BAB II KAJIAN PUSTAKA A. KESULITAN BELAJAR

Download A. Kesulitan Belajar. Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa inggris learning disability. T...

0 downloads 219 Views 264KB Size
BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kesulitan Belajar Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa inggris learning disability.

Terjemahan dalam bahasa indonesia learning artinya belajar dan

disability artinya ketidakmampuan; sehingga memiliki arti dalam bahasa indonesia adalah ketidakmampuan belajar. Menurut Dalyono (1997, hlm, 229), “kesulitan belajar adalah suatu keadaan yang menyebabkan siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya”, definisi lain terkait dengan hal itu, menurut Sabri (1995, hlm. 88), “kesulitan belajar yaitu kesukaran siswa dalam menerima atau menyerap pelajaran disekolah”. Mahasiswa

yang tidak mampu mengikuti

perkuliahan dalam waktu empat sampai tujuh tahun maupun mengalami kegagalan dalam matakuliah tertentu juga dapat dikategorikan kedalam mahasiswa yang memiliki kesulitan belajar. Sesuai dengan apa yang dikemukakan oleg Burton (dalam Makmun, 1996, 207), “siswa diduga mengalami kesulitan belajar, apabila siswa tidak dapat mencapai ukuran tingkat keberhasilan belajar dalam waktu tertentu, siswa tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan dan tidak dapat mencapai tingkat penguasaan materi”. Sedangkan Menurut Abdurahman dalam buku Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, mengemukakan bahwa “di negara Indonesia sendiri belum ada definisi yang baku tentang kesulitan belajar. Pengajar umumnya memandang semua mahasiswa yang memperoleh prestasi belajar rendah disebut dengan mahasiswa yang berkesulitan belajar”. Dari beberapa definisi yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang memiliki kesulitan belajar, akan sukar dalam menyerap materi yang disampaikan oleh dosen. Dalam kegiatan belajar, mahasiswa akan merasa malas dalam belajar dan mengikuti perkuliahan karena mereka merasa tidak mampu menguasai materi. Dengan begitu, mahasiswa akan menghindari

Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

7

8

perkuliahan, mengabaikan tugas-tugas, bahkan penurunan IPK dan prestasi belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar tersebut menurut Slameto (1988, hlm. 56), “dibagi atas dua faktor utama, yaitu faktor yang bersumber dari dalam peserta didik (faktor intern) dan faktor yang bersumber dari luar peserta didik (faktor ekstern)”. 1. Faktor internal Kutipan Slameto dalam buku Psikologi dalam Pendidikan (Hadis, 2008, hlm.63) mengemukakan bahwa Yang termasuk ke dalam faktor intern, misalnya faktor jasmaniah, faktor kelelahan dan faktor psikologis. Yang termasuk ke dalam faktor jasmaniah, misalnya faktor kesehatan dan cacat tubuh. Sedangkan yang termasuk faktor psikologi, misalnya faktor intelegensi, minat, perhatian, bakat, motivasi, kematangan, dan kesiapan. a. Faktor jasmaniah 1) Faktor kesehatan Seorang anak yang sakit atau kurang sehat akan mengalami kelemahan fisik, sehingga saraf sensorik dan motoriknya lemah akibatnya ransangan yang diterima melalui indranya tidak dapat diteruskan ke otak. Anak yang kurang sehat akan mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah lelah, pusing, mengantuk, daya konsentrasinya berkurang dan kurang bersemangat dalam belajar. Beberapa studi tentang faktor kesulitan belajar intern berkaitan dengan faktor jasmaniah membuktikan bahwa orang yang belajar membutuhkan kondisi badan yang sehat. Karena orang yang sakit tentu akan sulit belajar dengan efektif dan mengakibatkan sering meninggalkan sekolah dan frekuensi belajar akan menurun (Thonthowi, 1991; Soemanto, 1990). 2) Cacat tubuh Soemanto (1990, hlm. 121) menyatakan “... tidak akan dapat belajar dengan efektif. Cacat fisik juga mengganggu dalam hal belajar”. Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/ badan. Cacat itu berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, dan patah tangan, lumpuh dan lain-lain. keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

9

belajar, mahasiswa yang cacat belajarnya juga terganggu sehingga dalm belajarnya memerlukan alat bantu.

b. Faktor psikologis Belajar memerlukan kesiapan rohani dan kesiapan mental yang baik, dan yang termasuk dalam faktor psikologi adalah: 1) Intelegensi Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui/ menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajari dengan cepat. Menurut Wechsler (dalam Sarwono, 1991, hlm. 71), “Intelegensi adalah kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah, serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif”. Intelegensi sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar, mahasiswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi rendah, tetapi intelegensi yang tinggi tidak menjamin ia akan berhasil dalam belajar. Hal ini dapat disebabkan karena belajar adalah sesuatu yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. 2) Minat Minat adalah kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang, jadi minat ini sangat berbeda dengan perhatian karena perhatian lebih bersifat sementara dan belum tentu diikuti dengan perasaan senang, sedangkan minat selalu diikuti dengan perasaan senang karena dari situ akan diperoleh kepuasan. Dalam belajar tentunya mahasiswa perlu memiliki minat dalam belajar. Sesuai dengan pendapat Surya (2003, hlm. 6), “ada tiga komponen yang harus dimiliki anak, agar dirinya dapat melakukan kegiatan proses belajar yaitu: Minat, Perhatian, Motivasi)”. 3) Perhatian

Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

10

Perhatian menurut Slameto adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itupun tertuju semata-mata kepada suatu obyek (benda/ hal) atau sekumpulan obyek. Agar menjamin hasil belajaryang baik, maka mahasiswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajari.

4) Bakat Menurut Ahmadi (1991, hlm. 78), “Bakat adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir”. Tetapi potensi tersebut haruslah dibarengi dengan belajar dan berlatih agar terealisasi menjadi kenyataan yang nyata. Mempelajari musik tentunya harus memiliki bakat yang diimbangi dengan belajar dan berlatih. Sebagai salah satu contoh. Seseorang yang memiliki suara bagus dari sejak kecil karena bakatnya, tidak akan berkembang jika tidak dibarengi dengan belajar dan berlatih. Begitu pula dengan orang yang selalu berlatih bernyanyi akan kalah dengan orang yang berlatih bernyanyi dengan bakat yang telah dimiliki. 5) Motivasi Motivasi memegang peranan penting dalam proses belajar. Menurut Ahmadi (1991, hlm. 79), “motivasi berfungsi menimbulkan, mendasari dan mengarahkan perbuatan belajar”. Dalam proses belajar mengajar harus diperhatikan apa yang dapat mendorong mahasiswa agar dapat belajar dengan baik atau harus dilihat mahasiswa tersebut mempunyai motivasi untuk berfikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan/ menunjang belajar, pada umumnya motivasi dapat ditanamkan pada diri mahasiswa dengan cara memberikan latihan-latihan/ kebiasaan-kebiasaan yang kadang dipengaruhi oleh lingkungan. 6) Kematangan Kematangan adalah suatu tingkat/ fase dalam pertumbuhan seseorang. Dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Sebagai salah satu contoh adalah ketika seorang mahasiswa mencoba mainkan instrumen Drum, maka mahasiswa tersebut dengan kakinya siat memainkan hi-hat dan bass drum, kedua tangannya sudah siap memainkan snare dan symbal menggunakan stick drum, dengan otaknya mahasiswa tersebut telah siap untuk berfikir mengenai tempo, tekstur lagu yang dimainkan, dan lain-lain. Kematangan belum berarti Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

11

seorang mahasiswa dapat melaksanakan kegiatan dengan baik dan benar, untuk itu diperlukan latihan dan pembelajaran.

7) Kesiapan Kesiapan adalah kesediaan untuk merespon atau bereaksi, kesiapan sangat perlu untuk diperhatikan dalam proses belajar, karena jika mahasiswa telah memiliki kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.

c. Faktor kelelahan Faktor kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan kedalam dua macam yaitu: 1) Kelelahan jasmani Kelelahan jasmani akan tampak dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecendrungan untuk membaringkan tubuh. 2) Kelelahan rohani Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.

2. Faktor eksternal Hadis (2008) dalam buku Psikologi dalam Pendidikan menyatakan bahwa Faktor-faktor ekstern yang bersumber dari luar diri peserta didik yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran di kelas, ialah faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat. Peserta didik yang hidup di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat yang mendukung aktivitas belajar anak akan cenderung memiliki prestasi belajar yang baik jika dibandingkan dengan peserta didik yang hidup di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat yang tidak mendukung aktivitas belajar anak. (hlm. 65) a. Faktor keluarga Hasbullah (1996) mengemukakan bahwa, Tugas utama keluarga dalam pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pendangan hidup keagamaan. Sifat dan tabi’at anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga lain. (hlm. 89) Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

