bersifat hermaprodit, stigma dan polen berada dalam satu bunga. Walaupun demikian, stigma selalu matang lebih awal daripada polen sehingga bunga ini bersifat dikogami dari tipe protoginous (Gambar 1). Penyerbukan pada sebagian bunga srikaya dibantu oleh kumbang nitidula (CCRC 2011). Carpophilos hemipterous merupakan jenis kumbang nitidula yang diidentifikasi sebagai penyerbuk relatif efektif daripada C. domidiatus (Kundan et al. 2012).

A

B

C

Gambar 1 Bunga srikaya: A) bunga antesis, B) stigma reseptif, C) satu hari setelah antesis Sumber : Kundan et al. 2012 Radi (1997) melaporkan bahwa penyerbukan pada tanaman srikaya secara alamiah kurang sempurna. Penyebabnya adalah karena sifat bunga yang dikogami yaitu masaknya stigma lebih awal dari pada polen. Akibatnya pertumbuhan buah tidak sempurna. Penyerbukan buatan diperlukan agar buah lebat dan normal. Bunga yang berhasil diserbuki akan segera membentuk buah. Buah yang terbentuk menurut Radi (1997) seperti bulat telur menyerupai ginjal. Buah tersebut terdiri dari beberapa segmen yang bersatu membentuk buah semu. Permukaan kulit buah benjol-benjol dengan warna kuning kehijauan dan bertepung putih. Jumlah bijinya banyak sekali dan biji tersebut berwarna hitam kecoklatan. Buah srikaya termasuk buah semu, berbentuk kerucut atau menyerupai jantung, warna hijau berbintik pada setiap areoles, penampang berukuran 5-10 cm, menggantung pada tangkai yang cukup tebal. Jika masak, anak buah akan memisahkan diri satu dengan yang lain, berwarna hijau kebiruan. Daging buah berwarna putih semikuning dan berasa manis. Biji membujur di setiap karpel, halus, berwarna coklat tua hingga hitam, panjang 1.3-1.6 cm. Biji masak berwarna hitam mengkilap (Syamsuhidayat 1991). Hortikulturis dari India telah mempelajari beragam srikaya liar dan srikaya yang dibudidayakan di negara itu dan mengenali sepuluh jenis yang berbeda, diantaranya adalah srikaya jumbo yang memiliki ciri-ciri petal bunga berwarna kuning pucat, halus, dan tebal. Bentuk segmen kulit buah bundar dan ringan, daging buahnya sangat lembut, putih, rasanya sangat manis, dan kualitas biji baik (Morton 1987). Keragaman buah srikaya sangat tinggi tergantung varietas. Buah srikaya lokal memiliki berat rata-rata 150 g/buah, daging buah putih, rasa buah manis dengan kristal seperti pasir, bijinya besar, dan penuh. Bentuk buah srikaya merah

5 dari Australia sama dengan srikaya lokal, warna kulit buah merah dengan berat rata-rata 100 g/buah, dan daging buah berwarna putih, rasanya halus dan kenyal, bijinya kering dan pipih. Srikaya jumbo menurut Rebin (2011) memiliki ukuran buah mencapai 800 g/buah, daging buahnya tebal, jumlah biji sedikit (7-10 biji/buah), dan rasanya lebih manis daripada srikaya lokal. Saputra et al. (2011) menambahkan srikaya jumbo tidak pernah berhenti berbuah, buahnya berwarna putih, beraroma harum, lembut, dan tidak berserat.

METODE Tempat dan Waktu Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Sabila Farm, km 18.5. Desa Kaliurang, Kecamatan Kertodadi, Kabupaten Pakem, Sleman, Yogyakarta Utara. Lokasi ini memiliki ketinggian tempat 500 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah regosol. Topografi lahan berbukit dengan kemiringan 9%. Rata-rata curah hujan 3062.4 mm/tahun dengan jumlah hari hujan 102 hari. Berdasarkan curah hujan tersebut, menurut teori iklim Schmidt-Ferguson wilayah ini memiliki tipe iklim C dengan rata-rata 8 bulan basah (BB) dan 3 bulan kering (BK). Suhu harian berkisar antara 200-300 C dengan kelembaban udara (RH) 65 %. Percobaan dilaksanakan mulai bulan Februari – Juli 2013. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah pohon srikaya jumbo yang diperbanyak dengan okulasi dan telah berumur tiga tahun. Rata-rata tinggi pohon 2.5 m dengan cabang utama mencapai 10-20 cabang. Pohon ini telah berbuah sejak umur dua tahun. Alat yang digunakan adalah kuas penyerbukan, steppler, jangka sorong, gunting pangkas, alat tulis, label, timbangan digital, tabung warna gelap, lup, kertas minyak, dan kamera. Prosedur Analisis Data Percobaan 1. Pengaruh Pemangkasan terhadap Pembungaan Percobaan ini bertujuan meningkatkan pembungaan dan pembuahan srikaya. Pemangkasan terdiri atas 3 taraf yaitu tanpa pemangkasan (P0), pemangkasan sedang (P1) dan pemangkasan total (P2). Pemangkasan sedang adalah pemangkasan dengan memotong cabang srikaya setengah bagian dari total keseluruhan cabang. Pemangkasan total adalah pemangkasan yang dilakukan dengan memotong seluruh cabang. Cara memangkas cabang adalah memotong cabang dengan menyisakan 20 cm dari setiap cabang sekunder, sedangkan cabang lain nya menyesuaikan. Pemangkasan cabang diikuti dengan perontokan daun yang ada pada semua cabang yang dipangkas.

