NILAI-NILAI BUDAYA MELAYU RIAU DALAM UPAYA

Download Nilai-Nilai Budaya Melayu Riau Dalam Upaya Penurunan Insiden Bullying. Tengku Nila Fadhlia. Fakultas Psikologi,...

3 downloads 319 Views 272KB Size
An – Nafs, Vol. 09, No.03,Th 2015 ISSN 1907 - 3305 ===================================================================

Nilai-Nilai Budaya Melayu Riau Dalam Upaya Penurunan Insiden Bullying Tengku Nila Fadhlia Fakultas Psikologi, Universitas Islam Riau Abstract School bullying has become an international issue because the incident happened in many countries and affected students from multicultural backgrounds. As we knew, school bullying gave serious impacts not only for the victim, but also the bully, bystanders, and whole communities in school. There have been many researches done to find the effective prevention and intervention for school bullying, included The Olweus Bullying Prevention Program, The Steps of Respects Program, The Supportive Program, and many more. This research studied about school bullying in the perspective of Riau Malay culture. This research tried to analyze the values of Riau Malay culture in reducing school bullying incident. The basic value of Riau Malay culture that taught people how to behave was called “Tunjuk Ajar”. It consisted of a set of values that taught people treat others kindly, not to mock at each other, to respect other people and love younger one, and many better values. This was a descriptive qualitative research; resources in this study were Riau Malay’s figures who understood basic values of Riau Malay culture and the implementation on everyday life, especially related to school bullying. The data collected by in-depth interview and literature review. There were several findings from this study: 1). Bullying was against the values of Riau Malay culture; 2) In Riau Malay culture, the older people must be respected, the younger must be loved, and people in the same were treated equal; 3) People must controlled their behavior, the weakness of others must not revealed, if someone got wrong, we might not insult; 4) Parents must be the best agent to deliver the good values of Riau Malay culture; 5) In order to reduce bullying incident, we needed to implement the values of Riau Malay culture in everyday life. Keywords: Riau Malay culture, school bullying, prevention program.

Abstrak Bullying di sekolah masih menjadi isu dunia internasional karena insiden tersebut terjadi di berbagai negara dan mempengaruhi siswa dari latar belakang budaya yang beragam. Seperti yang kita ketahui, bullying memberikan dampak yang serius tidak hanya untuk korban, tetapi juga pelaku, saksi, dan seluruh komunitas sekolah. Banyak penelitian telah dilakukan untuk menemukan upaya pencegahan dan penanganan yang efektif terhadap bullying, diantaranya The Olweus Bullying Prevention Program, The Steps of Respects Program, The Supportive Program, dan masih banyak lagi. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran nilai-nilai dasar budaya Melayu dalam upaya penurunan insiden bullying di sekolah. Nilai-nilai dasar budaya Melayu Riau yang mengajarkan cara berperilaku disebut Tunjuk Ajar Melayu. Tunjuk Ajar Melayu terdiri dari serangkaian nilai-nilai yang mengharuskan memperlakukan orang lain dengan baik, tidak menghina orang lain, hormati orang tua dan cintai yang lebih muda. Penelitian ini merupakan jenis deskriptif kualitatif, informan dalam penelitian ini ialah budayawan Melayu Riau. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam dan studi literatur. Beberapa temuan penelitian ini yaitu: 1) Bullying tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya Melayu Riau, 2) Orang tua harus dihormati, orang muda dicintai, dan sebaya diperlakukan setara, 3) Orang harus mengontrol perilakunya, aib orang tidak boleh dibuka, jika salah tidak boleh dihina, 4) Tunjuk Ajar semestinya diajarkan orangtua, 5) Perlu penerapan Tunjuk Ajar dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya pencegahan bullying. Kata Kunci: Budaya Melayu, Riau, Bullying, Sekolah, Pencegahan