12

1) Cara orang tua mendidik dan Relasi antar anggota keluarga. Bimbingan dan penyuluhan yang diberikan di dalam lingkungan keluarga memegang peranan penting dalam perkembangan belajar seorang mahasiswa, karena keluarga merupakan tempat pertama bagi mahasiswa itu untuk belajar. Tempat dimana ia tinggal yang akan mempengaruhi gaya hidup, gaya belajar mahasiswa tersebut. Orang tua yang kurang/ tidak memperhatikan pendidikan anaknya misalnya tidak mengatur waktu belajarnya, tidak menyediakan alat belajarnya, tidak mau tahu kemajuan dan kesulitan belajar anaknya dapat menyebabkan anak tidak/ kurang berhasil, mungkin anak sendiri mempunyai kepandaian tetapi karena kesukaran-kesukaran menumpuk sehingga menyebabkan anak tersebut banyak mengalami ketinggalan dalam belajar yang pada akhirnya dapat menyebabkan anak menjadi malas. Relasi yang terpenting dalam kehidupan keluarga adalah relasi orang tua dengan anaknya. Dalam proses kegiatan belajar dirumah, seorang anak akan membutuhkan bimbingan orang tua. Ketika anak sukar untuk belajar maka sangat dibutuhkan saling tukar pikiran. Dengan bertukar pikiran, anak akan mengutarakan pendapatnya tentang kesukaran yang dialami dan orang tua dapat memberikan motivasi sesuai yang dibutuhkan. 2) Suasana rumah Suasana rumah dimaksudkan sebagai situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga dimana seorang anak tinggal dan belajar, dalam belajar seorang anak sangat memerlukan ketenangan dan ketentraman untuk belajar. 3) Keadaan ekonomi keluarga Keadaan ekonomi keluarga akan sangat mempengaruhi konsentrasi seorang anak untuk belajar, jika seorang anak hidup dalam keluarga yang kurang mampu akan mengakibatkan beberapa kebutuhan seorang anak tidak terpenuhi, dan akan mengakibatkan anak tersebut terganggu konsentrasinya dalam belajar. 4) Pengertian orang tua Dalam belajar seorang anak sangat memerlukan dorongan dari orang tua, apabila ketika sedang belajar anak diganggu dengan pekerjaan rumah maka akan menimbulkan gangguan untuk belajar. 5) Latar belakang kebudayaan Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

13

Tingkat kebudayaan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap seorang anak dalam belajar, agar anak memiliki semangat dalam belajar harus ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik.

b. Faktor Perguruan Tinggi 1) Metode mengajar Metode mengajar adalah suatu cara/ jalan yang harus dilalui di dalam mengajar, metode mengajar dosen yang kurang baik akan mempengaruhi belajar mahasiswa yang kurang baik pula. Agar mahasiswa dapat belajar dengan baik maka metode mengajar harus diusahakan dengan tepat, efisien dan efektif sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. 2) Kurikulum Kurikulum diartikan sebagai jumlah kegiatan yang diberikan kepada mahasiswa, kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar mahasiswa menerima, menguasai dan mengambangkan bahan pelajaran itu. Seperti yang diungkapkan Slameto (2003, hlm. 93), Kurikulum yang baik dan seimbang. Kurikulum sekolah yang memenuhi tuntutan masyarakat dikatakan kurikulum itu baik dan seimbang. Kurikulum ini juga harus mampu mengembangkan segala segi kepribadian siswa. Disamping kebutuhan siswa sebagai anggota masyarakat. Maka jelas, bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar mahasiswa. Bahan pelajaran haruslah sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Apabila kurikulum tersebut kurang baik maka akan berpengaruh tidak baik terhadap belajar. 3) Relasi dosen dan mahasiswa Menurut Ladjid (2005, hlm. 114), “Dalam komponen-komponen yang berpengaruh terhadap hasil belajar, komponen guru lebih menentukan karena ia akan mengelola komponen lainnya sehingga dapat meningkatkan hasil proses belajar mengajar”. Guru di perguruan tinggi dikenal dengan sebutan dosen, dimana proses belajar mengajar terjadi antara dosen dan mahasiswa. Relasi antara dosen dan mahasiswa haruslah terjalin dengan baik, dengan tidak adanya konflik Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

14

dan kesenjangan agar materi yang disampaikan dapat terserap dengan baik dan cara belajar mahasiswa sangat dipengaruhi oleh relasi tersebut. 4) Relasi mahasiswa dengan mahasiswa Kebanyakan mahasiswa akan tidak nyaman berada didalam kelas dikarenakan kurangnya interaksi sosial antar mahasiswa lain. Sosialisasi dalam belajar khususnya saat memasuki lingkungan sosial baru di bangku pendidikan amatlah penting. Jika dalam proses belajar mahasiswa kurang dapat bersosialisasi dengan baik akan menyebabkan mahasiswa tersebut diasingkan dalam kelompok tersebut dan hal ini dapat menyebabkan timbulnya keadaan yang kurang harmonis dalam kegiatan belajar mengajar. 5) Disiplin kampus Kedisiplinan kampus erat hubungannya dengan kerajinan mahasiswa dalam kampus dan dalam belajar, kedisiplinan kampus mencakup kedisiplinan seorang dosen dalam mengajar dengan melaksanakan tata tertib sesuai pedoman akademik UPI. 6) Alat pelajaran Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar, karena alat pelajaran yang dipakai oleh seorang dosen pada waktu mengajar dipakai pula oleh seorang mahasiswa untuk menerima bahan yang diajarka. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada mahasiswa,

jika

seorang

mahasiswa

mudah

menerima

pelajaran

dan

menguasainya, maka belajarnya akan menajadi lebih giat dan lebih maju kearah yang lebih baik. 7) Keadaan kelas dan gedung Keadaan tempat belajar termasuk hal yang menentukan kenyamanan dalam belajar. Jumlah mahasiswa sudah sepatutnya disesuaikan dengan bentuk dan luas ruangan juga jumlah pengajar. Apabila hanya ada satu dosen dengan jumlah mahasiswa lebih dari 50, atau ada dua dosen dengan jumlah mahasiswa lebih dari 50 tetapi ruang belajar sempit maka dosen sulit menyampaikan materi pelajaran dan tentunya mahasiswa sulit menyerap pelajaran tersebut. Selain itu, ruang kelas/ ruang belajar perlu dijaga kebersihannya, karna ruang belajar yang kotor akan Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