6 ancangan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) satu faktor, dengan model linier sebagai berikut: Yij = μ + αi + βj + εij Keterangan : Yij = Nilai pengamatan pada perlakuan pemangkasan pohon ke-i dan kelompok ke-j μ = Nilai tengah umum αi = Pengaruh perlakuan pemangkasan cabang ke-i (i = 1, 2) βj = Pengaruh ulangan/kelompok ke-j (j = 1, 2) ij = Pengaruh galat percobaan dari perlakuan pemangkasan cabang ke-i dan kelompok ke-j Setiap taraf diulang 10 kali, sehingga didapatkan 30 satuan percobaan. Pada setiap pohon diamati 2 cabang pada bagian tengah yang letaknya berseberangan. Tahapan percobaannya adalah sebagai berikut: 1. Pohon yang dipangkas dipilih yang pertumbuhannya baik, umur sama yaitu 3 tahun dan tajuk seragam. 2. Pohon dipangkas sesuai taraf perlakuan (0, 50%, dan 100%) (Gambar 2).

A Gambar 2

B

C

D

Pemangkasan pada pohon srikaya jumbo: A) cabang yang dipangkas, B) tanpa pemangkasan, C) 1 bulan setelah pemangkasan sedang, D) 1 bulan setelah pemangkasan total

3. Pemupukan dilakukan satu minggu setelah pemangkasan. Pupuk yang digunakan adalah pupuk NPK dengan dosis sebesar 500 g/pohon dilarutkan dengan air. 4. Sampel diamati dua kali seminggu yang dimulai dari satu minggu setelah pemangkasan. Variabel yang diamati adalah jumlah bunga yang muncul, waktu muncul bunga, perkembangan kuncup hingga bunga mekar/antesis (ukuran, bentuk, dan lama perkembangan), jumlah buah yang terbentuk, ukuran, dan bentuk buah. 5. Pengolahan data menggunakan uji F dengan aplikasi SAS. Uji DMRT digunakan untuk menguji beda nyata antar perlakuan pada taraf 5 %. Percobaan 2. Perbaikan Mutu Buah Srikaya melalui Penyerbukan 1. Fenologi pembungaan Pengamatan fenologi pembungaan memberi informasi periode pembungaan srikaya jumbo dan waktu terbaik melakukan penyerbukan. Pengamatan dilakukan mulai dari fase kuncup muncul sampai sebelum mekar dan

7 fase sebelum mekar sampai bunga layu, termasuk pengamatan masa reseptif stigma. Jumlah sampel yang diamati ada 10 kuncup. Pengamatan dilakukan tiga hari sekali. Variabel pengamatan pada fase kuncup sampai sebelum mekar adalah perubahan ukuran, warna, dan bentuk. Pengamatan dilanjutkan terhadap masa reseptif stigma yang dilakukan sejak bunga mulai membuka hingga bunga layu. Variabel yang diamati adalah munculnya aroma, eksudat pada permukaan stigma, dan perubahan warna permukaan stigma secara kualitatif. Masa reseptif stigma ditentukan dari munculnya aroma dan eksudat pada permukaan stigma. Informasi periode bunga mekar untuk menentukan waktu panen polen yang digunakan dalam penyerbukan agar viabilitasnya masih tinggi. 2. Pengaruh penyerbukan buatan terhadap produksi dan mutu buah Percobaan dilakukan pada 10 pohon. Cara penyerbukan yang diaplikasikan adalah penyerbukan buatan, penyerbukan alami, dan penyerbukan modifikasi alami (Gambar 3). Penyerbukan buatan dilakukan dengan bantuan kuas yang dilakukan pada sore hari. Penyerbukan alami yaitu penyerbukan secara terbuka atau tanpa bantuan manusia. Penyerbukan modifikasi alami adalah perlakuan pemotongan setengah panjang petal bunga, kemudian bunga dibiarkan terserbuki secara alami. Ketiga perlakuan diaplikasikan masing-masing dalam satu cabang pada setiap pohon. Pada setiap cabang diambil satu bunga yang memiliki fase sama. Percobaan ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) satu faktor, dengan model linier sebagai berikut: Yij = μ + αi + βj + εij Keterangan : Yij = Nilai pengamatan pada perlakuan cara penyerbukan ke-i dan kelompok ke-j μ = Nilai tengah umum αi = Pengaruh perlakuan cara penyerbukan ke-i (i = 1, 2, 3) βj = Pengaruh ulangan/kelompok ke-j (j = 1, 2, 3) εij = Pengaruh galat percobaan dari perlakuan cara penyerbukan ke-i dan kelompok ke-j