68

An – Nafs, Vol. 09, No.03,Th 2015 ISSN 1907 - 3305 =================================================================== Bullying merupakan salah satu permasalahan serius yang terjadi di sekolah pada saat ini (Beran, Tutty, & Steinrath, 2004; Carney & Merrell, 2001; Crothers & Kolbert, 2008; Media Indonesia, 2008; Whitted & Dupper, 2005). Di Indonesia, penelitian mengenai bullying di sekolah sudah mulai banyak dikembangkan. Penelitian Amawidyati (2010) dan Fadhlia (2009) menemukan bahwa praktik bullying terjadi di sekolah dasar yang berada di kota dan pinggiran perkotaan di Yogyakarta. Bentuk perilaku bullying yang kerap terjadi di sekolah dasar yang berada di kota maupun pinggiran kota hampir relatif serupa, yaitu bullying fisik dan verbal. Penelitian lain yang dilakukan oleh Khairani (2006) menemukan bahwa 31,8% siswa sekolah dasar di Depok mengalami peristiwa bullying, dengan rincian sebanyak 77,3% mengalami bullying non verbal, yang mengalami verbal bullying sebesar 40,1%, dan sebanyak 36,1% mengalami bullying fisik. Penelitian Usman (2013) di Gorontalo menemukan ada tiga bentuk bullying yang terjadi di sekolah menengah atas, yaitu fisik, verbal, dan relasional. Bullying dapat terjadi pada tiap tingkatan pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Salah satunya adalah kasus tindakan bullying di SMAN 34 Jakarta. Pada bulan November 2008, geng G (salah satu nama geng siswa di SMAN 34) diadukan ke Polsek Cilandak oleh salah seorang murid SMAN 34. Salah satu korban tindak kekerasan tersebut, terluka parah dan patah tulang karena dipaksa berkelahi dengan murid yang lebih tua di geng G. Kasus ini berakhir dengan dibubarkannya geng Gr dan 5 orang siswa yang melakukan aksi kekerasan dikenakan sanksi dengan dikeluarkan dari SMAN 34 (Stop Bullying Now, 2009). Lain halnya dengan kasus di kota Pati, Jawa Tengah. Bulan Juni 2009 lalu, terdapat Geng Nero yang melakukan kekerasan terhadap adik kelasnya. Geng yang beranggotakan anak-anak perempuan ini sudah ada sejak 2 tahun sebelumnya dan sering ‘menggencet’ orang-orang yang tidak disukai oleh mereka. Jika ada orang yang berurusan dengan salah satu anggota geng ini, maka ia juga akan berurusan dengan seluruh anggota Geng Nero (Stop Bullying Now, 2009). Kasus bullying yang terjadi di tingkat pendidikan menengah antara lain di salah satu SLTP di Bekasi, siswa yang menjadi korban nekat gantung diri dikarenakan tidak kuat lagi menahan ejekan dari teman-temannya sebagai anak tukang bubur (Suseno, 2009). ER, siswa kelas 2 SD di Jakarta Timur, dianiaya 4 temannya di kamar kecil, dipukuli beramai -ramai di dalam kelas hingga ia tidak berdaya, malam harinya ia demam tinggi lalu lima hari kemudian meninggal dunia (Nakita, 2007). Pada salah satu sekolah dasar swasta di Kota Yogyakarta, seorang siswa kelas 3 mendapat perlakuan bullying dari beberapa teman sekelasnya semenjak di kelas 1. Siswa tersebut menjadi ketakutan saat akan berangkat sekolah, sering mengeluh sakit, selalu melamun di dalam kelas, dan dilaporkan orang tuanya selalu mengigau dalam tidur malamnya. Ia bahkan meminta untuk pindah sekolah karena tidak tahan dengan perlakuan dari temannya tersebut (Amawidyati, 2010). Siswa 69