15

mempengaruhi konsentrasi belajar mahasiswa, sesuai dengan pendapat Thontowi (1991) yang menyatakan bahwa Ruang kelas yang kotor, berdebu, dan kurang ventilasi dapat mengganggu kesehatan, terutama pernapasan sehingga proses belajar mengajar dapat mengalami gangguan. Demikian juga situasi dalam kelas yang bising, ribut, tidak memungkinkan tercapainya tujuan belajar yang diinginkan. (hlm. 1005) 8) Tugas rumah Waktu belajar utama adalah di kampus, tetapi apabila dilihat dari alokasi waktu yang dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar hanya sebentar maka pemberian tugas rumah merupakan alternatif yang cukup baik bagi seorang dosen dalam pemberian materi. Khususnya dalam belajar musik tentunya latihan rutin harus lebih banyak dilakukan di luar jam kuliah. Hal itu bertujuan agar materi dan praktik sesuai tersampaikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam proses belajar mengajar.

c. Faktor masyarakat 1) Kegiatan mahasiswa dalam masyarakat Kegiatan mahasiswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya, tetapi jika mahasiswa terlalu banyak mengikuti kegiatan berorganisasi dalam masyarakat, maka kegiatan belajarnya akan terganggu terlebih bila mahasiswa tersebut sulit dalam membagi waktu. 2) Media masa Menurut Ahmadi (1991) menyatakan bahwa faktor media masa meliputi, bioskop, surat kabar, majalah, radio, dan televisi. Hal-hal tersebut dapat menjadi peenghambat dalam belajar apabila terlalu banyak waktu yang digunakan untuk hal-hal tersebut, sehingga melupakan belajar. (hlm. 87) Oleh sebab itu, perlu kiranya kontrol yang cukup bijaksana dari orang tua maupun dari dalam diri sendiri. Karena terlalu sering menonton bioskop, mendengar radio, menonton televisi, membaca yang bukan termasuk buku pelajaran adalah mengganggu aktivitas belajar. 3) Teman bergaul Pengaruh dari teman di lingkungan masyarakat akan lebih cepat masuk kedalam jiwa seorang mahasiswa. Akan sangat baik bila teman sepergaulan Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

16

tersebut berkecimpung dibidang yang sama atau berkuliah di tempat yang sama. Namun apabila teman sepergaulan tersebut tidak mengenyam pendidikan atau pergaulannya tidak baik maka akan mempengaruhi perilaku mahasiswa. Perilaku yang tidak baik tentunya akan mengakibatkan proses belajar yang tidak baik pula. 4) Bentuk kehidupan masyarakat Masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang tidak terpelajar, dan mempunyai kebiasaan buruk akan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan mahasiswa yang berada dilingkungan tersebut. Karena biasanya mahasiswa akan lebih tertarik dengan apa yang dilakukan dan diperbuat di lingkungan tempat ia tinggal.

Dari penjelasan yang telah disampaikan diatas mengenai faktor-faktor penyebab kesulitan belajar secara umum, peneliti ingin menggambarkan kondisi internal maupun eksternal kesulitan belajar yang dihadapi mahasiswa musik UPI 2010 sebagai fokus penelitian dari mengapa mahasiswa musik UPI 2010 memiliki kesulitan belajar. Faktor-faktor diatas sangat memperngaruhi kesulitan belajar yang dialami mahasiswa musik UPI 2010. Oleh karena itu peneliti ingin menggambarkan kondisi internal maupun eksternal dari sebagian mahasiswa yang dianggap mengalami kesulitan belajar.