A

B

C

Gambar 3 Tipe penyerbukan bunga srikaya jumbo: A) penyerbukan buatan, B) penyerbukan alami, dan C) penyerbukan modifikasi alami

8 Teknik penyerbukan buatan adalah sebagai berikut: a. Polen segar dikumpulkan dari bunga lain yang mencapai fase mekar sempurna. b. Bunga yang diserbuki adalah bunga yang sudah mencapai fase stigma reseptif dengan ciri petal mengeluarkan aroma wangi dan eksudat pada stigma terlihat jelas. Penyerbukan buatan dilakukan dengan cara mengoleskan polen yang telah diambil ke stigma menggunakan kuas, lalu disungkup dengan kertas dan plastik serta bagian bawahnya ditutup. Setiap perlakuan diberikan label. Pengamatan persentase buah yang terbentuk dilakukan 3 hari setelah bunga mekar. Persentase bunga yang berhasil menjadi buah dihitung dengan rumus : Persentase pembentukan buah = Pada 10 hari setelah penyerbukan dilakukan pengamatan terhadap perubahan yang terjadi selama proses pembentukan buah sampai buah siap panen, yaitu: waktu muncul buah, diameter buah, bentuk buah, bobot buah serta lama perkembangan buah. Selama perkembangan buah, buah yang terbentuk banyak yang rontok sehingga sampel yang dapat diamati untuk bobot dan diameter hanya 3 buah per perlakuan. Pengolahan data menggunakan uji F dengan aplikasi SAS, uji DMRT digunakan untuk menguji beda nyata antar perlakuan pada taraf 5 %.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Pemangkasan terhadap Pembungaan dan Produksi Buah Pemangkasan meningkatkan jumlah kuncup bunga yang muncul dan menyerempakkan waktu muncul bunga. Kuncup bunga yang muncul pada perlakuan pemangkasan sedang (P1) dan pemangkasan total (P2) cukup tinggi pada 7-13 hari setelah pemangkasan (HSP). Pada pemangkasan sedang kuncup bunga yang muncul sudah menurun setelah 13 HSP, sementara pada pemangkasan total kuncup bunga yang muncul masih cukup tinggi sampai 24 HSP (Tabel 1). Pada cabang yang tidak dipangkas kuncup bunga yang muncul sangat sedikit (4-5 kuncup) dan tidak serempak. Pertambahan jumlah kuncup bunga pada cabang dengan pemangkasan sedang (P1) dan pemangkasan total (P2) terjadi pada 7-30 HSP, diduga karena adanya pematahan dominansi apikal akibat pemangkasan pucuk. Pertambahan kuncup bunga yang muncul pada 36-54 hari setelah pemangkasan tidak berbeda nyata dengan kontrol. Data ini menunjukkan bahwa pengaruh pemangkasan sampai 30 HSP. Takei et al. (2001) menjelaskan setelah dilakukan pemangkasan pucuk, tidak terjadi lagi suplai auksin dari tunas apikal sehingga kadar auksin dalam ruas dibawahnya berkurang. Sebagai akibatnya, terjadi ekspresi IPT (Isopentenyl transferase) pada tanaman. IPT merupakan enzim yang bertanggung jawab sebagai biokatalisator pada biosintesis sitokinin. Enzim ini menurut Santo dan Mori (2001) memasuki tunas lateral dan menyebabkan pertumbuhan tunas lateral. Bunga yang muncul pada cabang yang tidak dipangkas sangat sedikit,

9 diduga karena adanya dominansi apikal sehingga pertumbuhan dipusatkan pada tunas apikal. Tabel 1 Pertambahan jumlah kuncup bunga pada 2 cabang/pohon setelah pemangkasan Pertambahan jumlah kuncup yang muncul pada hari ke- (HSP)x

Perlakuan

7 13 18 24 30 36 42 48 54 60 Tanpa pangkas 0.1b 0.2b 0.4b 0.6b 0.8a 0.0a 0.0a 0.8a 0.6a 0.5a Pangkas sedang 2.8a 13.0a 1.8b 1.4b 1.9a 0.5a 0.5a 0.2a 0.8a 0a Pangkas total 3.5a 17.3a 13.4a 4.9a 1.8a 0.3a 0.3a 0.1a 0.3a 0a x Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf α=5%.