An – Nafs, Vol. 09, No.03,Th 2015 ISSN 1907 - 3305 =================================================================== yang menjadi pelaku mengaku bahwa ia mengganggu korban karena korban tidak berani melawan dan bersedia disuruh apa saja (Fadhlia, 2009). Berdasarkan hasil penelitian Nugroho dan Fadhlia (2011), ditemukan bahwa persentase bullying di tingkat sekolah dasar di Kota Pekanbaru menunjukkan angka 10,19%, ini berarti tingkat bullying berada pada tingkat sedang/ rata-rata. Arora (dalam Kalliotis, 2000) menjelaskan bahwa skor rata-rata yang terstandardisasi untuk persentase bullying ialah sebesar 10,25%. Skor yang diperoleh dibawah angkat tersebut menunjukkan rendahnya tingkat bullying, sebaliknya skor yang lebih tinggi dari 10,25% menunjukkan tingginya tingkat bullying di sebuah sekolah. Analisis tiap bentuk perilaku bullying yang dialami oleh siswa sekolah dasar di Kota Pekanbaru memperlihatkan bahwa perilaku yang paling banyak dialami berupa pemanggilan dengan nama julukan yang tidak disukai (58,27%). Pada peringkat kedua, bentuk bullying yang banyak dialami siswa sekolah dasar di Kota Pekanbaru yaitu diejek tentang keluarga (34,53%), yang ketiga menyembunyikan barang kepunyaan teman (27,33%), meminta jajanan (21,58%) ada di peringkat 4, pada urutan kelima ialah menakut-nakuti siswa lain (20,50%), disusul dengan perilaku meneriaki teman pada urutan keenam (17,26%). Bullying adalah salah satu bentuk perilaku agresif dengan kekuatan yang tidak seimbang antara pelaku dan korban baik fisik maupun psikologis, yang dilakukan secara berulang-ulang bertujuan untuk mengganggu atau menyakiti korban yang lebih lemah (Arora, 1996; Black & Jackson, 2007; Craig, Pepler, & Atlas, 2000; Olweus, 1993). Pada perilaku agresif korban berusaha untuk menghindari, sedangkan pada

perilaku bullying korban tidak memiliki kekuatan untuk

melawan atau menghindar (Olweus, 1993; Orpinas & Horne, 2006). Jika salah seorang siswa memukul siswa lain dan siswa yang dipukul dapat membalas hingga terjadi perkelahian, perilaku tersebut disebut perilaku agresif karena kedua belah pihak memiliki kekuatan yang seimbang (Olweus, 1993). Bullying dapat dibedakan dalam beberapa bentuk, diantaranya (Bernard & Milne, 2008; Olweus, 1993): (a) Bullying fisik, seperti mendorong, meninju, menampar, menendang, menjambak, merebut barang, dan merusak kepunyaan orang lain, (b) Bullying verbal, seperti menghina, menyindir, memanggil dengan nama julukan, keluarga, dan kecacatan, membentak, mengancam, dan menggoda orang lain hingga marah, dan (c) Bullying sosial atau relasional, yaitu menyebarkan berita bohong, menyebarkan gosip, menolak memasukkan orang lain dalam kelompok, menolak berbicara dengan orang lain, secara sengaja mengisolasi seseorang, dan mendorong orang lain untuk mengasingkan seseorang secara sosial. Bullying bermula ketika ada seorang atau sekelompok siswa di sekolah yang terlihat lemah dan rentan dibandingkan siswa lain pada umumnya, baik dari segi fisik maupun sosial (Rigby, 70