B. Proses Perkembangan Manusia Setiap

makhluk

hidup

yang

diciptakan

pasti

mengalami

peristiwa

perkembangan. Manusia merupakan makhluk hidup yang mengalami pristiwa perkembangan. Perkembangan manusia meliputi dimensi (cakupan dan ukuran) rohaniah dan jasmaniah yang tidak hanya tertuju pada aspek psikologis saja, tetapi juga aspek biologis. Mc Leod (1989) dalam buku Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru (Syah, 2004) mengemukakan bahwa Perkembangan (development) adalah proses atau tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju. Pertumbuhan sendiri (growth) berarti tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah, ukuran, dan arti pentingnya, pertumbuhan juga dapat berarti sebuah tahapan perkembangan (a stage of development). (Hlm. 41) Dalam kutipan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perkembangan ialah sebuah perubahan kearah yang lebih baik maupun lebih sempurna dalam Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

17

kehidupan. Perubahan tersebut dapat terlihat dari peningkatan jumlah dan ukuran maupun dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan lain lain. Setiap perkembangan manusia tentunya mengalami proses dari mulai fase bayi hingga fase setengah baya. Namun saat memasuki perguruan tinggi, mahasiswa umumnya berada pada fase remaja menuju fase dewasa awal. Dalam pembentukannya tentunya mengalami fase-fase yang mempengaruhi. a. Fase bayi dan kanak-kanak Secara kronologis (menurut urutan waktu), masa bayi (infancy atau babyhood) berlangsung sejak seorang individu manusia dilahirkan dari rahim ibunya sampai berusia sekitar setahun. Sedangkan masa kanak-kanak (early childhood) adalah masa perkembangan berikutnya, yakni dari usia setahun hingga usia antara lima atau enam tahun. Perkembangan biologis pada masa-masa ini berjalan pesat, tetapi secara sosiologis ia masih sangat terikat oleh lingkungan keluarganya. b. Fase anak-anak Masa anak-anak (late childhood) berlangsung antara usia 6 sampai 12 tahun dengan ciri-ciri utama sebagai berikut: 1) memiliki dorongan untuk keluar dari rumah dan memasuki kelompok sebaya (peer group); 2) keadaan fisik yang memungkinkan/ mendorong anak memasuki dunia permainan dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan jasmani; 3) memiliki dorongan mental untuk memasuki dunia konsep, logika, simbol, dan komunikasi yang luas. c. Fase remaja Masa remaja (adolescence) menurut sebagian ahli psikologi terdiri atas sub-sub masa perkembangan sebagai berikut: 1) subperkembangan prepuber selama kurang lebih dua setengah sampai tiga setengah tahun; 2) subperkembangan puber selama dua setengah sampai tiga setengah tahun; 3) subperkembangan post-puber, yakni saat perkembangan biologis sudah lambat tapi masih terus berlangsung pada bagian-bagian organ tertentu. Saat ini merupakan akhir masa puber yang mulai menampakkan tanda-tanda kedewasaan. Proses perkembangan pada masa remaja lazimnya berlangsung selama kurang lebih 11 tahun, mulai usia 12-21 tahun pada wanita dan 13-22 tahun pada pria. Masa perkembangan remaja yang panjang ini dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran dan persoalan, bukan saja bagi si remaja sendiri melainkan juga bagi Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

18

para orangtua, guru, dan masyarakat sekitar. Bahkan tak jarang para penegak hukum pun turut direpotkan oleh ulah dan tindak tanduknya yang dipandang menyimpang. d. Fase dewasa Masa dewasa awal (early adulthood) ialah fase perkembangan saat seorang remaja mulai memasuki masa dewasa, yakni usia 21-40 tahun. Sebelum memasuki masa ini seorang remaja terlebih dahulu berada pada tahap ambang dewasa (late adolescence) atau masa remaja akhir yang lazimnya berlangsung 21 atau 22 tahun. Namun, menurut pengamatan para ahli pada masa post-puber proses perkembangan organ-organ jasmaniah tertentu, meskipun sudah sangat lamban, masih terus berlangsung hingga kira-kira usia 24 tahun. Sesuai dengan pendapat Mangunhardjana (1986) “kaum muda adalah para muda-mudi yang berumur 15-21 tahun. Kaum muda adalah mereka yang oleh ilmu psikologi disebut remaja, adolescens, yang mencakup para muda-mudi dalam usia Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA), serta dalam umur studi di Perguruan Tinggi (PT) semester I-IV”. (hlm. 12) Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kebanyakan mahasiswa angkatan 2010 yang memasuki jenjang perkuliahan dimulai pada usia 18-20 tahun dan menjalani perkuliahan hingga usia maksimal 25-27 tahun. Menunjukan bahwa mahasiswa berada di fase remaja menuju fase dewasa awal atau tergolong kaum muda. Dimana masa remaja atau kaum muda dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran dan persoalan, baik bagi dirinya maupun orang lain. Syah (2004) mengemukakan bahwa ... individu remaja sedang berada dipersimpangan jalan antara dunia anak-anak dan dunia dewasa. Sehubungan dengan ini, hampir dapat dipastikan bahwa segala sesuatu yang sedang mengalami atau dalam keadaan transisi (masa peralihan) dari suatu keadaan ke keadaan lainnya selalu menimbulkan gejolak, goncangan, dan benturan yang kadang-kadang berakibat sangat buruk bahkan fatal (mematikan). (hlm. 52) Dari kutipan diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa mahasiswa angkatan 2010 berada dalam keadaan transisi (masa peralihan) dari fase remaja menuju dewasa awal. Dimana pada fase tersebut apabila tidak berjalan dengan Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

19

baik akan mengalami keadaan yang buruk. Hal itu dapat terjadi pada mahasiswa yang memiliki kesulitan belajar dengan fase perkembangan yang tidak berjalan dengan baik maupun memiliki latar belakang yang tidak baik.