Jumlah kuncup bunga yang muncul

Jumlah kuncup bunga tertinggi pada pemangkasan sedang terjadi pada 1324 HSP (Gambar 4) dan sebagian besar mekar pada 33 HSP (56.1%) (Tabel 3). Pada perlakuan pemangkasan total jumlah kuncup bunga paling banyak terjadi pada 18-30 HSP dan sebagian mekar pada 45 HSP (44.6%). Puncak kemunculan kuncup bunga pada pemangkasan sedang lebih awal dari pada pemangkasan total, akan tetapi jumlah kuncup bunga yang dihasilkan pada pemangkasan sedang (1617 kuncup) lebih rendah dari pada pemangkasan total (34-38 kuncup). 40 35 30 25 20 15 10 5 0

7

13

18

24

30

36

42

48

54

60

Hari setelah pemangkasan Pangkas total

Pangkas sedang

Tanpa pangkas

Gambar 4 Jumlah kuncup bunga yang muncul pada 2 cabang/pohon setelah pemangkasan Pada tanaman yang tidak dipangkas bunga muncul setelah pengguguran daun saat cabang mengalami masa dormansi dan bunga yang muncul hanya sekitar 2-3 kuncup. Kuncup bunga yang muncul dari perlakuan tanpa pemangkasan diduga karena terjadi perontokan daun pada cabang. Nakasone dan Paull (1998) menyatakan bahwa srikaya memiliki tunas subpetiolar pada dasar daun yang berasal dari pembengkakan petiol. Menurut George dan Nissen (1987) pemanjangan tunas subpetiolar terjadi setelah semua daun dilepaskan. Pelepasan

10 daun dibutuhkan untuk merangsang tunas baru. Pertumbuhan tunas muda sebagian besar disertai oleh bunga yang letaknya berhadapan dengan letak daun. Pemangkasan tidak hanya meningkatkan pembungaan tetapi juga menyerempakkan waktu mekar bunga (Tabel 2). Bunga yang muncul dari cabang dengan pemangkasan sedang dan total, sebagian besar mekar pada waktu yang hampir bersamaan. Bunga yang muncul pada tanaman yang tidak dipangkas, mekar pada waktu yang berbeda-beda. Tabel 2 Waktu dan jumlah bunga mekar* Jumlah bunga mekar (HSP) 33 39 45 51 57 Tanpa pangkas 1 0 1 0 1 Pangkas sedang 23 7 5 2 0 Pangkas total 22 15 33 4 0 *Total bunga pada 20 cabang dalam 10 pohon / perlakuan. Perlakuan

63 0 2 0

69 0 2 0

Jumlah kuncup bunga yang dihasilkan dari perlakuan pemangkasan total sebanyak 42 kuncup meningkat 83.3% dari perlakuan tanpa pemangkasan dan pemangkasan sedang menghasilkan 23 kuncup yang meningkat 41.8% dari tanpa pemangkasan, akan tetapi jumlah kuncup bunga yang berkembang sampai bunga mekar dari ketiga perlakuan cukup rendah (Tabel 3). Data ini menunjukkan bahwa kerontokan bunga paling banyak terjadi pada fase kuncup. Sebagian besar bunga yang berkembang hingga mekar sempurna adalah bunga yang lebih awal muncul. Bunga yang muncul berikutnya umumnya rontok pada umur 1 - 15 hari setelah muncul, diduga disebabkan adanya kompetisi nutrisi yang terjadi dengan kuncup bunga yang muncul lebih awal. Tabel 3 Penurunan jumlah kuncup bunga dan buah sampai menjadi buah siap panen (2 cabang/pohon) Perlakuan Tanpa pangkas Pangkas sedang Pangkas total

∑ kuncup bungaa

∑bunga mekara

∑buah mudaa

∑buah masaka (%)

4.5 c

1.0b

0.9 b

0.1 b (2.2)

23.3 b

2.4b

2.3 b

0.9 b (3.9)

42.0 a

7.9a

7.7 a

2.1 a (5.0)

a

Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf α=5%. Angka di dalam kurung menunjukkan persentase.