An – Nafs, Vol. 09, No.03,Th 2015 ISSN 1907 - 3305 =================================================================== 2002). Siswa yang berpotensi menjadi korban memiliki karakter pencemas dan pendiam (Olweus, 1993; Rigby, 2002), sensitif serta tidak percaya diri (Olweus, 1993). Siswa tersebut secara fisik tampak lebih muda, kecil, lemah, dan tidak kuat (Hazler et al., 1997; Rigby, 2002), tidak memiliki banyak teman sehingga sering terlihat sendiri (Hazler et al., 1997). Siswa dengan karakter seperti di atas, biasanya menangis dan menarik diri ketika diserang oleh siswa lain karena tidak mampu mempertahankan dirinya (Olweus, 1993). Bullying memberikan dampak jangka panjang yang serius terhadap kesehatan mental dan fisik baik korban (Bauman & Del Rio, 2006; Black & Jackson, 2007; Craig, et al., 2007; Whitted & Dupper, 2005 ), pelaku (Bauman & Del Rio, 2006; Black & Jackson, 2007 ; Whitted & Dupper, 2005) maupun saksi (Black & Jackson, 2007; Whitted & Dupper, 2005 ). Fenomena bullying di sekolah yang terus meningkat memaksa kita untuk memikirkan program prevensi maupun intervensi yang efektif yang dapat diterapkan. Bullying dalam segala bentuk penting untuk segera diatasi untuk menjamin keamanan dan kesejahteraan siswa dan seluruh elemen yang ada di sekolah. Kita juga sama-sama mengetahui bahwa penting pula untuk mencapai tujuan yang lebih luas terhadap upaya perbaikan di sekolah, meningkatkan keberadaan dan pencapaian, serta mempromosikan kesetaraan dan keragaman. Setiap siswa di sekolah berhak untuk dihormati dan mendapatkan lingkungan sekolah yang aman, apapun latar belakang agama, ras dan budayanya, dan setiap siswa perlu belajar bahwa lingkungan mereka menghargai keragaman dan saling menghargai.

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan memberikan gambaran nilai-nilai budaya Melayu Riau dalam upaya penurunan insiden bullying di sekolah. Penggunaan format deskriptif kualitatif bertujuan untuk menggambarkan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek penelitian, dan berupaya menarik realitas itu ke permukaan sebagai suatu cirri, karakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi, atau fenomena (Bungin, 2011). Subjek Penelitian Informan dalam penelitian ini ialah tokoh budayawan Melayu asli Riau yang memahami betul nilai-nilai dasar dalam budaya Melayu Riau. Informan merupakan tokoh yang juga berprofesi sebagai akademisi di salah satu universitas ternama di Kota Pekanbaru, pernah mendapatkan penghargaan bergengsi sebagai budayawan yang berpengaruh di Provinsi Riau. Informan berusia paruh baya dan kerap terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan di Kota Pekanbaru dan Provinsi 71

An – Nafs, Vol. 09, No.03,Th 2015 ISSN 1907 - 3305 =================================================================== Riau. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling, berdasarkan pertimbanganpertimbangan tertentu, salah satunya yaitu pemahaman yang baik mengenai nilai-nilai budaya Melayu Riau. Teknik Pengumpulan Data Wawancara Wawancara yang digunakan ialah wawancara mendalam (in-depth interview) dimaa pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan terbuka yang berarti informan bebas mengemukakan jawaban sepanjang tidak keluar dari konteks, kecepatan, dan waktu wawancara masih dapat diprediksi, pertanyaan yang diajukan dan jawaban yang diberikan bersifat fleksibel tergantung situasi kondisi serta alur pembicaraan namun masih ada kontrol yang dipegang oleh peneliti, yaitu tema wawancara, memiliki pedoman wawancara yang dijadikan patokan ataupun control dalam hal alur pembicaraan dan untuk prediksi waktu wawancara (Herdiansyah, 2010). Wawancara semi terstruktur memiliki tujuan untuk memahami suatu fenomena atau permasalahan tertentu sehingga sangat sesuai untuk penelitian kualitatif yang esensinya yaitu untuk mendapatkan pemahaman dari suatu fenomena (Herdiansyah, 2010). Wawancara mendalam dilakukan berkali-kali dan membutuhkan waktu yang lama bersama informan penelitian (Bungin, 2011). Observasi Metode pencatatan observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe naratif anecdotal record, artinya observer mencatat dengan teliti dan merekam perilaku-perilaku yang dianggap penting dan bermakna sesegera mungkin setelah perilaku tersebut muncul. Catatan tersebut harus sedetail mungkin sesuai dengan kejadian yang sebenarnya tanpa mengubah kronologisnya. Peneliti juga dapat menafsirkan

makna dari perilaku yang muncul, sepanjang

penafsiran dan makna menurut peneliti berfungsi sebagai pendukung dari makna sebenarnya (Herdiansyah, 2010) Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang dilakukan yakni analisis deskriptif dimana data diorganisasikan secara kronologis dan berdasarkan kategori tertentu, dikaji ulang dan dikoding. Data yang dikumpul secara deskriptif

akan dipilah-pilah untuk kemudian diberi kode-kode. Hal ini agar dapat

mengorganisasi dan mensistemasikan data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang hendak dipelajari dalam penelitian ini. Kredibilitas Penelitian Uji kredibilitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan triangulasi, yakni upaya dalam mengambil sumber-sumber data yang berbeda, dengan cara berbeda, untuk memperoleh kejelasan mengenai suatu hal tertentu. 72