C. Kondisi Fase Remaja Menuju Fase Dewasa Awal Pada mahasiswa angkatan 2010 yang baru memasuki jenjang perkuliahan tentunya akan menuju fase dewasa awal, dimana pada masa itu mahasiswa mengalami proses pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, emosional, sosial, moral, dan religius dengan segala permasalahannya. Proses perkembangan pada remaja atau kaum muda menurut Mangunhardjana (1986) ialah sebagai berikut: 1. Perkembangan Mental Perkembangan

mental

nampak

pada

gejala-gejala

perubahan

dalam

perkembangan intelektual, dalam cara berpikir. Dengan meninggalkan masa kanak-kanak, kaum muda juga meninggalkan cara berpikir seperti kanak-kanak dan mulai berpikir sebagai orang dewasa. 2. Perkembangan Emosional Perkembangan emosional kaum muda ada hubungannya dengan perkembangan fisik. Perkembangan nampak pada semangat mereka yang meletup-letup, perpindahan gejolak hati yang cepat, munculnya sikap-sikap masa bodoh, keras kepala dan tingkah laku yang tidak jarang hingar-bingar. 3. Perkembangan Sosial Perkembangan sosial kaum muda menyangkut perluasan jalinan hubungan dengan orang lain. Dengan lewatnya umur kanak-kanak dan berkat pertumbuhan fisik mereka, pergaulan kaum muda tidak terbatas lagi dengan orang-orang dalam lingkungan keluarga, tetapi meluas ke teman-teman sebaya, orang-orang di lingkungan tempat tinggal dan masyarakat luas. 4. Perkembangan Moral Perkembangan moral membawa kaum muda ke dalam tingkat hidup yang lain daripada masa sebelumnya. Pada masa kanak-kanak, bagi mereka hidup ini terasa sederhana. Ada hal yang jelas-jelas baik dan buruk. Ada tindakan yang jelas-jelas benar dan salah. Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

20

5. Perkembangan Religius Pada masa kanak-kanak kegiatan keagamaan dilakukan karena meneladan atau diperintah orang tua atau tokoh-tokoh yang mempunyai pengaruh atas diri mereka. Pada umur-umur menjelang dewasa, praktek ajaran bahkan yang Mutlak sendiri dipertanyakan.

D. Belajar Mengajar di Departemen Pendidikan Seni Musik Dalam proses pendidikan, kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang paling utama. Merupakan interaksi semua komponen atau unsur dalam kegiatan mengajar yang satu sama lain saling berhubungan dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk mencapai tujuan. Sesuai pendapat Usman (2001, hlm. 4) yang mengemukakan bahwa “Proses belajar mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian aktivitas guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu”. Dalam kegiatan belajar mengajar di Departemen Pendidikan Seni Musik UPI, tentunya berbeda dengan proses belajar saat masih duduk di bangku SMA dan berbeda pula dengan jurusan lain. Karena proses belajar mengajar di Departemen Pendidikan Seni Musik UPI harus seimbang antara teori dan praktik, juga antara musik tradisional dan modern, selain itu di UPI perlu menjalani perkuliahan untuk pendidikan guru. Mata kuliah yang harus di kontrak dan dijalani ialah sebanyak 146 sks, dengan komponen sebagai berikut: 1. MKU dengan jumlah sks sebanyak 14 sks yang terdiri dari pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan bahasa indonesia, Pendidikan Lingkungan Sosial, Budaya, dan Teknologi (PLSBT), seminar pendidikan agama, pendidikan jasmani dan olahraga, dan Kuliah Kerja Nyata (KKN). 2. MKP dengan jumlah sks sebanyak 18 sks yang terdiri dari: a. MKDP untuk pendidikan guru yang meliputi landasan pendidikan, perkembangan peserta didika, bimbingan dan konseling, kurikulum dan pembelajaran, dan pengelolaan pendidikan. b. MKKP Seni Musik (Teoritik) untuk kependidikan guru yang meliputi belajar dan pembelajaran musik, evaliasi pembelajaran musik, perencanaan Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