Sebagian besar bunga yang mekar berhasil membentuk buah, yang menunjukkan penyerbukan alami pada bunga srikaya cukup efektif. Persentase pembentukan buah pada tanaman yang dipangkas total (5.0 %) lebih besar dari pada perlakuan pemangkasan sedang (3.9 %) dan tanpa pemangkasan (2.2 %). Meskipun demikian, peningkatan produksi buah dari perlakuan pemangkasan total

11 tidak terlalu tinggi, sehingga perlakuan pemangkasan untuk meningkatkan produksi buah perlu dikaji lebih lanjut. Buah muda yang terbentuk tidak semua mampu berkembang sampai masak. Kerontokan buah muda pada pemangkasan total terjadi antara 59-95 HSP (Gambar 5). Penurunan jumlah buah cukup banyak pada 59-95 HSP (dari 7 buah menjadi 2 buah) pada cabang yang diamati. Setelah 95 HSP kerontokan buah sangat rendah, karena pada fase buah mendekati panen serangan hama dan penyakit jarang terjadi. Oleh karena itu untuk keperluan perkiraan produksi dapat dilakukan pada 95 HSP. Kerontokan buah pada tanaman yang diberi perlakuan pemangkasan sedang relatif merata. Penurunan buah paling banyak 2 buah dari jumlah buah yang terbentuk sampai 107 HSP, sehingga perkiraan produksi dapat dilakukan sekitar 77 HSP.

Jumlah buah

8 7

P2 P1 P0

6 5 4 3 2 0

35 41 47 53 59 65 71 77 83 89 95 101 107 113 119 125 131 137 143 149 155 161 167 173 179

1

Hari setelah pemangkasan Gambar 5 Rata-rata jumlah buah (2 cabang/ pohon) setelah pemangkasan Kerontokan buah banyak terjadi sejak bunga mekar sampai 50 hari setelah penyerbukan, diduga disebabkan adanya serangan hama dan penyakit. Hama dominan pada srikaya yang menyerang buah dan daun adalah kutu putih (Bemisia tabaci) dan lalat buah (fruit fly). Buah yang terserang penyakit sebagian besar menghitam dan rontok. Nakasone dan Paull (1998) menyatakan bahwa kutu putih termasuk hama penting yang perlu ditangani karena dapat menyerang Annona spp. pada daerah kering. Rebin (2011) melaporkan kutu putih bergerombol melapisi kulit srikaya dan mengeluarkan cairan yang rasanya manis yang kemudian cairan ini akan dikunjungi banyak semut dan ditumbuhi cendawan jelaga. Penampilan buah menjadi hitam dan kurang menarik. Lalat buah menyebabkan buah busuk pada bagian daging buah banyak ulat/larva dari lalat buah tersebut. Buah akhirnya jatuh sebelum tua. Selain hama yang menyerang buah srikaya, penyakit juga mengakibatkan busuk pada buah. Buah kelihatan berwarna coklat kemudian lama kelamaan menghitam dan mati dengan permukaan buah keras. Menurut Weber (1973) penyakit busuk buah yang disebabkan oleh Phytophthora spp., umumnya menyerang tanaman Annona cherimola, Annona reticulata, Annona squamosa, dan spesies lainnya. Buah yang terbentuk ditandai dengan ovarium mulai membengkak, yang dapat diamati pada umur 3-5 hari setelah antesis. Buah yang terbentuk merupakan kumpulan dari buah semu. Buah mengalami fase perkembangan sampai 70 hari

12 setelah penyerbukan (HSP). Pertambahan ukuran buah cukup tinggi pada 70 HSP. Sekitar umur 30 HSP bintik hitam di setiap areoles menghilang, kemudian setiap areoles mulai merenggang pada umur 50 HSP (Gambar 6).

10 HSP P= 1.03 cm, D= 0.89 cm. Pada areoles terlihat bintik-bintik coklat sisa antera.

30 HSP P= 2.98 cm, D= 2.72 cm. Bintik hitam pada areoles mulai menghilang.

50 HSP 70 HSP P= 5.28 cm, D= P= 6.13 cm, D= 5.38 cm. Areoles 6.12 cm. Areoles mulai merenggang. lebih merenggang.

Gambar 6 Fase perkembangan buah setelah penyerbukan

Pada fase pemasakan sekitar 70-100 HSP areoles pada buah semakin merenggang. Kemudian pada umur 80-100 HSP warna buah mulai berubah kekuningan dan areoles terlihat lebih melebar. Buah akan mengeluarkan aroma wangi beberapa hari menjelang panen (Gambar 7).