An – Nafs, Vol. 09, No.03,Th 2015 ISSN 1907 - 3305 =================================================================== HASIL PENELITIAN DAN DISKUSI Tunjuk Ajar yang dimaksud disini adalah segala jenis petuah, petunjuk, nasihat, amanah, pengajaran, dan contoh teladan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam arti yang luas. Menurut orang tua-tua Melayu, “Tunjuk Ajar Melayu” adalah segala petuah, amanah, suri teladan, dan nasihat yang membawa manusia ke jalan yang lurus dan diridhoi Allah, yang berkahnya menyelamatkan manusia dalam kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat (Effendy, 2013). Orang-orang Melayu Riau pada dasarnya mencintai kehidupan yang tenang dan harmonis, selaras dengan alam, mengikut petunjuk Tuhan, dan menghindari konflik dengan orang lain (S1.W1.L.28Maret2013, 21-28). Dalam budaya Melayu Riau, penting sekali untuk menghormati orang yang lebih tua, dan orang yang lebih muda harus disayangi dan dicintai. Terkait dengan keinginan, orang Melayu biasanya mengikut pada prinsip tahu diri, artinya jika menginginkan sesuatu hendaklah bersabar dan tetap menjaga keselarasan tadi (S1.W1.L.28Maret2013, 32-38). Dalam budaya Melayu, seseorang dinilai dari budi bahasanya, oleh karena itu sepatutnya orang Melayu

Riau berbicara dengan

sopan dan

tidak menyinggung

perasaan orang lain

(S1.W1.L.28Maret2013, 40-46). Pembahasan Isi Tunjuk Ajar sangat luas dan beragam, sejak dahulu orang Melayu sudah menyebatikan nilai-nilai luhur agama Islam, budaya, dan norma-norma sosial masyarakat kedalam tunjuk ajarnya, termasuk pengalaman mereka sendiri. Kandungan isi tunjuk ajar tidak dapat diukur atau ditakar, tunjuk ajar sendiri harus berkembang sejalan dengan kemajuan masyarakat (Effendy, 2013). Bagi orang Melayu, tunjuk ajar ditempatkan pada kedudukan yang penting, bahkan sebagian orang tuatua menempatkannya teramat penting karena kandungan isinya yang luhur itu (Effendy, 2013). Orang tua-tua Melayu mengatakan bahwa tunjuk ajar amat besar manfaat dan nilai positifnya bagi kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat, baik bagi pribadi maupun bagi masyarakat, bangsa dan Negara (Effendy, 2013). Itulah sebabnya, tunjuk ajar dikatakan”manfaatnya tidak berhad” yang maksudnya adalah bahwa manfaat yang terkandung di dalam tunjuk ajar amat luas, sehingga tidak terbatas (Effendy, 2013). Terkait dengan perilaku bullying yang dilakukan anak di sekolah, menurut tunjuk ajar Melayu, itu adalah kesalahan dan tanggung jawab orangtuanya, karena perilaku anak adalah hasil didikan orangtuanya (S1.W1.L.28Maret2013, 53-60). Orangtua semestinya menjadi pengantar nilai-nilai yang baik pada anak agar anak dapat menerapkan nilai-nilai tersebut ke dalam perilakunya sehari-hari dan kelak dapat menjadi “orang” (S1.W1.L.28Maret2013, 61-66). Ada delapan macam nilai yang harus diajarkan orangtua kepada anak, yaitu: 1) nilai agama, 2) nilai kebangsaan, 3) nilai menghargai dan menghormati, 4) nilai kepercayaan diri dan kemandirian, 5) 73