21

pembelajaran musik, media pembelajaran musik, dan metode penelitian pendidikan musik. c. MKLP yaitu Program Latihan Profesi (PLP) 3. MKK Seni Musik yang meliputi TDM I, TDM II, vokal I, vokal II, piano I, piano II, kewirausahaan, kawih, paduan suara, tembang, akustik, sejarah dan analisis musik indonesia I, sejarah dan analisis musik indonesia II, sejarah dan analisis musik barat I, sejarah dan analisis musik barat II, ensambel I, angklung, komposisi I, komposisi II, direksi I, direksi II, gamelan jawa, gamelan bali, gamelan pelog salendro I-IV, gamelan degung I, gamelan degung II, harmoni I, harmoni II, aransemen, manajemen pertunjukan, apresiasi musik, apresiasi bahasa dan seni, pengantar statistika, dan instrumen pilihan wajib I-V. Agar kegiatan belajar mengajar musik dapat berlangsung sesuai karakteristik yang diharapkan, haruslah memperhatikan dan menerapkan prinsip khusus dalam kegiatan belajar mengajar musik. Jamalus dan Busroh (1992, hlm. 112-120) mengemukakan, “dalam proses belajar mengajar seni musik pada pendidikan dasar ada beberapa komponen yang harus diperhatikan, yaitu: tujuan pengajaran, materi dan bahan pengajaran, dan metode pengajaran”. Terkait dengan apa yg telah disampaikan, tujuan pengajaran musik pada pendidikan dasar hendaknya dirumuskan sesuai dengan tujuan yang tertera dalam kurikulum yang berlaku dan tujuan umum pendidikan yang di cita-citakan, yaitu pembentukan pribadi mahasiswa dalam rangka pembentukan manusia seutuhnya. Program studi Departemen Pendidikan Seni Musik FPSD yang dulunya jurusan Sendratasik FPBS UPI merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang berorientasi pada dua budaya, yaitu budaya musik Barat dan musik Indonesia. Didalam kurikulum tercermin beberapa kompetensi yang diharapkan: 1. Penguasaan budaya musik Barat baik teori maupun praktek alat musik termasuk konsep pelaksanaan dalam proses belajar mengajar. 2. Peran budaya musik Indonesia baik dari daerah setempat maupun dari daerah lain lebih ditingkatkan. 3. Pengembangan konsep proses belajar mengajar baik dalam pendekatan kausal, Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

22

aplikasi bahan pelajaran serta peningkatan simulasi mengajar. Konsep ini pula disampaikan diluar Program Studi Pendidikan Seni Musik seperti pada Mata Kuliah Umum (MKU).

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dalam pelaksanaan pembelajarannya dosen dapat melakukan interprestasi terhadap kurikulum dan GBPP Pendidikan Seni Musik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mahasiswa.

E. Karakteristik Mahasiswa dalam Proses Belajar Mengajar Di dunia pendidikan, peserta didik atau mahasiswa adalah subjek yang akan menerima dan mewarisi misi dan tujuan pendidikan melalui kegiatan belajar mengajar. Di jenjang perkuliaahan, mahasiswa mengalami masa transisi. Berbeda dengan saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat, Mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri, kreatif dan memiliki wawasan yang jauh lebih luas. Dalam mengikuti semua perkuliahan tersebut dan dengan latar belakang mahasiswa yang beraneka ragam tentu proses dan hasil belajar pun berbeda-beda. Pada awal masuk perkuliahan, setiap mahasiswa memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik latar belakang intrinsik maupun dikarenakan penerimaan mahasiswa baru UPI yang dilaksanakan melalui 2 (dua) jalur, yaitu Jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang bersifat nasional dan jalur Non SNMPTN yang dilaksanakan langsung oleh UPI. Perbedaan latar belakang pada mahasiswa pula dipengaruhi oleh banyak hal. Seperti mahasiswa yang bersekolah di Sekolah Menengah yang berbasis musik berbeda dengan mahasiswa yang sebelumnya bersekolah di SMA biasa dan mahasiswa yang mempelajari musik secara otodidak dengan mahasiswa yang sebelumnya mengikuti les musik juga memiliki perbedaan. Dari latar belakang yang berbeda tersebut akan terlihat pula perbedaan bakat dan potensi yang dimiliki masing masing mahasiswa. Tapi tentunya hampir semua mahasiswa memiliki minat yang sama untuk mengembangkan bakat dan potensi di bidang seni khususnya seni musik. Meskipun begitu, seluruh mahasiswa dituntut dapat Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

23

mengikuti semua perkuliahan dengan baik tanpa melihat perbedaan latar belakang tersebut, tentunya sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Mahasiswa pada tentunya mengalami transisi (masa peralihan), berawal dari siswa kemudian menuju kearah kedewasaan dengan status mahassiswa, sudah seharusnya dapat beradaptasi dijenjang Perguruan Tinggi sesuai dengan peran dan jabatan yang disandang sebagai mahasiswa. Sudjana (1995, hlm. 28) mengemukakan, “Apabila kita berbicara tentang belajar, maka kita berbicara bagaimana mengubah tingkah laku seseorang”. Sejalan dengan itu, Usman (2001, hlm. 5) belajar diartikan sebagai “proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya”. Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa selaku peserta didik diharapkan mengubah tingkah laku dan kebiasaan menjadi lebih baik, karena dunia pendidikan dijenjang perkuliahan adalah transisi masa remaja ke arah kedewasaan. Selain perubahan tingkah laku dan kebiasaan pada mahasiswa, perubahan ke arah positif lainnya pun sangat diharapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Berkaitan dengan hal itu, Sardiman (2001) mengemukakan bahwa ... Usaha mengubah tingkah laku. Jadi belajar akan membentuk suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi membentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Jelasnya menyangkut segala aspek organisme dan tingkah laku pribadi seseorang”. (hlm. 21) Berdasarkan peendapat Sadirman, maka seseorang atau individu yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik perubahan dalam bertambahnya ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap maupun perubahan lain yang ada pada diri individu yang belajar haruslah bersifat positif.