70 HSP 80 HSP P= 6.13 cm, D= P= 6.42 dan D= 6.12 cm. Areoles 6.35 cm. Warna lebih merenggang. buah kekuningan dan areoles terlihat melebar.

90 HSP P= 6.6 cm dan D= 6.63 cm. Areoles yang semakin melebar.

100 HSP P= 6.87 cm dan D= 7.03 cm. Warna buah lebih menguning dan aroma buah wangi.

Gambar 7 Fase pemasakan buah sampai siap panen

Waktu yang tepat untuk panen srikaya berkisar antara 100-120 hari setelah bunga mekar. Penelitian Mowry et al. (1941) di Florida, srikaya berbuah mulai pertengahan musim panas, sementara waktu masaknya berbeda-beda, paling lambat 3 bulan. Umumnya buah yang siap dipanen beraroma harum dan tidak terlalu keras jika ditekan. Areoles pada buah merenggang dan akhirnya melebar.

13 Salunkhe dan Desai (1984) menyatakan buah srikaya dipanen ketika matang, warna sudah berubah, kulit berwarna krem kekuningan, dan areoles sudah melebar. Mosca et al.(1997) menambahkan jika panen terlalu muda dapat menurunkan kualitas buah dan apabila dipanen terlalu matang akan cepat rusak dan busuk. Perbaikan Mutu Buah Srikaya melalui Penyerbukan 1.

Fenologi pembungaan

Pembungaan srikaya secara alami terjadi setelah daun pada cabang rontok pada musim kemarau. Awal musim hujan, sebagian besar tunas muncul disertai dengan bunga yang letaknya berhadapan dengan letak daun. Jumlah bunga pada satu dasar tangkai daun umumnya berkisar 2-4 bunga. Kuncup bunga yang pertama kali muncul memiliki diameter dan panjang ±0.05 cm. Setelah bunga mencapai ukuran sekitar 0.1 cm maka bunga berikutnya mulai berkembang. Umumnya bunga yang dapat bertahan sampai mekar hanya satu sampai dua bunga pada satu dasar tangkai daun. Panjang bunga mengalami pertambahan yang cepat pada umur 3-6 hari. Pada umur tiga hari panjang rata-rata bunga mencapai 0.2 cm dan diameter rata-rata 0.12 cm, kemudian pada umur enam hari diameter rata-rata bunga menjadi 0.31 cm. Pertambahan panjang rata-rata semakin cepat menjelang bunga mekar, sekitar umur 21-30 (Gambar 8). 3

Ukuran bunga (cm)

2,5 2 1,5

panjang

1

diameter

0,5 0

1

3

6

9

12

15

18

21

24

27

30

Hari setelah muncul Gambar 8 Perkembangan ukuran bunga sejak kuncup muncul sampai bunga mulai mekar Perkembangan bunga sejak kuncup muncul sampai bunga layu berkisar 2534 hari, yang dapat dibagi menjadi 8 fase (Tabel 4). Setiap fase dihitung berdasarkan pada hari setelah kuncup muncul (HSKM). Bunga mengalami perubahan bentuk,warna, dan karakteristik lain selama proses perkembangan. Fase 1-5 merupakan perubahan kuncup mulai muncul sampai sebelum mekar, sedangkan fase 6-8 merupakan fase kuncup sebelum mekar sampai bunga layu. Fase 1 adalah fase perkembangan dari kuncup mulai muncul sampai petal terlihat jelas. Perubahan yang menonjol dari fase 2-3 adalah kuncup membentuk seperti tabung (silinder). Pada fase 4 kuncup menjadi lebih hijau dan membesar. Fase 5 ditandai dengan warna petal yang kekuningan dengan sekat pada petal terlihat jelas.

14 Pada fase 6 petal mulai membuka dan semakin lebar sampai mencapai sepertiga bagian yang berlangsung sekitar 11-12 jam. Kemudian petal mengeluarkan aroma wangi dan eksudat berupa lendir pada stigma yang merupakan indikator fase 7. Fase inilah yang kemudian ditetapkan sebagai masa reseptif stigma (fase betina). Pada fase ini stamen masih rapat. Lama fase reseptif stigma berlangsung selama 8-9 jam. Kemudian bunga akan mengalami fase peralihan dari betina ke jantan. Fase peralihan merupakan fase dimana stamen mulai merenggang, stigma kurang reseptif, namun aroma wangi dari petal masih kuat. Fase peralihan terjadi selama 2-3 jam. Setelah fase peralihan, bunga akan segera mengalami antesis. Saat antesis fase jantan lebih dominan dari pada fase betina, yaitu pada saat petal menyisakan sedikit aroma wangi, stamen merenggang dan polen sudah terlihat jika diguncang. Eksudat pada stigma belum mengering secara total, sehingga dinamakan fase jantan-betina. Fase jantan-betina terjadi sekitar 2-3 jam. Sebagian polen akan menempel pada stigma 2-3 jam setelah bunga antesis. Stigma akan mengering sekitar 4 jam setelah antesis, sehingga fase ini dinamakan fase jantan karena polen masih viabel. Fase jantan berlangsung selama10-11 jam. Pada fase 8 bunga mulai layu dan petal berwarna kecoklatan. Pada sebagian bunga masa reseptif stigma terjadi pada pukul 05.00 - 14.00, sementara pada bunga yang lain terjadi pada pukul 17.00 - 02.00 hari. Bunga mekar juga terjadi pada dua waktu yang berbeda. Mansour (1997) mengatakan bunga mekar sempurna pada famili Annonaceae paling banyak ditemukan pada pagi dan sore hari menjelang malam karena pada kedua waktu tersebut suhu rendah. Hal yang sama juga terjadi pada srikaya jumbo. Fase bunga mekar sempurna terjadi pada pagi hari sekitar pukul 05.00 dan sore hari mulai pukul 16.00. Bunga yang mekar pada pagi hari akan layu pada sore harinya, sementara bunga yang mekar pada sore hari akan layu pada pagi hari berikutnya. Tabel 4 Perkembangan bunga srikaya dari kuncup muncul sampai bunga layu Fase kuncup sampai sebelum mekar Periode

Fase/umur

Fase 1 0 HSKM Kuncup bunga muncul– sebelum mekar Fase 2 6-7 HSKM

Perkembangan Panjang kuncup 0.05 cm, diameter 0.05 cm,warna putih kehijauan, berbulu.

Panjang 0.5 cm, diameter 0.4 cm, warna bunga putih kehijauan, tangkai berwarna hijau tua.

Gambar

15

Fase 3 12-15 HSKM

Fase 4 18-21 HSKM

Panjang 0.9-1 cm, diameter 0.51 cm. Warna petal dan tangkai hijau lumut.

Panjang 1.3 cm, diameter 0.61 cm. Petal dan tangkai hampir sama warna nya, yaitu hijau muda.

Panjang 1.6 cm, diameter 0.69 cm. Warna petal hijau semburat kuning dengan tangkai berwarna hijau pudar. Fase 5 22-24 HSKM

Panjang 2.07, diameter 0.78 cm. Warna petal dan tangkai kuning semburat hijau. Petal bunga masih menutup.

Fase sebelum mekar sampai bunga layu

Kuncup mulai membuka hingga bunga mekar sempurna

Fase betina. Panjang 2.42.75 cm, diameter 0.650.89 cm. Ujung kuncup mulai membuka. Stigma terlihat sedikit mengkilap. Fase 6 24-30 HSKM

Fase betina. Petal membuka lebih lebar. Stigma terlihat lebih mengkilap dari sebelumnya.

16

Fase 7 25-32 HSKM

Fase betina. Petal membuka lebih lebar dari sebelumnya. Aroma wangi pada petal sangat kuat. Eksudat pada stigma banyak dan terlihat jelas. Masa reseptif terjadi pada fase ini. Fase peralihan dari betina ke jantan. Aroma petal masih kuat sementara eksudat pada stigma berkurang.

Fase jantan betina. Bunga mekar sempurna, diameter bunga 3-4.5 cm. Eksudat mulai mengering dan stamen merenggang serta antera pecah.

Fase jantan. Sekresi pada stigma sudah mengering. Polen masih terlihat disekitar antera.

Satu hari setelah mekar sempurna. Petal layu dan mulai berwarna coklat. Bunga mulai layu

Fase 8 25-34 HSKM

17 Umumnya setelah bunga antesis petal layu dan mengering. Warna petal berubah menjadi coklat dan bertahan pada ovarium sampai sekitar 15 hari setelah antesis (Gambar 9A). Sebagian bunga mengalami kerontokan petal pada saat bunga mekar sempurna dan polen serta antera menempel ke stigma (Gambar 9B). Bunga yang tidak berhasil mengalami penyerbukan berwarna coklat dan mengering (Gambar 9C), sementara bunga yang terserbuki ditandai dengan tangkai bunga dan ovarium berwarna hijau kekuningan (Gambar 9D). Hal ini dapat diketahui setelah 3-5 hari setelah antesis.

A

B

C

D

Gambar 9 Bunga srikaya setelah antesis, A) petal layu dan mengering, B) petal jatuh setelah antesis , C) buah mengering , D) buah muda terbentuk 2.

Pengaruh penyerbukan terhadap produksi dan mutu buah

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penyerbukan buatan pada srikaya mampu meningkatkan pembentukan buah mencapai 90%, sedangkan penyerbukan alami dan modifikasi alami mencapai 70% (Tabel 5). Pada penelitian Schroeder (1941) penyerbukan buatan pada Annona cherimola meningkatkan pembentukan buah dari 10% menjadi 70.1%. FFTC (2002) di Thailand menyebutkan bahwa penyerbukan buatan juga meningkatkan pembentukan buah srikaya sebesar 81.7% dari penyerbukan alami hanya 6.7%. Dalam penelitian ini penyerbukan alami menghasilkan pembentukan buah cukup tinggi mencapai 70%. Tabel 5 Persentase pembentukan buah setelah penyerbukan ∑ bunga yang ∑buah yang Pembentukan buah Perlakuan diserbuki terbentuk (%) Penyerbukan buatan 10 9 90 Penyerbukan alami

10

7

70

Penyerbukan modifikasi

10

7

70

Bobot buah rata-rata dari semua perlakuan hanya mencapai 258.7 g. Menurut Rebin (2011) berat buah srikaya jumbo bisa mencapai 800 g/buah. Salah satu penyebab ukuran buah besar adalah adanya penjarangan buah saat buah muda mulai terbentuk sehingga hasil fotosintesis terpusat pada buah yang dipelihara. Poerwanto (2003) menyatakan penjarangan buah dapat meningkatkan kualitas

18 buah karena hasil fotosintesis sebagian besar didistribusikan untuk pertumbuhan buah. Pada penelitian ini penjarangan buah tidak dilakukan sehingga dalam satu cabang rata-rata terdapat 5 - 9 buah. Buah yang dihasilkan dari penyerbukan buatan memiliki bentuk yang lebih simetris dari pada buah hasil penyerbukan alami dan modifikasi alami (Gambar 10). Diameter dan bobot buah srikaya jumbo hasil penyerbukan buatan tidak berbeda nyata dengan penyerbukan alami dan penyerbukan modifikasi alami (Gambar 11). Penyerbukan buatan menghasilkan buah dengan kisaran bobot 136.8-287.8 g, sementara penyerbukan alami menghasilkan buah dengan kisaran bobot 150.0-367.8 g. Sukarmin (2009) menyatakan bahwa penyerbukan buatan pada sirsak dengan mengoleskan polen pada seluruh permukaan stigma dapat meningkatkan ukuran buah dan bentuk yang lebih simetris.

A

A

B

B

Gambar 4 Bentuk buah srikaya: A) simetris, B) asimetris

Gambar 5 Diameter buah pada penyerbukan buatan ( ), penyerbukan alami ( ), penyerbukan modifikasi alami ( ). Bobot buah pada penyerbukan buatan ( ), penyerbukan alami ( ), penyerbukan modifikasi alami ( ). Penyerbukan modifikasi alami memiliki bobot buah paling kecil (82.0-235.2 g) diduga karena penyerbukan yang kurang memadai. Salah satu penyebab penyerbukan kurang memadai pada perlakuan penyerbukan modifikasi alami

19 adalah diduga aroma wangi pada petal yang semakin berkurang karena sebagian petal digunting, sehingga efisiensi polinator berkurang. Selama masa perkembangan buah terdapat beberapa kondisi yang kurang mendukung. Pada bulan Juni dan Juli biasanya curah hujan di Pakem f

Perlakuan

2

7031.267

3515.633

33.38**

0.0001

Ulangan

9

1558.533

173.173

1.64

0.1765

Galat

18

1896.0667

Total

29

10485.867

* berbeda nyata pada tingkat kerpercayaan 95% (f Perlakuan

2

266.067

133.033

Ulangan

9

78.700

8.744

Galat

18

203.300

6.922

Total

29

469.367

19.22**

0.0001

1.26

0.3204

* berbeda nyata pada tingkat kerpercayaan 95% (f

Perlakuan

2

257.867

128.933

18.70**

< 0.0001

Ulangan

9

72.967

8.107

1.18

0.3662

Galat

18

197.100

7.300

Total

29

454.967

* berbeda nyata pada tingkat kerpercayaan 95% (f

8.37**

0.0015

0.54

0.8257

* berbeda nyata pada tingkat kerpercayaan 95% (f

Perlakuan

2

20600.161

10300.080

0.30tn

0.7888

Ulangan

2

3674.451

1837.226

0.05

0.9499

Galat

1

33916.747

33916.747

Total

5

58191.359

* berbeda nyata pada tingkat kerpercayaan 95% (