An – Nafs, Vol. 09, No.03,Th 2015 ISSN 1907 - 3305 =================================================================== nilai toleransi, 6) nilai mewariskan kebaikan, 7) nilai manajemen waktu, dan 8) nilai kepemimpinan (S1.W1.L.28Maret2013, 75-92). Effendy (2013) menjelaskan bahwa untuk mewujudkan manusia bertuah, berbudi luhur, cerdas, terpuji, orang Melayu mewariskan tunjuk ajarnya dengan berbagai cara, baik melalui ungkapan lisan maupun melalui contoh dan teladan. Orang tua-tua mengatakan, bahwa pearisan melalui lisan dapat dilakukan dengan menggunakan sastra lisan seperti pantun, syair, cerita-cerita rakyat, ungkapan, pepatah, petitih, bidal, perumpaan, dan sebagainya. Pewarisan melalui contoh dan teladan dilakukan dengan memberikan contoh perilaku, perangai, dan perbuatan yang terpuji. Oleh karena itu, sebelum seseorang memberikan atau mewariskan tunjuk ajar, maka terlebih dahulu orang tersebut harus mengamalkan tunjuk ajarnya sebaik dan sesempurna mngkin, agar ia dapat memberikan contoh dan teladan yang baik dan benar. Didalam ungkapan disebut: sebelum mengajar, banyak belajar sebelum meberi contoh, bersifatlah senonoh sebelum memberi teladan, betulkan badan sebelum menasehati orang, nasehati diri sendiri

Lebih lanjut Effendy (2013) menjelaskan pewarisan tunjuk ajar sangat diutamakan oleh orang Melayu bahkan diwajibkan oleh adatnya, didalam ungkapan disebut: petunjuk wajib ditunjukkan pengajar wajib diajarkan

yang petunjuk dipanjangkan yang pengajaran dibendangkan

dengan tunjuk ajar, adat berakar dengan tunjuk ajar, ilmu mengakar dengan tunjuk ajar, yang kecil menjadi besar dengan tunjuk ajar, agama menjalar

apa tanda orang beriman tunjuk ajar ia panjangkan

apa tanda orang budiman tunjuk ajar ia turunkan 74

An – Nafs, Vol. 09, No.03,Th 2015 ISSN 1907 - 3305 =================================================================== apa tanda orang berilmu mewariskan tunjuk ajar ia tahu

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat dipahami bahwa perilaku bullying di sekolah tidak sesuai dengan tunjuk ajar Melayu Riau, dalam budaya Melayu seseorang harus dapat mengontrol perilakunya, kelemahan orang lain tidak boleh diungkapkan, jika seseorang berbuat salah kita tidak boleh menghina. Oleh karena itu, untuk memastikan generasi penerus tidak terjebak dalam perilaku buruk, orang tua-tua Melayu berupaya sekuat tenaga untuk mewariskan tunjuk ajarnya, mereka yakin melalui penghayatan dan pengamalan tunjuk ajar akan lahir generasi Melayu yang bertuah yang disebut dalam ungkapan: apa tanda manusia bertuah kecil menjadi tuan rumah besar menjadi tuah negeri bertuah hiduo bertuah mati (Effendy, 2013)

KESIMPULAN Bullying tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam tunjuk ajar Melayu Riau. Tunjuk ajar melayu berisikan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman, pegangan, nasihat, dan petunjuk yang apabila diterapkan dalam perilaku sehari-hari dapat menjadi upaya pencegahan terjadinya bullying di sekolah. Implementasi dari hasil penelitian ini perlu didiskusikan lebih lanjut, terkait program pencegahan bullying di sekolah yang berbasiskan nilai-nilai dalam tunjuk ajar Melayu Riau.

DAFTAR PUSTAKA Amawidyati, S. A. G. (2010). Pelatihan asertivitas untuk menurunkan frekuensi peristiwa bullying (Tesis Tidak Dipublikasikan). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Arora, T. (1996). Defining bullying: Towards a clearer general understanding and more effective intervention strategies. School Psychology International, 17, 317-329. Bauman, S., & Del Rio, A. (2006). Preservice teachers’ responses to bullying scenarios: Comparing physical, verbal, and relational bullying. Journal of Educational Psychology, 98, 219231. Beran, T. N., Tutty, L., & Steinrath, G. (2004). An evaluation of a bullying prevention program for

75

An – Nafs, Vol. 09, No.03,Th 2015 ISSN 1907 - 3305 =================================================================== elementary schools. Canadian Journal of School Psychology, 19, 99-116. Bernard, M. E., & Milne, M. L. (2008). School procedures and practices for responding to students who bully. A Report for Victorian Department of Education and Early Childhood Development. Diunduh dari http://www.eduweb.vic.gov.au/edulibrary/public/stuman/wellbeing/Responding_to_Stu dents_who_Bully-May_2008.pdf Black, S. A., & Jackson, E. (2007). Using bullying incident density to evaluate the Olweus Bullying Prevention Programme. School Psychology International, 28, 623-638. Bungin, B. (2011). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, ekonomi, kebijakan public, dan ilmu sosial lainnya. Jakarta: Kencana. Carney, A. G., & Merrell, K. W. (2001). Bullying in schools: Perspective on understanding and preventing an international problem. School Psychology International, 22, 364-382. Craig, W. M., Pepler, D., & Atlas R. (2000). Observations of bullying in the playground and in the clasroom. School Psychology International, 21, 22-36. Crothers, L. M., & Kolbert, J. B. (2008). Tackling a problematic behavior management issues: Teachers’ intervention in childhood bullying problems. Intervention in School and Clinic, 4, 132-139. Effendy, T. (2013). Tunjuk ajar melayu. Pekanbaru: Tenas Effendy Foundation. Fadhlia, T. N. (2009). Kepedulian terhadap sahabat untuk meningkatkan perilaku bertanggung jawab pada saksi bullying. An-Nafs, 03, 48-64. Hazler, R. J., Carney, J. V., Green, S., Powell, R., & Jolly, L. S. (1997). Areas of expert agreement on identification of school bullies and victims. School Psychology International, 18, 514. Herdiansyah, H. (2010). Penelitian kualitatif dalam ilmu sosial. Jakarta: Salemba Humanika. Khairani, A. (2006). Modul program pendidikan: Pencegahan Perilaku Bullying Di Sekolah Dasar. (Tesis Tidak Dipublikasikan). Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Depok. Tidak Diterbitkan. Media Indonesia. (2008, Juni). Lindungi anak dari ancaman bullying. Surat Kabar. Diunduh dari : http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NjE3OQ Nakita (2007, Juni). Siaga satu untuk bullying. Magazine. Diunduh dari : http://www.mailarchive.com/[email protected]/msg05871.html Nugroho, S., & Fadhlia, T. N. (2011). Studi deskriptif perilaku bullying di Kota Pekanbaru (Unpublished research report). Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Olweus, D. (1993). Bullying at school: What we know and what we can do. Oxford: Blackwell.

76

An – Nafs, Vol. 09, No.03,Th 2015 ISSN 1907 - 3305 =================================================================== Orpinas, P., & Horne, A. M. (2006). Bullying prevention: Creating a positive school climate and developing social competence. Washington DC: American Psychological Association. Rigby, K. (2002). New perspective on bullying. London: Jessica Kingsley. Stop

Bullying Now (2009, Juni). Kasus bullying di Indonesia. Diunduh dari http://stopbullyingbyseven.blogspot.com/2009/06/kasus-bullying-diindonesia.html

:

Suseno, S. A. (2009, Maret). Mengenal budaya bullying di Indonesia dan dampak dari bullying itu sendiri. Diunduh dari : http://simsonranau.blogspot.com/2009/03/mengenal-budayabullying-indonesia-dan.html Usman, I. (2013). Kepribadian, komunikasi kelompok teman sebaya, iklim sekolah, dan perilaku bullying. Humanitas, X, 49-60. Whitted, K. S., & Dupper, D. R. (2005). Best practices for preventing or reducing bullying in schools. Children & Schools, 27, 167-175.

77