F. Kedudukan Dosen dalam Proses Belajar Mengajar Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan. Dijenjang perkuliahan pengajar atau biasa disebut dosen, ialah sebagai pemegang peranan utama. Sebagai pemegang peran utama, maka efektifitas dan efisiensi keberlangsungan dari kegiatan belajar mengajar Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

24

ditentukan oleh dosen yang aka n mengajar. Dosen berperan penting dalam keberlangsungannya kegiatan belajar mengajar yang efisien dan efektif. Salah satu tanda bahwa kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan efisien dan efektif, jika dalam kegiatan belajar mengajar itu terjadi suatu interaksi. Menurut pendapat Usman (2001, hlm. 4). “Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar”. Dalam perkuliahan, interaksi belajar mengajar dilakukan oleh dosen sebagai pengajar dan mahasiswa sebagai peserta didik. Interaksi dalam kegiatan belajar mengajar yang diharapkan dapat terwujud adalah interaksi yang bersifat dan mengandung makna edukatif. Menurut Djamarah dan Zain (2002, hlm. 10), “Secara khusus dalam proses belajar mengajar dosen berperan sebagai pengajar, pembimbing, administrator dan lain-lain”. Untuk itu wajar bila seorang pengajar harus memahami sepenuhnya segenap aspek pribadi anak didik, terutama dosen pembimbing akademik yang berperan sebagai orang terdekat di lingkungan perkuliahan atau kampus. Selaku dosen pembimbing akademik, sangat diperlukan memiliki kedekatan dan interaksi sosial yang baik agar dosen pembimbing akademik mengetahui aspek pribadi dari mahasiswanya. Aspek pribadi dari anak didik yang perlu diperhatikan oleh pengajar ialah: a. Kecerdasan dan bakat khusus; b. Prestasi sejak permulaan kuliah; c. Perkembangan jasmani dan kesehatannya; d. Kecendrungan emosi dan karakternya; e. Sikap dan minat belajar; f. Cita-cita; g. Kebiasaan belajar dan bekerja; h. Hobi dan penggunaan waktu senggang; i. Hubungan sosial di kampus dan dirumah; j. Latar belakang keluarga; k. Lingkungan tempat tinggal; l. Sifat-sifat khusus dan kesulitan anak didik.

Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

25

Sesuai dengan isi dalam buku Pedoman Akademik UPI 2010 terkait tugas dosen pembimbing akademik terhadap mahasiswa: 1) Bimbingan Studi Bimbingan studi adalah segala kegiatan yang berfungsi membantu mahasiswa dalam penyelesaian studinya, antara lain: a) Perencanaan studi secara efektif dan efisien dari awal sampai selesai; b) Bimbingan dalam pengambilan rencana studi semester (kontrak kredit) pada setiap awal semester; c) Bimbingan dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi mahasiswa; d) Bimbingan dalam kegiatan-kegiatan lain yang dipandang perlu. 2) Monitoring dan Evaluasi Studi Mahasiswa Monitoring dan evaluasi studi mahasiswa dilakukan oleh Dosen Pembimbing akademik, Ketua Jurusan dan atau Ketua Prodi kepada mahasiswa terutama pada semester pertama. Dosen Pembimbing Akademik

wajib melaporkan dan memberikan

rekomendasi hasil monitoring dan evaluasi studi mahasiswa tersebut. Dosen Pembimbing Akademik dapat merekomendasikan mahasiswa tersebut melanjutkan perkuliahan di Jurusan/Prodi yang sama, pindah Jurusan/Prodi atau rekomendasi lain.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dosen pembimbing akademik perlu mengetahui latar belakang setiap mahasiswa yang dibimbingnya. Antara dosen pembimbing akademik dan mahasiswanya perlu dijalin komunikasi yang baik pula. Karena dosen pembimbing akademik seharusnya lebih peka terhadap permasalahan yang di hadapi mahasiswanya. Apabila sudah terjalin komunikasi yang baik antara dosen pembimbing akademik dengan mahasiswa, maka apabila teridentifikasi mahasiswa tersebut memiliki kesulitan belajar, sedini mungkin dapat diminimalisir bahkan di cegah dengan pencarian solusi yang tepat.

Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

26

Linia Primanita Riyanti, 2015 STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2010 DI DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI MUSIK FPSD UPI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu